Jumat, 15 Oktober 2021

NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI USWATUN HASANAH

Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah
Assalamu`alaikum Wr. Wb

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ اَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدىْ وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْكَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ،  أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى خَاتَمِ اْلاَنْبِيَآءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ مُحَمَّدٍ وَّعَلى الِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Saudaraku sekalian jama'ah Jumat Rohimakumulloh...
Marilah kita memuji dan bersyukur kepada Alloh Swt, yang  telah memberikan nikmat dan karuniaNya. Rohmat salam semoga terlimpah kepada junjunan kita, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, sahabatnya dan segenap umat yang taat mengikuti ajaranya.

Muslim yang taat, wajib mengikuti uswatun hasanah (suri tauladan terbaik) yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW. Allah Swt berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah. (QS. Al-Ahzab :21)

Saudaraku sekalian jama'ah Jumat Rohimakumulloh..
Diantara uswatun hasanah (suri tauladan terbaik) Nabi Muhammad SAW. yang di contohkannya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:

Pertama, ramah dalam pergaulan;  Beliau sangat ramah terhadap siapa pun,  berbicara sangat serius mendengarkannya, biarpun orang itu lemah dan miskin, tetap menghormatinya tanpa merendahkan sedikitpun, tidak banyak berbiacara, mencela dan tidak pernah memotong pembicaraan seseorang kecuali ia berbicara kebatilan. 
Firman Alloh Swt

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Sungguh, kamu (Muhammad) mempunyai akhlak yang agung” (QS Al-Qalam : 4)

Kedua, rendah hati dalam bermasyarakat; Nabi Muhammad memiliki posisi tinggi di sisi Allah dan manusia, akan tetapi beliau tidak mengagungkan dirinya, malah merendahkan diri tanpa harus merasa terhina. Perendahan diri yang disenangi oleh sahabat-sahabatnya, sebagaimana mereka cinta pada keluarga dan putra-putranya. Beliau memperlakukan masyarakat dengan santun dan menghormarinya. Sabda Rosululloh SAW

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {مَنْ تَوَاضَعَ لِلهِ رَفَعَهُ اللهُ وَمَنْ تَكَّبَرَ وَضَعَهُ اللهُ}.

Nabi SAW bersabda, “Siapa yang tawadhu’ (rendah hati) karena Allah, maka Allah akan mengangkat (derajat) nya (di dunia dan akhirat), dan siapa yang sombong maka Allah akan merendahkannya.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Ibnu Mandah dan imam Abu Nu’aim dari sahabat Aus bin Khauli ra.
Sabda Rosululloh SAW

كُلُوا وَتَصَدَّقُوا وَالْبَسُوا فِي غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلاَ مَخِيلَةٍ
 
“Makanlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah, dengan tidak berlebihan dan tidak angkuh.” (HR.an-Nasa'i, Ibnu Majah dan Ahmad).

Ketiga, senang bermusyawarah; Nabi Muhammad SAW selalu mengajak para sahabatnya untuk bermusyawarah dalam memutuskan suatu masalah. Apabila para sahabatnya telah memberikan pertimbangan kepadanya, maka beliau mengambil pendapat yang dinilainya paling tepat, sambil memuji kepada orang yang mengemukakan pendapat tersebut, sebagai dorongan agar dia lebih bersemangat, juga sebagai bentuk penghargaan kepadanya. Sabda Rosululloh SAW

إِذَا اسْتَشَا أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيَسَرَّ عَلَيْهِ (ابن ماجه) 

Apabila salah seorang kamu meminta bermusyawarah dengan saudaranya, maka penuhilah. (HR. Ibnu Majah)

Keempat, uswatun hasanah dalam beribadah
Nabi Muhammad SAW adalah sosok manusia paling sempurna (insan kamil), selalu menjaga kewajibannya sebagai hamba Allah, yaitu beribadah kepada Allah Swt. Meskipun beliau sudah dijamin oleh Allah Swt masuk surga, beliau tetap beribadah kepada Allah dengan sangat tekun. Dalam satu riwayat dari Aisyah ra disebutkan bahwa Melihat Nabi Muhammad SAW. demikian tekun melakukan shalat Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah! bukankah dosamu yang tedahulu dan yang akan datang telah diampuni Allah ? Nabi Muhammad SAW menjawab: aku ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur”. (HR Bukhari dan Muslim).

Nabi Muhammad SAW banyak berdzikir. Ia berkata: “Sesungguhnya saya meminta ampun kepada Allah dan taubah kepadaNya setiap hari 70 kali.” (HR Tabrani). 

