Senin, 08 Mei 2017

BURUK SANGKA KEPADA ALLAH SWT

BURUK SANGKA KEPADA ALLAH SWT

A.Pembahasan

Syaih Al-Allamah Dr. Shalih bin fauzan berkata, “sesungguhnya berbaik sangka kepada allah adalah tuntutan dan kewajiban bertauhid kepada allah, sedang buruk sangka kepada-Nya adalah menghilangkan tauhid. (Ighatsatul Mustafid bi syarhi Kitabit tauhid)

B.Makna Buruk sangka Kepada Allah

Buruk sangka dalam bahasa arab disebutsu’uzhan, yang mana terdiri dari dua kata, yaitu su’u dan zhan. Su’u artinya jelek. Adapun Zhan artinya mempunyai beberapa arti :

Pertama bermakna : yakin atau mengetahui ( sebagaimana dalam al-quran surah al-baqarah ayat 46)

Kedua bermakna : sangkaan belaka yang tidak ada dalilnya ( sebagaimana dalam surah An-najm ayat 28)

Ketiga bermakna : sangkaan yang dibangun di atas prediksi dan kemungkinan yang kuat. Adapun zhan disini ( dalam konteks su’uzhan kepada allah) adalah sangkaan yang tidak ada dalilnya atau dibangun diatas kebodohan, karena mustahil kita bawa kepada dua makna yang lain ( makna pertama dan ketiga)

C.Hukum buruk sangka kepada Allah

Berburuk sangka kepada Allah SWT hukumnya adalah haram dan terlarang, berdasarkan alqur’an, hadits, dan akal sehat.

1.Dalil dari alqur’ann

Allah berfirman,”dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk kepada allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka jahanam, dan (neraka Jahannam) itulah sejahat jahatnya tempat kembali.” (QS. Al-Fath;6).

2.Dalil dari hadits Nabi

Rosulullah bersabda : “ jauhilah oleh kalian dari berburuk sangka karena buruk sangka adalah sedusta-dusta ucapan .”(HR. Al-bukhori : 5143). Hadits ini mencakup berburuk sangka pada sesamaa manusia atau pada allah dan berburuk sangkapada allah lebih layak untuk dilarang.

3.Logika akal sehat

Adapun secara akal sehat, maka apakah layak bagi hamba yanglemah untuk berburuk sangka kepada Allah yang memiliki sifat rububiyah, uluhiyah, dan asma’washifat yang semua perbendaharaan langit dan bumi ada ditangan-Nya! Maha suci allah dari apa yang mereka sangkakan.

D.Akibat buruk sangka kepada allah

Diantara kerugian berburuk sangka kepada allah adalah :

1.Telah menerjang larangan allah yang maha bijaksana

2.Mendapatkan ancaman dan siksaan neraka Jahannam, laknat dan murka allah

3.Mendapatkan kecelakaan dari allah di dunia dan di akhirat

4.Menyerupai perbuatan orang-orang munafik dan orang-orang kafir

5.Merasakan kesempitan, ketidaktenangan dalam kehidupan, karena senantiasa tidak puas dengan takdir allah.

E.Bentuk-bentuk buruksangka kepada allah

Apa saja kah yang termasuk berburuk sangka kepada allah??

1.Sangkaan bahwasanya allah tidak akan menolong hamba-Nya yang membela agama-Nya, dari kalangan para Nabi dan rosul, dan orang-orang shalih.

2.Sangkaan bahwasanya kejadian-kejadian yang ada bukanlah takdir dari Allah melainkan hanya sekedar kejadian yang memang terjadi dengan sendirinya, tanpa ada hikmah pada kejadian tersebut.

3.Sangkaan bahwasanya allah akan membiarkan makhluk-Nya berbuat semaunya sebagaimana layaknya binatang ternak, tidak ada hukuman bagi pelaku maksiat dan tidak ada pahala bagi pelaku kebaikan.

4.Sangkaan bahwasanya allah akan mengadzab wali-wali-Nya walaupun mereka berbuat baik dan ikhlas dalam amalan tersebut.

5.Sangkaan bahwasanya allah tidak memiliki nama dan sifat atau memalingkannya kepada makna yang bathil atau meyakini tidak ada penjelasan yang gamblang tentang isi serta menyerahkan maknanya kepada allah, atau menamai dan menyifati allah dengan sesuatu yang tidak ada dalilnya.

6.Sangkaan bahwasanya allah mencintai kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan sebagaimana mencintai iman, kebaikan, dan ketaatan.

