orang yg berpengalaman adalah orang yg mampu mengamalkan pengalamannya disampaikan kepada orang lain untuk diambil suatu manfaat bagi kehidupan.
Puasa sesungguhnya adalah pengalaman ril dalam membangun solidarity’s dan rasa simpati kepada mereka yang terpaksa atau dipaksa untuk mengalami pahit getirnya hidup ini.
Kita yang mungkin berada di posisi yang menguntungkan (fortunate) belum merasakan itu.
Puasa yang kita lakukan ini hendaknya melatih rasa kemanusiaan itu, dan menumbuhkan tenggang rasa atau solidaritas terhadap mereka yang kesulitan.
Bertahun-tahun syeikh itu tidak pernah meninggalkan salat tahajud maupun ibadah-ibadah lainnya. Konsisten dalam melakukannya dan sungguh-sungguh.
Hingga pada suatu malam ketika hendak mengambil air wudhu untuk salat malam atau tahajjud, beliau dikejutkan oleh kehadiran satu makhluk yang duduk di tepi sumurnya.
Beliau menegur dan bertanya, “Wahai hamba Allah, siapakah Engkau?” Sambil tersenyum, makhluk itu berkata; “Aku Malaikat utusan Allah".
Abu Bin Hasyim terkejut sekaligus bangga karena telah didatangi oleh malaikat yang mulia. Beliau lalu bertanya, “Apa yang sedang kamu lakukan di sini?”
Malaikat itu menjawab, “Aku disuruh mencari hamba pencinta Allah.” Melihat Malaikat itu memegang sebuah kitab tebal, beliau lalu bertanya: “Wahai Malaikat, buku apakah yang engkau bawa?”
Malaikat menjawab; “Di dalamnya terdapat kumpulan nama hamba-hamba pencinta Allah.”
Mendengar jawaban Malaikat itu, Abu bin Hasyim berharap dalam hati semogaa namanya ada dalam list nama-nama yang dicatat sebagai pecinta Allah itu.
Maka ditanyalah kepada Malaikat. “Wahai Malaikat, adakah namaku di situ ?” Sang Syeikh sangat yakin jika namanya namanya ada di dalam buku itu. Tentu karena amalan ibadahnya yang selama ini tidak putus-putus dalam mengerjakan solat tahajud setiap malam, berdoa dan juga bermunajat kepada Allah SWT di sepertiga malam, setiap hari.
“Baiklah, aku carikan namanya,” kata Malaikat sambil membuka kitab besarnya. Dan, ternyata sang Malaikat itu tidak menemukan nama Abu bin Hasyim di buku tersebut.
Tidak percaya, Syeikh meminta Malaikat mencari namanya sekali lagi. “Betul. Namamu tidak ada di dalam buku ini!” kata Malaikat.
Abu bin Hasyim pun gementar dan jatuh tersungkur di depan Malaikat, menangis sekerasnya. “Rugi sekali diriku yang selalu tegak berdiri di setiap malam dalam tahajud dan munajat, tetapi namaku tidak masuk dalam golongan para hamba pencinta Allah,” ratapnya.
Melihat itu, Malaikat berkata, “Wahai Abu bin Hasyim! Bukan aku tidak tahu engkau bangun setiap malam ketika yang lain tidur, engkau mengambil air wudhu dan menahan kedinginan ketika orang lain terlelap dalam kehangatan buaian malam. Tapi tanganku dilarang Allah menuliskan namamu.”
“Apakah gerangan penyebab sehingga engkau dilarang oleh Allah menuliskan namaku?” tanya Abu bin Hasyim.
Malaikat kemudian menatapnya dan berkata: “Engkau memang bermunajat kepada Allah, tapi engkau pamerkan dengan rasa bangga ke mana-mana.
Engkau asyik beribadah memikirkan diri sendiri. Sedang di kanan kirimu ada orang sakit, ada orang lapar, ada orang sedang sedih, tidak engkau tengok dan ziarahi. Mereka itu mungkin ibumu, mungkin adikmu, mungkin sahabatmu, malah mungkin juga cuma saudara seagama denganmu, atau mungkin cuma sekadar mereka menjadi tetanggamu. Tapi kenapa engkau tak peduli pada mereka, kenapa?
Bagaimana mungkin engkau dapat menjadi hamba pencinta Allah jika engkau sendiri tidak pernah mencintai hamba-hamba yang diciptakan Allah?” kata Malaikat itu.
Mendegar itu Abu bin Hasyim seperti disambar petir di siang hari. Dia tersadar kini jika ibadah manusia tidaklah hanya kepada Allah semata (hablumminAllah), tetapi juga kepada sesama manusia (hablumminannas) dan juga kepada alam. (Mukasyafatul Qulub Karya Imam Al Ghazali).
Intinya adalah bahwa puasa yang kita lakukan itu tidak saja mampu membangun relasi vertikal dengan Allah. Tapi juga mampu membangun rasa simpati dan solidaritas dengan sesama manusia, khususnya mereka yang belum beruntung (unfortunate) dan tidak berpunya (the have nots).
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.