Saudaraku sekalian jama'ah Jumat rohimakumulloh
Kelima, uswatun hasanah dalam berakhlak
Dalam diri Nabi Muhammad SAW terkumpul sifat utama, yaitu rendah hati, lembut, jujur, sabar, santun, tidak mabuk pujian dan tidak pernah berputus asa dalam usaha. Ketika Aisyah ditanya tentang akhlak Nabi Muhammad SAW, ia menjawab: “akhlaknya adalah Al-Qur’an” (HR Ahmad dan Muslim)..

Sejak masa muda, Nabi Muhammad SAW telah dikenal dengan kejujuran, amanat, kesabaran, ketegaran, dan kedermawanan. Dalam kesabaran dan kerendahan diri beliau dan dalam keagungan akhlak beliau tak tertandingi. Dalam memaafkan, beliau tidak ada bandingannya. Ketika mendapatkan gangguan dan cemoohan masyarakatnya, beliau hanya berkata “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui.” Beliau selalu mengharapkan kebaikan seluruh umat manusia, penyayang dan belas-kasih terhadap mereka.

Keenam, uswatun hasanah dalam mensyiarkan Islam
Sebagai seorang da’i (pendakwah), metode dakwah Nabi Muhammad SAW yaitu bersifat bijaksana, toleransi dan penyayang. 

Rahasia besar kesuksesanya dalam berdakwah adalah menyampaikan dakwah melalui amal perbuatan dan dengan cara yang hikmah, yaitu penyampaian dakwah secara bijaksana, penuh dengan kebaikan, kemudahan dan tidak menimbulkan permasalahan. Dakwahnya disampaikan dengan nasihat yang baik (Mau’idzah Hasanah), 

Sehingga dakwahnya menyentuh jiwa sesuai dengan pengetahuan para pendengarnya. Penyampaiannya disertai dengan pengamalan dan contoh dari Nabi Muhammad SAW.
Firman Alloh Swt

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ 

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.(QS.An-Nahl : 125)

Ketujuh, uswatun hasanah dalam kepemimpinan
Sebagai seorang pemimpin Nabi Muhammad SAW itu jujur, terpercaya, cerdas dalam menyelasaikan permasalahan, adil terhadap rakyatnya, pemberani dan penyayang.

Demikianlah semoga bermanfaat, mohon maaf atas segala kekurangannya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Rabu, 07 Juli 2021

KHUTBAH SINGKAT IDUL ADHA MASA PANDEMI DIRUMAH

KHUTBAH SINGKAT IDUL ADHA  PANDEMI CORONA



الحمد لله .....و
الله اكبر (٣) الله اكبر (٣)    الله اكبر (٣)  ولله الحمده حمدا كثيرا  طيبا مبا ر كا  فيه.    والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله واصحابه اجمعين امابعد....... فيا عبا دالله
اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وانتم مسلمون
قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ


Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(Al-Hasyr : 18).

Saudaraku dan keluargaku...
- Tujuan utama perintah berhaji,  adalah agar kita menjadi orang2 yg bertaqwa, dan ikhlas dalam beramal.
- Dalam kondisi apapun, senang maupun susah, lapang maupun sempit, kita wajib berusaha menjadi orang yg bertaqwa.
- Walaupun dalam kondisi karantina yg sudah berjalan 2 tahun ini mari kita terus meningkatkan ketaqwaan dan kesabaran.
- ketaqwaan dan kesabaran adalah merupakan modal utama   untuk menghadapi Pandemi saat ini.
- Taqwa adalah Istiqomah menjalankan perintah Alloh dan menjauhi Larangan-Nya.
- Alloh berjanji barangsiapa bertaqwa pasti akan diberikan solusi dan jalan keluar atas segala persoalan kehidupan, termasuk Pandemi Virus 19 ini.
- Kesabaran perlu kita pupuk, karena Ujian akan berakhir dengan kemulyaan jika diiringi dengan nilai2 kesabaan.
- Para kekasih Alloh yaitu para Nabi, dan Orang2 sholeh banyak menghadapi ujian berat, dengan kesabaran yg kuat ahirnya mereka mendapat kemuliaan disisi Alloh SWT.
- Misalnya :
- NABI IBROHIM AS, diperintahkan oleh Alloh SWT, untuk menyembelih anaknya sendiri yg masih lucu2nya Tapi karena perintah Alloh SWT beliau laksanakan, Dan anaknyapun iklhas, ahirnya Alloh Ganti kedukaan dengan kegembiraan mereka menjadi Hamba Alloh yg ikhlas Muhlisina lahuddin...
- NABI YUNUS AS dikarantina didalam perut ikan karena sabar ahirnya mendapati ummatnya bertobat.
- NABI YUSUF AS, dikarantina dipenjara oleh Fir'aun, karena sabar  ahirnya keluar dan menjadi perdana Mentri dikerajaan Fir'aun.
- Nabi Muhammad SAW, dikarantina diGua Hiro selama 40 hari karena sabar ahirnya diwahyukan surat Al-'Alaq  yg bisa membawa cahaya dan Rahmat bagi seluruh alam.
- Bercermin dari para kekasih Alloh tersebut, kita harus bersabar dan selalu memohon pertolongan dan Perlindungan Alloh SWT.