F.Cara menghindari buruk sangka kepada allah

Berburuk sangka kepada allah termasuk perkara yang sangat berbahaya. Bagaimana tidak, sungguh sangat tidak masuk akal dan tidak pernah terbayangkan oleh akal sehat, bagaimana mungkin akal manusia yang cekak itu mampu mengetahui semua hikmah perbuatan (takdir) yang allah miliki. Ini merupakan penyakit yang harus diterapi karena setiap penyakit pasti obatnya.

Al-imam Ibnul Qayyim berkata,”Dan tidak akan selamat dari berburuk sangka kepada allah kecuali mereka yang mngenal allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan memahami pujian hanya milik-Nya serta hikmah-Nya ada (dalam genggaman-Nya).”maksud beliau adalah orang yangakan selamat dari penyakit ini adalah mereka yang belajar dan mengkaji ilmu agama lebih khusus lagi bab-bab tauhid dan aqidah yang benar.

Wallahu A’lam

Kiat Khusyu’ Sembahyang Menurut Imam al-Ghazali


Kiat Khusyu’ Sembahyang Menurut Imam al-Ghazali

Shonhaji jongjing

Harus diakui, sembahyang dengan khusyu’ tidaklah mudah. Butuh kerja keras untuk mencapai tingkatan itu. Seringkali ketika sembahyang antara ucapan dan pikiran tidak seirama. Lidah melafalkan bacaan sembahyang, sementara hati mengembara  entah ke mana.

Gejala ini tentu tidak bisa dibiarkan terus larut. Karena ia tak ubahnya seperti penyakit. Jika dibiarkan begitu lama mengendap dalam tubuh, dikhawatirkan akan semakin kronis dan berbahaya.

Sekalipun sembahyang dengan khusyu’ itu susah, para ulama tetap menganjurkan kita agar selalu berusaha menggapainya. Sebab sembahyang bukan sekadar menggerakan tubuh, melafalkan bacaan, tetapi juga menghadirkan hati seolah-olah sedang berkomunikasi dengan Allah.

Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan sebagai berikut.

 ولكن الضعيف لا بد وأن يتفرق به فكره وعلاجه قطع هذه الأسباب بأن يغض بصره أو يصلى في بيت مظلم أو لا يترك بين يديه ما يشغل حسه ويقرب من حائط عند صلاته حتى لا تتسع مسافة بصره ويحترز من الصلاة على الشوارع وفي المواضع المنقوشة المصنوعة وعلى الفرش المصبوغة

Akan tetapi, orang yang “lemah”, tentu (penglihatan dan pendengarannya) itu yang membuat pikirannya tidak fokus. Jalan keluarnya ialah melepaskan diri dari segala bentuk penyebab tidak fokusnya. Misalnya dengan cara menundukkan penglihatan, sembahyang di tempat gelap, menyingkirkan sesuatu di hadapan kita yang bisa menganggu pikiran, mengambil posisi sembahyang yang dekat dengan dinding agar jarak pandang terbatas. Ia perlu menghindari posisi sembahyang di tempat yang dekat dengan jalan, di tempat yang terdapat ukiran atau lukisan, dan di atas tikar yang dicelup (diwarnai).

Langkah pertama yang harus dilakukan ialah mengenali penyebab utama ketidakfokusan sembahyang. Menurut Imam al-Ghazali, penglihatan dan pendengaran merupakan sumber utama godaan. Segala sesuatu yang pernah dilihat dan didengar biasanya hadir secara tiba-tiba ketika mengerjakan sembahyang. Inilah yang membuat pikiran menjadi kacau-balau sehingga tidak fokus memaknai setiap bacaan yang dilafalkan ketika sembahyang.

Untuk mengatasi ini, perlu latihan khusus agar keduanya bisa dikendalikan. Di antaranya ialah menundukan pandangan atau memejamkan mata. Melalui cara ini, setidaknya penglihatan kita tidak terlalu luas dan liar di saat mengerjakan sembahyang. Atau bisa juga dengan mengerjakan sembahyang di tempat yang gelap dan sepi. Lazimnya, beribadah di tempat yang gelap dan sepi lebih fokus ketimbang di tempat yang terang.

Posisi sembahyang juga berpengaruh terhadap kefokusan. Imam al-Ghazali menganjurkan para pemula yang sedang berlatih sembahyang dengan khusyu’ agar sembahyang di dekat dinding. Sebab dinding bisa menjadi penghalang mata untuk tidak melihat ke berbagai penjuru.

Selain posisi, lokasi sembahyang juga mempengaruhi, sembahyang di tempat yang banyak ukiran, gambar, dan di atas sajadah yang memuat pelbagai corak warna bisa mengurangi kefokusan hati. Sebab itu, ruangan sembahyang perlu ditata sebaik mungkin agar dapat membantu konsentrasi. 