- Demikianlah Hutbah idul Adha ini 
Mudah2an kita mendapat ampunan dan kemuliaan dari Alloh SWT setelah Pandemi Covid 19 ini.

بر ك الله لى ولكم.......

DUDUK HUTBAH

lanjut khutbah 2 

الله اكبر (٣) الله اكبر (٣)  
اللهُ اكبَرْ  كبيْرًا والحَمدُ للهِ كثِيرًا وَسُبحَانَ اللهِ بُكرَةً واَصِيلا, لااله اِلااللهُ ولانعْبدُ الاإيّاه, مُخلِصِينَ لَه الدّ يْن, وَلَو كَرِهَ الكَا فِرُون, وَلَو كرِهَ المُنَافِقوْن, وَلَوكرِهَ المُشْرِكوْن, لاالهَ اِلا اللهَ وَحدَه, صَدَق ُوَعْدَه, وَنَصَرَ عبْدَه, وَأعَزّجُندَهُ وَهَزَمَ الاحْزَابَ وَاحْدَه, لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اكبَرُ الله اكبَرُ  وَِللهِ الحَمد

الحمد لله رب العامين     والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله واصحابه اجمعين اما بعد
فيا ايهاالناس 
اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وانتم مسلمون

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمً

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

dan seterusnya lanjut doa memohon wabah covid 19 agar tidak menyerang kita dan keluarga, memohon supaya keluarga kita dikuatkan fisiknya sehingga tidak terserang wabah...

ditutup....salam



Senin, 21 Juni 2021

KEISTIMEWAAN ORANG MUKMIN YANG SAKIT

KEISTIMEWAAN ORANG MUKMIN YANG SAKIT 
==============================
Tidak selamanya orang diberi kesehatan oleh Allah subhânahu wa ta’ala, Orang paling taat atau bahkan Baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam pun pernah merasakan sakit. Setiap orang, entah berkelakuan baik ataupun buruk, akan menyandang sehat dan sakit. 

Tentu saja sakitnya orang yang beriman tidak sama dengan orang yang tidak beriman kepada Allah subhânahu wa ta’ala. 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bâhiliy, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:  

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ أَوْحَى اللَّهُ إِلَى مَلَكِهِ أَنِ اكْتُبْ لِعَبْدِي أَجْرَ مَا كَانَ يَعْمَلُ فِي الصِّحَّةِ وَالرَّخَاءِ إِذْ شَغَلْتُهُ، فَيَكْتُبُ لَهُ 

Artinya: “Jika ada hamba beriman yang sakit, Allah memberikan wahyu kepada malaikat-Nya ‘tulislah untuk hambaku pahala sebagaimana pahala atas amal yang ia kerjakan saat sehat sejahtera ketika aku membuat dia sibuk.’ Lalu malaikat kemudian mencatatnya.” (At-Targhîb fî Fadlâilil A’mâl: 397).  

Di hadits lain dikisahkan, ketika ada orang mukmin sakit, sebelum ia menderita atas sakit yang datang menimpa, Allah sudah menyuruh empat malaikat terlebih dahulu mendatangi hamba yang akan sakit tersebut.  

Allah menugaskan satu malaikat untuk menyedot kekuatan tubuh seseorang sehingga ia berubah menjadi lemah. 

Malaikat kedua diperintah untuk menyedot perasaan lezat di mulut seseorang sehingga ia tiba-tiba menjadi tidak enak saat makan apa pun.  

Malaikat ketiga ditugaskan untuk mengambil cahaya wajah seseorang tersebut. Maka orang yang dicabut nur wajahnya, mukanya menjadi pucat pasi. 

Dan yang keempat, Allah mengutus malaikat yang satunya untuk mengambil dosa-dosa orang yang sakit sehingga ia tidak lagi memiliki dosa.  

Pada saat Allah menghendaki seorang hamba yang sakit tersebut untuk kembali sehat, Allah menyuruh ketiga malaikat mengembalikan hal-hal yang sebelumnya ia ambil. Hanya saja, Allah tidak mengutus malaikat yang mengambil dosa untuk mengembalikannya.  

Malaikat pengambil dosa kemudian bersujud seraya melapor kepada Allah. “Ya Allah, Engkau telah mengutus empat malaikat. 

Engkau suruh mereka untuk mengembalikan atas apa yang sebelumnya mereka ambil. Namun mengapa Engkau tidak menyuruh hamba-Mu ini untuk turut serta mengembalikan?” Allah subhanahu wa taala kemudian menjawab, “Atas kemurahan dan kemuliaan-Ku, Aku tidak mau mengembalikan dosa kepada ia setelah Aku membikin ia kepayahan.” “Terus apa yang harus kami lakukan, Ya Allah?” tanya malaikat. Allah lalu memerintahkan “Pergilah kamu dan buanglah dosa-dosa dia ke lautan.”  

Malaikat pun menjalankan perintah Allah. Dan kesalahan-kesalahan itu berubah wujud menjadi aligator. Andai saja orang tersebut meninggal dunia saat itu, ia akan keluar dari dunia tanpa dosa sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam: 

حمى يوم كفارة سنة 

Artinya: “Sakit sehari sama dengan melebur dosa setahun.” (HR Al Qadla’i, dalam Ihya’ Ulumuddin, juz 4, halaman 288). 

Wallahu a’lam. 

Kamis, 17 Juni 2021

PERBEDAAN IBADAH MAHDHAH DAN GHAIRU MAHDHAH

PERBEDAAN IBADAH MAHDHAH DAN GHAIRU MAHDHAH  
==============================



Jenis ibadah sejatinya terbagi menjadi berbagai macam pembagian yang variatif, tergantung dari aspek apa kita menilainya. Ada sebagian pandangan yang mengelompokkan ibadah berdasarkan bentuknya dalam dua kategori, yakni ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah.   Arti kata mahdhah sendiri adalah murni atau tak bercampur. Sedangkan ghairu mahdhah berarti tidak murni atau bercampur hal lain. Lantas sebenarnya apakah perbedaan di antara keduanya dalam tinjauan fiqih? Sudah benarkah pembagian ibadah dalam dua kategori tersebut? 

Dalam literatur kitab salaf, khususnya dalam mazhab syafi’i, pembagian ibadah dari aspek bolehnya diwakilkan pada orang lain atau tidak, terbagi menjadi tiga macam. 

Pertama, ibadah badaniyah mahdhah, maksudnya adalah ibadah yang murni berupa gerakan fisik, tanpa dicampuri dengan komponen lainnya, seperti shalat dan puasa. Maka jenis ibadah demikian, tidak boleh untuk diwakilkan pada orang lain kecuali dalam satu permasalahan, yakni shalat sunnah thawaf, yang boleh diwakilkan pada orang lain, atas jalan mengikut (tab’an) pada ibadah haji, yang boleh diwakilkan.   


Kedua, ibadah maliyah mahdhah. Maksudnya adalah Ibadah yang murni hanya menyangkut urusan harta, seperti sedekah dan zakat. Dalam ibadah jenis ini, para ulama menghukumi boleh mewakilkan pada orang lain dalam pelaksanaannya.  

Ketiga, ibadah maliyah ghairu mahdhah, maksudnya adalah Ibadah-ibadah yang terdapat kaitannya dengan harta, namun juga terkandung gerakan-gerakan fisik (badaniyah) di dalamnya.   
Contoh ibadah jenis ketiga ini seperti haji dan umrah, yang dalam pelaksanaannya membutuhkan biaya dan terdapat ketentuan-ketentuan khusus yang melibatkan gerakan fisik dalam melakukannya. 
Ibadah jenis ketiga ini boleh untuk diwakilkan, namun dengan syarat-syarat tertentu yang dijelaskan dalam literatur fiqih, seperti tidak mampu melaksanakan haji karena lumpuh, orang yang diwakili sudah pernah melakukan haji dan syarat-syarat lainnya. Maka ibadah jenis ketiga ini tidak seluas dan sebebas ibadah jenis kedua dalam hal bolehnya mewakilkan pada orang lain.   