Wallahu a’lam.

Minggu, 07 Mei 2017

Doa Rasulullah SAW saat Terlilit Utang


Doa Rasulullah SAW saat Terlilit Utang

Utang merupakan salah satu bentuk mu‘amalah yang diperbolehkan. Namun demikian setan kerap menggoda kita agar mengemplang utang termasuk utang pajak. Kita dibujuk untuk tidak memenuhi kewajiban membayar utang. Karenanya membayar utang adalah jihad yang sangat luar biasa.

Di samping faktor bujukan setan, kita belum sanggup melaksanakan kewajiban bayar utang karena belum mampu. Pikiran kita terbebani oleh utang itu karena rezeki yang habis hanya untuk makan tanpa tersisa untuk disisihkan.

Untuk kondisi seperti ini Rasulullah SAW mengajarkan sebuah doa yang diharapkan agar Allah menurunkan beban utang yang sedang kita pikul.

اَللَّهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Allâhummakfinî fi halâlika ‘an harâmik, wa aghninî bi fadhlika ‘amman siwâk

Artinya, “Tuhanku, cukupilah diriku dengan jalan (harta) yang Kauhalalkan, bukan jalan (harta) Kauharamkan; dan lengkapilah diriku dengan kemurahan-Mu, bukan kemurahan selain diri-Mu.”

Doa Rasulullah SAW yang diterima Sayidina Ali RA ini diajarkan kepada salah seorang mukatab (budak yang tengah mencicil kemerdekaan dirinya) saat mengeluhkan beban utangnya kepada Sayidina Ali. “Maukah kamu kalau kuberitahu beberapa kalimat yang diajarkan Rasulullah SAW kepadaku? Kalau kau terbebani utang sebesar gunung, niscaya Allah akan melunasinya,” kata Sayidina Ali.

Meskipun utang diperbolehkan, hanya saja besaran utang ini perlu diperhatikan. Kalau bukan untuk kepentingan yang sangat mendesak, baiknya hindari utang. Karena utang dengan besaran yang tinggi akan menyulitkan kita sendiri. Doa ini diriwayatkan Sayidina Ali dan dicantumkan oleh Imam An-NAwawi dalam karyanya Al-Adzkar.

Jumat, 05 Mei 2017

TUNTUNAN ISTIGHOTSAH

TUNTUNAN ISTIGHOTSAH

Istighotsah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

١. أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ الله ُُوَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ x۳

٢. سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ ِللهِ وَلآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِىِّ الْعَظِيْمِ. أَسْتَغْفِرُالله َوَأَتُوْبُ إِلَيْهِ. x٤

WASHILAH / TAWASUL

1.Ilâ hadlratin Nabiyyil musthofâ sayyidina Muhammadin saw wa âlihî wa ashhâbihî wa azwâjihî wa dzurriyyâtihî wa ahli baitil qirom syai`ul lillahi  walahumul fâtihah…

2. Tsumma ilâ arwâhi Ash-hâbi Rosûlilâhi Ajma’în minal khulafâ`ir râsyidin, Abi Bakrin, wa ‘Umar wa Utsman Radliyallâhu anhum, wa ‘Ali karromallohu wajhah...sayyiullillah walahumul faatihah....

3. Tsumma ila arwahi Jami 'Im Masya ikhil qoodiriyyah wanaqsa bandiyyah, khususon Sulthoonil Aulia Sayyidina Syech muchyidin' Abdil Qodir jailani, wa Sayyidina Syech abi qoosimil junaidi Albaghdadi, qoddasallohu sirro humal 'aziz ushulihima wa furu' ihima, wa ahli silsilatihima wal aakhidiina munhuma sayyiullillah walahumul faatihah....

4. Tsumma ilâ arwah sunan Gresik wa Sunan Giri, wa Sunan Bonang, wa Sunan Darojat, wa Sunan Kalijogo, wa Sunan Kudus, wa Sunan Murya, wa Sunan Ampel wa Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatullâh, wa Syech Maulana Hasanuddin Albantani wa Sultan Demak Raden Fatah, wa Raden Pati Unus, wa Raden Santri wa Syech Sulthon Agung Tirtayasa Albantani wa Syech Nawawi tanara Albantani, wa Syech Muhammad mansyur cikaduen Albantani wa Syech Kiai Abdul Muhyi pamijahan Tasikmalaya wa ghouts hâdzaz zaman syaiul lillâhi lahumul fâtihah….