Pembagian ibadah dalam tiga kelompok ini, tercantum dalam Kitab Hasyiyah ‘Ianatut Thalibin berikut:   

 والحاصل أن العبادة على ثلاثة أقسام إما أن تكون بدنية محضة فيمتنع التوكيل فيها إلا ركعتي الطواف تبعا وإما أن تكون مالية محضة فيجوز التوكيل فيها مطلقا وإما أن تكون مالية غير محضة كنسك فيجوز التوكيل فيها بالشرط المار   

Artinya, “Simpulannya, ibadah terbagi atas tiga macam, ada kalanya berupa ibadah badaniyah mahdhah, maka jenis ibadah demikian tidak bisa diwakilkan pada orang lain, kecuali shalat sunnah tawaf dengan cara mewakilkan pula pelaksanaan tawaf. 

Ada kalanya ibadah maliyah mahdhah, ibadah jenis ini boleh untuk diwakilkan pada orang lain secara mutlak. Ada kalanya ibadah maliyah ghairu mahdhah, seperti ibadah haji, maka ibadah jenis ini boleh untuk diwakilkan pada orang lain dengan syarat-syarat yang telah dijelaskan,” (Lihat Syekh Abu Bakar Muhammad Syatha, Hasyiyah ‘Ianatut Thalibin, juz III, halaman 87).   

Meski begitu, sebenarnya pembagian ibadah dalam tiga kategori di atas dapat dikerucutkan menjadi dua kategori yakni ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah adalah ibadah yang secara umum tidak dapat diwakilkan, dalam hal ini adalah ibadah badaniyah mahdhah. 

Adapun ibadah ghairu mahdhah adalah ibadah yang secara umum dapat diwakilkan oleh orang lain, yang meliputi ibadah maliyah mahdhah dan ibadah maliyah ghairu mahdhah.   

Ibnu Rusydi, Ulama kenamaan mazhab Maliki, memiliki sudut pandang lain dalam menilai ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Menurutnya, ibadah mahdhah adalah ibadah yang maksud penerapannya tidak dapat dijangkau oleh akal manusia, misalnya seperti shalat.   

Bagi Ibnu Rusyd, manusia tidak dapat memahami maksud di balik kewajiban melaksanakan ibadah shalat oleh syariat. Maka dari itu, pensyariatan shalat dimaksudkan murni untuk mendekatkan diri (qurbah) pada Allah subhanahu wa wa’ala. Selain dikenal dengan ibadah mahdhah, ibadah yang masuk dalam kategori ini dikenal pula dengan nama ta’abbudi. Ibadah mahdhah ini, menurut Ibnu Rusydi pasti membutuhkan niat dalam pelaksanaannya.   

Sedangkan ibadah ghairu mahdhah, adalah ibadah yang maksud penerapannya dapat dijangkau oleh akal. Seperti mensucikan sesuatu yang terkena najis sebelum melaksanakan ibadah shalat, tujuan diwajibkannya hal tersebut dapat dijangkau oleh akal manusia. Sebab menghadap pada manusia saja alangkah baiknya jika berada dalam kondisi yang bersih dan suci tubuh dan pakaiannya, termasuk dari kotoran najis. 

Terlebih ketika menghadap pada Allah SWT saat melaksanakan ibadah shalat. Ibadah jenis ini juga dikenal dengan sebutan ta’aqquli atau ma’qulatul ma’na.   Ibadah ghairu mahdhah ini, tidak membutuhkan niat dalam pelaksanaanya, cukup dilakukan sesuai dengan ketentuan yang telah digariskan oleh syariat.   

Selain dua pembagian di atas, Ibnu Rusydi juga menyelipkan satu jenis ibadah lain, yakni ibadah yang memiliki keserupaan dengan ibadah mahdhah dan Ibadah ghairu mahdhah. Ibadah yang termasuk dari kategori ini adalah wudhu. 
Dalam wudhu terdapat keserupaan apakah lebih dominan nilai ibadah saja sehingga termasuk ibadah mahdhah atau justru dalam wudhu lebih dominan nilai membersihkan sebagian anggota tubuh, sehingga termasuk ibadah ghairu mahdhah.  

Karena keserupaan inilah, menurut Ibnu Rusyd, ulama madzahibul arba’ah berbeda pendapat terkait wajibnya melakukan niat dalam melaksanakan wudhu.   Pandangan Ibnu Rusyd di atas dijelaskan dalam salah satu karyanya, Bidayatul Mujtahid:  

 وسبب اختلافهم تردد الوضوء بين أن يكون عبادة محضة: أعني غير معقولة المعنى وإنما يقصد بها القربة له فقط كالصلاة وغيرها وبين أن يكون عبادة معقولة المعنى كغسل النجاسة فإنهم لا يختلفون أن العبادة المحضة مفتقرة إلى النية والعبادة المفهومة المعنى غير مفتقرة إلى النية والوضوء فيه شبه من العبادتين ولذلك وقع الخلاف فيه وذلك أنه يجمع عبادة ونظافة والفقه أن ينظر بأيهما هو أقوى شبها فيلحق به   

Artinya, “Sebab perbedaan para ulama (Perihal niat dalam wudhu) adalah terkait kebimbangan menstatuskan wudhu sebagai ibadah mahdhah, yakni ibadah yang tidak dijangkau maksudnya oleh akal. Ibadah mahdhah ini hanya ditujukan untuk mendekatkan diri pada Allah, seperti shalat dan ibadah lainnya. Atau distatuskan sebagai ibadah ma’qulatul ma’na (Ibadah yang dapat dijangkau akal maksud pensyariatannya) seperti menghilangkan najis.   Mereka (para ulama) tidak berbeda pendapat bahwa ibadah mahdhah ini butuh terhadap niat dan Ibadah yang al-mafhumatul ma’na tidak butuh terhadap niat. 

Sedangkan wudhu terdapat keserupaan diantara dua jenis ibadah tersebut. Atas dasar inilah ulama’ berbeda pendapat dalam hal wajib tidaknya niat dalam wudhu. Hal ini dikarenakan di dalam wudhu sejatinya terkumpul makna ibadah dan makna membersihkan (tubuh), sedangkan fiqih lebih memandang makna mana yang lebih kuat di antara keduanya, lalu wudhu disamakan dengan makna tersebut,” (Lihat Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, juz I, halaman 8).   

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam menjelaskan perbedaan ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah, sebagian ulama (Syafi’iyah) mengarahkan pada bentuk pelaksanaan ibadahnya. Jika bentuk ibadah hubungannya hanya dengan gerakan tubuh tanpa ada kaitannya dengan harta benda, maka disebut ibadah mahdhah. Jika terdapat kaitannya dengan harta benda maka disebut ibadah ghairu mahdhah.   

Adapun Ibnu Rusyd lebih mengarahkan perbedaan antara ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah pada aspek dapat dijangkau oleh akal atau tidak maksud pensyariatan suatu ibadah. Jika tidak dapat dijangkau oleh akal, maka disebut ibadah mahdhah. Sedangkan jika dapat dijangkau oleh akal, maka disebut ibadah ghairu mahdhah. 

Wallahu a’lam


Sabtu, 22 Mei 2021

DOA MOHON DIAMPUNI DARI DOSA DAN PERMOHONAN DIKABULKAN

DOA MOHON DIAMPUNI DARI DOSA DAN PERMOHONAN DIKABULKAN

==============================

Sejumlah doa memiliki keistimewaan tersendiri. Salah satunya adalah doa yang dapat menjadi pembuka atas pengabulan doa-doa lain yang diharapkan oleh seorang hamba-Nya. Berikut ini adalah doa salah seorang sahabat yang diakui sebagai doa pembuka yang baik oleh Rasulullah SAW.

Sabtu, 15 Mei 2021

PERINTAH, HUKUM, DZIKIR TAKBIR SETELAH SHOLAT FARDHU DI HARI RAYA

PERINTAH,HUKUM, DZIKIR TAKBIR SETELAH SHOLAT FARDHU DI HARI RAYA  
=============================
Pada dasarnya membaca takbir adalah sebagian dari dzikir. Karena dengan bertakbir itu seseorang akan ingat kepada keagungan Allah Sang Pencipta. 

Oleh karena itu tidak ada larangan dalam bertakbir selama masih dalam batas kewajaran.   

akan tetapi sesuai petunjuk aturan pembacaan takbir, pembacaan takbir itu  terbagi dua macam takbir : 1.MURSAL dan 
2. TAKBIR MUQAYYAD. 

1. TAKBIR MURSAL adalah pembacaan takbir yang tidak terikat waktu, karena dianjurkan sepanjang malam, Seperti takbir di malam Idul Fitri dan Idul Adha, takbir ini dibaca sepanjang malam hari raya..

2. TAKBIR MUQAYYAD adalah takbiran yang terbatas pada waktu, seperti pembacaan takbir setiap selesai shalat lima waktu selama hari raya Idul Adha dan hari tasyrik, 11.12 dan 13 Dzulhijjah, sedangkan untuk Hari raya idul fitri para Ulama dan kebiasaan Ummat Islam khususnya Ahlussunnah waljama'ah dzikir takbir setelah sholat fardhu dilaksanakan pada tgl 30 Ramadhan waktu ashar sampai dengan 1 syawal waktu ashar, setelah itu dzikir sholat biasa, hal ini karena Bulan syawal tidak terdapat hari Tasrik, hari tasrik adanya dibulan Dzulhijjah.