5. Tsumma ilâ arwahi Âbâina  wa ummahâtinâ wa jaddatina wa akhinâ wa ukhtinâ wâ 'ammina wa' ammaa tinâ wa kholinâ wa kholatina, walimallahuhaq 'alaina wali syaairi ahlil kubur minal muslimiin wal muslimatin wal mu minina wal mu minatin mim masyariqil ardhi ila maghooribiha barriha wabakhriha khususon ila rûh...... Wa ila rûh..... Warûhaman fil kubur syithrollahum minannâri wa khijâballahum minannâri wa fizdâ allahum minannâr wa fakakallahum minannâr... Allâhummaj'al fii kubûrihim wa kubûrihinna roudhotan min Riyadil Jinan walaa taz'al fî kubûrihim wakubûrihinna khuffrotan minkhufârinnîron ilâ Yaumil qiyâmah wahusûson min jamî’i ahli jama’ah jum'ah Dhuha syaiul lilâhi walahumul fâtihah….

6. Biridlôil-lâhi subhânahû wa ta’âlâ, wa ‘alâ syafâ’ati rasûlillâhi saw, wa ‘alâ hadzihin-niyyati liqôbuli hâjâtinâ wa hâjâtikum, hâjat dunyâ wal âkhirah. Husûson hâjat jama’ah jum'ah Dhuha syaiul lillâhi lahumul fâtihah…

7. Bi barôkati wa bi hidâyati, wa bi karomati, wa bi syafâ’ati, wa bi shihhati wa bi ni’mati, wa binûri bi sirril fâtihah….

اِسْتَـغـْفِرُوْارَبَّكُمْ َاِنّـَهُ َكَانَ غَـفَّارًا

۱. اَسْتَغْفِرُالله َالْعَظِيْمَ    x۷٠

ASTAGHFIRULLÂHAL ‘ADHÎM 70X

۲. لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ باِللهِ الْعَلِىِّ الْعَظِيْمِ    x۱۱

LÂ HAULÂ WALÂ QUWWATA ILLÂ BIL-LÂHIL ‘ALIYYIL ‘ADHÎM 11X

۳. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ    x۱۱

ALLÂHUMMA SHOLLI ‘ALÂ SAYYIDINÂ MUHAMMAD WA ‘ALÂ ÂLIHI WA SHOHBIHI WA SALLIM 11X

٤.  اَللهُ يَا قَدِيْم ُيَا اَللهُ  x٤۰

YÂ ALLÂH YÂ QODÎM 40X

Ya Allah Dzat yang Maha Dahulu tanpa permulaan.

٥.  يَاسَمِيْعُ يَابَصِيْرُ   x٤۰

YÂ SAMI’ YÂ BASHÎR 40X

Ya Allah Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

٦.  يَامُبْدِئُ يَاخَالِقُ   x٤۰

YÂ MUBDI`U YÂ KHÔLIQ 40X

Ya Allah Dzat yang Maha memulai dan yang menciptakan.

٧.  يَاهَادِىْ يَاعَلِيْمُ يَاخَبِيْرُ يَامُبِيْنُ   x۱۱

YÂ HÂDÎ YÂ ‘ALÎM YÂ KHOBÎRU YÂ MUBÎN 11X

Ya Allah Dzat yang Maha memberi petunjuk dan Maha Mengetahui, Dzat yang Waspada dan Dzat yang Menjelaskan.

٨.  يَاحَفِيْظُ يَانَصِيْرُ يَاوَكِيْلُ يَااَللهُ   x۱۱

Y HAFÎDH Y NASHÎR, Y WAKÎLU Y ALLÂH 11X.

Ya Allah Dzat yang Maha Menjaga dan Memberi Pertolongan, Dzat yang diserahi, ya Allah.

٩.  لاَ إلِٰهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنىِّ كُنْتُ مِنَ الظًّالِمِيْنَ   x۱۱

LÂ ILÂHA ILLÂ ANTA SUBHANAKA INNÎ KUNTU MINADH-DHÔLIMÎN 11X

Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya hamba ini termasuk orang yang berbuat dholim.

.۱  .يَاحَىُّ يَا قَـيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ اَسْتَغِيْثُ  x۱۱

Y HAYYU Y QOYYÛM BIROHMATIKA ASTAGHÎTS 11X

Ya Allah Dzat yang hidup dan yang mencukupi kebutuhan hambanya dengan rahmatMu hamba mohon pertolongan.

۱۱.  يَافَـتَّاحُ يَارَزَّاقُ   x٤۰

YÂ FATTÂHU YÂ ROZZÂQ 40X

Ya Allah Dzat yng membuka hati yang tertutup dan memberi rizeki.

۱۲.  يَارَحْمٰنُ يَارَحِيْمُ    x٤۰

YÂ ROHMÂN YÂ ROHÎM 40X

Ya Allah Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

 
۱۳.  يَالَطِيْفُ   x۷۰

YÂ LATHÎF 70X

Ya Allah Dzat yang Maha Lembut (penyayang).

BACA SURAT YASIN

يس -١-
وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ -٢- 
إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ -٣- 
عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ -٤- 
تَنزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ -٥- 
لِتُنذِرَ قَوْماً مَّا أُنذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ -٦- 
لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ -٧- 
إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلاَلاً فَهِيَ إِلَى الأَذْقَانِ فَهُم مُّقْمَحُونَ -٨-
وَجَعَلْنَا مِن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدّاً وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدّاً فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لاَ يُبْصِرُونَ -٩- 
وَسَوَاء عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لاَ يُؤْمِنُونَ -١٠- 
إِنَّمَا تُنذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَن بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ -١١-
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ -١٢-
وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلاً أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءهَا الْمُرْسَلُونَ -١٣- 
إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُم مُّرْسَلُونَ -١٤-
قَالُوا مَا أَنتُمْ إِلاَّ بَشَرٌ مِّثْلُنَا وَمَا أَنزَلَ الرَّحْمن مِن شَيْءٍ إِنْ أَنتُمْ إِلاَّ تَكْذِبُونَ -١٥- 
قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ -١٦- 
وَمَا عَلَيْنَا إِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِينُ -١٧- 
قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِن لَّمْ تَنتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ -١٨- 
قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِن ذُكِّرْتُم بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ -١٩- 
وَجَاء مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ -٢٠- 
اتَّبِعُوا مَن لاَّ يَسْأَلُكُمْ أَجْراً وَهُم مُّهْتَدُونَ -٢١- 
وَمَا لِي لاَ أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ -٢٢-
أَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِ آلِهَةً إِن يُرِدْنِ الرَّحْمَن بِضُرٍّ لاَّ تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئاً وَلاَ يُنقِذُونِ -٢٣- 
إِنِّي إِذاً لَّفِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ -٢٤- 
إِنِّي آمَنتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ -٢٥- 
قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ -٢٦- 
بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ -٢٧- 
وَمَا أَنزَلْنَا عَلَى قَوْمِهِ مِن بَعْدِهِ مِنْ جُندٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ -٢٨- 
إِن كَانَتْ إِلاَّ صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ خَامِدُونَ -٢٩- 
يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ مَا يَأْتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلاَّ كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُون -٣٠- 
أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُم مِّنْ الْقُرُونِ أَنَّهُمْ إِلَيْهِمْ لاَ يَرْجِعُونَ -٣١- 
وَإِن كُلٌّ لَّمَّا جَمِيعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُونَ -٣٢- 
وَآيَةٌ لَّهُمُ الْأَرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَاهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبّاً فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ -٣٣-
وَجَعَلْنَا فِيهَا جَنَّاتٍ مِن نَّخِيلٍ وَأَعْنَابٍ وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنْ الْعُيُونِ -٣٤- 
لِيَأْكُلُوا مِن ثَمَرِهِ وَمَا عَمِلَتْهُ أَيْدِيهِمْ أَفَلَا يَشْكُرُونَ -٣٥-
سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ -٣٦-
وَآيَةٌ لَّهُمْ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُم مُّظْلِمُونَ -٣٧- 
وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ -٣٨- 
وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ -٣٩-
لَا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ -٤٠-
وَآيَةٌ لَّهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ -٤١- 
وَخَلَقْنَا لَهُم مِّن مِّثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ -٤٢- 
وَإِن نَّشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيخَ لَهُمْ وَلَا هُمْ يُنقَذُونَ -٤٣- 
إِلَّا رَحْمَةً مِّنَّا وَمَتَاعاً إِلَى حِينٍ -٤٤- 
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّقُوا مَا بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَمَا خَلْفَكُمْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ -٤٥- 
وَمَا تَأْتِيهِم مِّنْ آيَةٍ مِّنْ آيَاتِ رَبِّهِمْ إِلَّا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ -٤٦-
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقَكُمْ اللَّهُ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنُطْعِمُ مَن لَّوْ يَشَاءُ اللَّهُ أَطْعَمَهُ إِنْ أَنتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ -٤٧-
وَيَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْوَعْدُ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ -٤٨- 
مَا يَنظُرُونَ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُونَ -٤٩- 
فَلَا يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةً وَلَا إِلَى أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ -٥٠- 
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُم مِّنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنسِلُونَ -٥١-
قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَن بَعَثَنَا مِن مَّرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ -٥٢-
إِن كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُونَ -٥٣- 
فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئاً وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ -٥٤- 
إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ -٥٥- 
هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلَالٍ عَلَى الْأَرَائِكِ مُتَّكِؤُونَ -٥٦- 
لَهُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ وَلَهُم مَّا يَدَّعُونَ -٥٧- 
سَلَامٌ قَوْلاً مِن رَّبٍّ رَّحِيمٍ -٥٨- 
وَامْتَازُوا الْيَوْمَ أَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ -٥٩- 
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَن لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ -٦٠- 
وَأَنْ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ -٦١- 
وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنكُمْ جِبِلّاً كَثِيراً أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ -٦٢- 
هَذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ -٦٣- 
اصْلَوْهَا الْيَوْمَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ -٦٤- 
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ -٦٥-
وَلَوْ نَشَاء لَطَمَسْنَا عَلَى أَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَأَنَّى يُبْصِرُونَ -٦٦-
وَلَوْ نَشَاء لَمَسَخْنَاهُمْ عَلَى مَكَانَتِهِمْ فَمَا اسْتَطَاعُوا مُضِيّاً وَلَا يَرْجِعُونَ -٦٧- 
وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ أَفَلَا يَعْقِلُونَ -٦٨- 
وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنبَغِي لَهُ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُّبِينٌ -٦٩- 
لِيُنذِرَ مَن كَانَ حَيّاً وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ -٧٠-
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَاماً فَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ -٧١- 
وَذَلَّلْنَاهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُونَ -٧٢- 
وَلَهُمْ فِيهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُ أَفَلَا يَشْكُرُونَ -٧٣- 
وَاتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لَعَلَّهُمْ يُنصَرُونَ -٧٤- 
لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُندٌ مُّحْضَرُونَ -٧٥- 
فَلَا يَحْزُنكَ قَوْلُهُمْ إِنَّا نَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ -٧٦- 
أَوَلَمْ يَرَ الْإِنسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِن نُّطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُّبِينٌ -٧٧- 
وَضَرَبَ لَنَا مَثَلاً وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ -٧٨- 
قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ -٧٩- 
الَّذِي جَعَلَ لَكُم مِّنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَاراً فَإِذَا أَنتُم مِّنْهُ تُوقِدُونَ -٨٠-
أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُم بَلَى وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ -٨١-
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئاً أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ -٨٢- 
فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ -٨٣-