Anjuran pembacaan takbir ini berlandaskan pada Surat al-Baqarah ayat 185:  

 وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ    

"Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur."   Begitu juga anjuran Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam haditsnya yang berbunyi:  

 زينوا اعيادكم بالتكبير 

"Hiasilah hari raya kalian dengan memperbanyak membaca takbir." 

Anjuran memperbanyak takbir ini sepadan dengan imbalan yang dijanjikan karena sabda Rasulullah:  

 اكثروا من التكبير ليلة العيدين فانهم يهدم الذنوب هدما 

"Perbanyaklah membaca takbiran pada malam hari raya (fitri dan adha) karena hal dapat melebur dosa-dosa."   

Dari berbagai dalil di atas para faqih menghukumi pembacaan takbir sebagai sebuah kesunnahan. Sebagaimana yang ditrangkan dalam kitab Fathul Qarib: 

  ويكبر ندبا كل من ذكر وانثى وحاضر ومسافر فى المنازل والطرق والمساجد والاسواق من غروب ليلة العيد (اي عيد الفطر) الى ان يدخل الامام فى الصلاة 

"Disunnahkan membaca takbir bagi lagi-laki dan perempuan, di rumah maupun di perjalanan, di mana saja, di jalanan, di masjid juga di pasar-pasar mulai dari terbenarmnya matahari malam Idul Fitri hingga Imam melakukan shalat id." Adapun bacaan takbir secara lengkap adalah:

   اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِـيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ، لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ 

"Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan sebanyak-sebanyak puji, dan Maha suci Allah sepanjang pagi dan sore, tiada Tuhan(yang wajib disembah) kecuali Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya, dengan memurnikan agama Islam, meskipun orang-orang kafir, orang-orang munafiq, orang-orang musyrik membencinya. 

Tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dengan keesaan-Nya, Dia dzat yang menepati janji, dzat yang menolong hamba-Nya dan memuliakan bala tentaraNya dan menyiksa musuh dengan keesaan-Nya. 

tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan segala puji hanya untuk Allah."   Namun sering juga pembacaan takbir secara singkat dan lebih umum.   

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ   

Waallohua'lam 

Jumat, 14 Mei 2021

MEMETIK HIKMAH DARI KISAH ABU BIN HASYIM

MEMETIK HIKMAH DARI KISAH ABU BIN HASYIM
==============================
Pengalaman adalah guru sekaligus pengingat terbaik dalam hidup. Pengalaman adalah ilmu yang tidak sekadar teori. Tapi realita dari sebuah peristiwa yang terjadi dalam perjalanan hidup kita.

orang yg berpengalaman adalah orang yg mampu mengamalkan pengalamannya disampaikan kepada orang lain untuk diambil suatu manfaat bagi kehidupan.

Puasa sesungguhnya adalah pengalaman ril dalam membangun solidarity’s dan rasa simpati kepada mereka yang terpaksa atau dipaksa untuk mengalami pahit getirnya hidup ini.

Salah satunya adalah kemiskinan yang masih menghimpit sebagian saudara-saudara sesama manusia di sekitar kita.

Bayangkan suatu saat Anda bangun di pagi hari, dan dalam keadaan lapar anda tidak memiliki sesuap nasi atau segelas air bersih untuk sekedar diminum. Atau di malam hari anda terpaksa tidur di bawah langit, dalam keadaan basah kuyup kehujanan. Bagaimana perasaan ketika itu saat itu?

Kita yang mungkin berada di posisi yang menguntungkan (fortunate) belum merasakan itu. 

Walaupun tahu penderitaan orang lain, tapi karena belum merasakan,kita mungkin tidak membangun rasa simpati dan solidaritas itu. Apalagi bergerak untuk melakukan aksi agar Saudara kita itu bisa terlepas dari himpitan kesulitannya.

Puasa yang kita lakukan ini hendaknya melatih rasa kemanusiaan itu, dan menumbuhkan tenggang rasa atau solidaritas terhadap mereka yang kesulitan. 

Puasa yang tidak melahirkan rasa kasih dan tenggang rasa terhadap sesama boleh jadi puasa yang masih sebatas melakukan kewajiban. Tapi tidak membawa manfaat besar bagi kehidupan kemanusiaan kita. Puasa dan ibadah yang tidak membawa manfaat secara sosial ini boleh jadi juga tidak bernilai di sisi Allah Yang Maha Rahman.

Sebuah cerita disebutkan dalam kitab Mukasyafatul Qulub karya Al Imam Qhozali RAH, bahwa pada zaman dahulu ada seorang ahli ibadah bernama Abu bin Hasyim, yang hebat dalam melakukan salat tahajjud.