BACA SURAT AL INSYIROOH ( 3X )

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ -١- وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ-٢-  الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكََ -٣-  وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ-٤- 
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا -٥- إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا-٦- 
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبَْ -٧- وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ-٨-

BACA SURAT AL ASHRI ( 3X )

بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣).

BACA SURAT AL FIIL ( 1X )

بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ ﴿١﴾ أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ﴿٢﴾ وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيل﴿٣﴾ تَرْمِيهِم بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ
﴿٤﴾ فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُولٍ ﴿٥﴾

BACA SURAT AL IKHLAS ( 3X )

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿٤﴾

BACA SURAT AL FALAQ 1X

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلح (ۙ١) عمِنْ شَرِّمَا خَلَقَ(ۙ.٢)
وَمِنْ شَرِّغَاسِقٍ اِذَا وَقَبَ( ۙ٣) عوَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِ( ۙ٤) عوَمِنْ شَرِّحَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ ( ؑ٥)

BACA SURAT AN NÂS 1X
بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (١) مَلِكِ النَّاسِ (٢) إِلَهِ النَّاسِ (٣) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (٤) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (٥) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ(٦)

BACA SURAT AL FÂTIHAH 1X

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ (١) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم (٣)مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (٥)
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (٦)
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ. (٧)

BACA SURAT AL BAQARAH 1-5 (1X)

بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
الم(١) ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ(٢) فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ
(٣) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (٤) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ(٥) أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (٦)

BACA SURAT AL-BAQARAH 163 1X

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

BACA SURAT AL-BAQARAH 255 1x

اللّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ   

· (أَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ أَ نَّهُ) لاَ إِلٰهَ إِلاَّ الله   x ۳۰۰

LÂ ILÂHA ILLALLÂH 300X

Tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah.

لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ……..    مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ الله ……..

LÂ ILÂHA ILLALLÂH …   MUHAMMADUR RASÛLULÂH …  3X ( PANJANG )

Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah

ALLÂH 100 X

اللهُ x  ١۰۰

NADHOM LAILAHAILALLOH 3 X

لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ مُحَمَّدٌ رَسُوْ لُ اللهِ صَا دِ قُ الْوَعْدِ اْلأَ مِيْنِ سبحان الله وبحمده استغفر الله العظيم واتوب اليه x۳

مَوْلاَيَ صَلِّ وَسلِّم ْدَاِئمًا أَبَدًا   عَلىَ حَبِيْبِكَ خَيْرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ

هُوَالْحَبِيْبُ الَّذِى تُرْجَى شَفَاعَتُهُ    لِكُلِّ هَوْلٍ مِنَ اْلأَهْوَالِ مُقْتَحِمِ

يَارَبِّ بِالْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا    وَاغْفِرْ لنَاَمَامَضَى يَاوَاسِعَ الْكَرَمِ

 
رَبِّ اغْـفِرْ لىِْ وَارْ حَمْنِى وَاْجبُرْ نِىْ وَارْ فَـعْنِىْ

وَارْ زُقْنِىْ وَاهْدِ نِىْ وَ عَا فِـنِىْ وَاعْفُ عَـنِّىْ

Rabbighfirlii warhamni wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii wa’aafini wa’fu ‘annii ( 7x )

“Ya Allah, ampunilah dosaku, belaskasihanilah aku dan cukupkanlah segala kekuranganku dan angkatlah derajatku dan berilah rezeki kepadaku dan berilah aku petunjuk dan berilah kesehatan   kepadaku  dan berilah ampunan kepadaku”  ( 7x )

 

اللهُ اْلكَا فِى رَبُّنَا اْلكَا فىِ قَصَدْ نَا الْكَا فىِ وَجَدْ نَا الْكَا فىِ لِكُلٍّ كَا فىِ كَفَا نَا الْكَا فىِ وَ نِعْمَ الْكاَ فىِ اَلْحَمْدُ ِللهِx  ٧

ALLÂHUL KÂFÎ, ROBBUNAL KÂFÎ, QOSHODNAL KÂFÎ, WAJADNAL KÂFÎ, LIKULLIN KÂFÎ, KAFÂNAL KÂFÎ, WA NI’MAL KÂFÎ, ALHAMDULILLÂH.

Allah yang mencukupi, Tuhan kita yang mencukupi, Tujuan kita adalah Allah yang mencukupi dan kita menemukannya yang mencukupi terhadap segala sesuatu Allahlah yang mencukupi dan memenuhi segala kebutuhan kita adalah Allah dan Allah itu sebaik-baik dzat yang mencukupi, segala puji bagi Allah.

 

رَبَّـنَا يَارَبَّـنَا. جُوكُوفكنله رزقي كمي   بَرَا كَهَى كن ا كهي دوفن كمي بركهى نَبِى دان فرا وَلِي  x۳

Robban ya Robban cukupkanlah rizki kami barokahkan kehidupan kami seperti berkahnya kehidupan Nabi dan para wali 3x

اللهم انك عفو كريم تحب العفو واعف عنى ياكريم ( ٣ x)

اَسْتَغْفِرُ الله َرَبَّ الْبَرَا يَا اَسْتَغْفِرُالله
َمِنَ الْخَطَا يَا ( x۳)

رَبِّ زِ دْنِى عِلْمًا نَا فِعًا وَ وَفِّقْنِى عَمَلاً صَالحا  ووهبلي رزقاوأسعا وتب عليا توبة نصوحا
وتب عليا توبة نصوحا... ( x۳)
 

يَااَللهُ يَارَحْمٰنُ يَارَحِيْمُ. يَاحَىُّ يَا قَـيُّوْمُ يَا ذَالْجَلاَ لِ وَاْلإِكْراَمِ (٧ X)

ASTAGHFIRULLÂH ROBBAL BARÔYÂ, ASTAGHFIRULLÂH MINAL KHOTHÔYÂ,(3x).

ROBBI ZIDNÎ ‘ILMAN NÂFI’AN, WAWAFIQNÎ ‘AMALAN SHOLIHÂ

YÂ ALLÂH YÂ ROHMÂN, YÂ ROHÎM, YÂ HAYYU, YÂ QOYYUM, YA DZAL JALÂLI WAL IKROM 3 – 7X.

Hamba mohon ampun kepada Allah dzat yang melebur segala dosa dan hamba mohon ampunan Allah dari segala dosa, Wahai Tuhan tambahkanlah ilmu yang manfaat terhadap diri hamba dan berilah petunjuk diri hamba untuk berbuat amal sholeh. Ya Allah Dzat yang Maha Hidup dan yang Maha Mencukupi kebutuhan hamba, Ya Allah Dzat yang Maha Agung dan yang Maha Mulia
 
BACA AL FATIHAH ( Di niati doa )

BACA AL FÂTIHAH ( PADA AYAT MÂLIKI YAU MIDDÎN BACA 11X, PADA AYAT IYYÂKA NA’BUDU WA IYYÂKA NASTA’ÎN ………………… berdoa scr berjama'ah)

دُعَاءْ

Gagal faham dalam memahami Al-Qur'an akan dapat Menyesatkan.