Bertahun-tahun syeikh itu tidak pernah meninggalkan salat tahajud maupun ibadah-ibadah lainnya. Konsisten dalam melakukannya dan sungguh-sungguh.

Hingga pada suatu malam ketika hendak mengambil air wudhu untuk salat malam atau tahajjud, beliau dikejutkan oleh kehadiran satu makhluk yang duduk di tepi sumurnya.

Beliau menegur dan bertanya, “Wahai hamba Allah, siapakah Engkau?” Sambil tersenyum, makhluk itu berkata; “Aku Malaikat utusan Allah".

Abu Bin Hasyim terkejut sekaligus bangga karena telah didatangi oleh malaikat yang mulia. Beliau lalu bertanya, “Apa yang sedang kamu lakukan di sini?”

Malaikat itu menjawab, “Aku disuruh mencari hamba pencinta Allah.” Melihat Malaikat itu memegang sebuah kitab tebal, beliau lalu bertanya: “Wahai Malaikat, buku apakah yang engkau bawa?”

Malaikat menjawab; “Di dalamnya terdapat kumpulan nama hamba-hamba pencinta Allah.”

Mendengar jawaban Malaikat itu, Abu bin Hasyim berharap dalam hati semogaa namanya ada dalam list nama-nama yang dicatat sebagai pecinta Allah itu.

Maka ditanyalah kepada Malaikat. “Wahai Malaikat, adakah namaku di situ ?” Sang Syeikh sangat yakin jika namanya namanya ada di dalam buku itu. Tentu karena amalan ibadahnya yang selama ini tidak putus-putus dalam mengerjakan solat tahajud setiap malam, berdoa dan juga bermunajat kepada Allah SWT di sepertiga malam, setiap hari.

“Baiklah, aku carikan namanya,” kata Malaikat sambil membuka kitab besarnya. Dan, ternyata sang Malaikat itu tidak menemukan nama Abu bin Hasyim di buku tersebut.

Tidak percaya, Syeikh meminta Malaikat mencari namanya sekali lagi. “Betul. Namamu tidak ada di dalam buku ini!” kata Malaikat.

Abu bin Hasyim pun gementar dan jatuh tersungkur di depan Malaikat, menangis sekerasnya. “Rugi sekali diriku yang selalu tegak berdiri di setiap malam dalam tahajud dan munajat, tetapi namaku tidak masuk dalam golongan para hamba pencinta Allah,” ratapnya.

Melihat itu, Malaikat berkata, “Wahai Abu bin Hasyim! Bukan aku tidak tahu engkau bangun setiap malam ketika yang lain tidur, engkau mengambil air wudhu dan menahan kedinginan ketika orang lain terlelap dalam kehangatan buaian malam. Tapi tanganku dilarang Allah menuliskan namamu.”

“Apakah gerangan penyebab sehingga engkau dilarang oleh Allah menuliskan namaku?” tanya Abu bin Hasyim.

Malaikat kemudian menatapnya dan berkata: “Engkau memang bermunajat kepada Allah, tapi engkau pamerkan dengan rasa bangga ke mana-mana.

Engkau asyik beribadah memikirkan diri sendiri. Sedang di kanan kirimu ada orang sakit, ada orang lapar, ada orang sedang sedih, tidak engkau tengok dan ziarahi. Mereka itu mungkin ibumu, mungkin adikmu, mungkin sahabatmu, malah mungkin juga cuma saudara seagama denganmu, atau mungkin cuma sekadar mereka menjadi tetanggamu. Tapi kenapa engkau tak peduli pada mereka, kenapa?

Bagaimana mungkin engkau dapat menjadi hamba pencinta Allah jika engkau sendiri tidak pernah mencintai hamba-hamba yang diciptakan Allah?” kata Malaikat itu.

Mendegar itu Abu bin Hasyim seperti disambar petir di siang hari. Dia tersadar kini jika ibadah manusia tidaklah hanya kepada Allah semata (hablumminAllah), tetapi juga kepada sesama manusia (hablumminannas) dan juga kepada alam. (Mukasyafatul Qulub Karya Imam Al Ghazali).

Intinya adalah bahwa puasa yang kita lakukan itu tidak saja mampu membangun relasi vertikal dengan Allah. Tapi juga mampu membangun rasa simpati dan solidaritas dengan sesama manusia, khususnya mereka yang belum beruntung (unfortunate) dan tidak berpunya (the have nots).

Al qhasas 77

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.


Waallohu'alam