Gagal faham dalam memahami Al-Qur'an akan dapat Menyesatkan.

Shonhaji jongjing at tanary

Al-Quran adalah Hudallinnas wabayyinaatimminal hudaa walfurqoon. petunjuk bagi umat manusia, dan pembeda antara yg Haq dan yg bathil.. Hal ini tentu saja bila mereka benar mencari petunjuknya. Namun demikian, Al-Quran bisa juga menjadi racun bila seseorang keliru mengambil dan memahami makna dari Al-Quran itu sendiri.

Pada era dimana banyak bermunculan Situs-situs, atau website2 atau ceramah2 yang membahas tentang pemahaman Alquran, banyaknya khazanah keilmuan tafsir, ada yang dalam memahami Al-Quran sepenuhnya berdasarkan ilmu pengetahuan namun tanpa kontrol yang baik sehingga melanggar rambu-rambu ajaran Islam itu sendiri. Ada pula produk tafsir yang tekstualis, apa adanya, sehingga menyebabkan pemahaman terhadap Al-Quran menjadi sempit.

Di tengah situasi yang seperti ini, kita beruntung masih ada pesantren-pesantren dengan misinya, yaitu melanjutkan dakwah dan perjuangan Rasulullah SAW. Harapannya adalah kita dapat menghasilkan produk tafsir Al-Quran yang sesuai dengan misi Rasulullah SAW dan jiwa serta semangat pesantren...

Visi dan misi Al-Quran yang dibawa oleh pesantren adalah menerjemahkan kehidupan Rasulullah SAW yang penuh dengan kasih sayang. Rasulullah SAW mengajarkan Islam dengan penuh cinta kasih sehingga Islam dipahami sebagai agama yang  Rahmatallil 'aalamiiin menjadi Rahmat bagi seluruh 'alam dan membawanya pun dengan cara yang damai pula.

Tafsir pesantren adalah upaya menuju tafsir moderat, tafsir moderat ini berusaha mempertemukan secara seimbang aspek etika, intelektualitas, serta keterampilan manusia sekaligus tetap bertujuan untuk mengajak dan membuat orang melakukan amal sholeh.

Sehingga dengan demikian diharapkan Pesantren dapat mencetak santri2 yg berakhlaqul kariimah, dekat sekali dengan tuntunan Alquran dan As-Sunnah...

Beberapa Peristiwa Penting di Bulan Sya’ban



Beberapa Peristiwa Penting di Bulan Sya’ban

Foto: Ilustrasi

NU Online | Jumat, 05 Mei 2017 06:01

Bulan Sya’ban merupakan bulan yang sangat penting dalam kehidupan Muslim di Indonesia. Karena selain menjadi bulan yang dekat dengan Ramadhan dan sebagai bulan persiapan untuk menghadapi puasa di bulan Ramadhan, ada beberapa hal yang sering diperingati secara rutin setiap bulan Sya’ban, yaitu malam nisfu Sya’ban.

Selain malam Nisfu Sya’ban ada juga beberapa peristiwa penting yang terjadi pada bulan Sya’ban. Dalam kitab Ma Dza fi Sya’ban? karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki menyebutkan tiga peristiwa penting yang berimbas pada kehidupan beragama seorang Muslim.

1. Peralihan Kiblat
Peralihan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram terjadi pada bulan Sya’ban. Menurut Al-Qurthubi ketika menafsirkan Surat Al-Baqarah ayat 144 dalam kitab Al-Jami’ li Ahkāmil Qur’an dengan mengutip pendapat Abu Hatim Al-Basti mengatakan bahwa Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk mengalihkan kiblat pada malam Selasa bulan Sya’ban yang bertepatan dengan malam nisfu Sya’ban.

Peralihan kiblat ini merupakan suatu hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW berdiri menghadap langit setiap hari menunggu wahyu turun perihal peralihan kiblat itu seperti Surat Al-Baqarah ayat 144 berikut.

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Artinya, “Sungguh Kami melihat wajahmu kerap menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.”

2. Penyerahan Rekapitulasi Keseluruhan Amal kepada Allah
Salah satu hal yang menjadikan bulan Sya’ban utama adalah bahwa pada bulan ini semua amal kita diserahkan kepada Allah SWT. Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki mengutip sebuah hadits riwayat An-Nasa’i yang meriwayatkan dialog Usamah bin Zaid dan Nabi Muhammad SAW.

“Wahai Nabi, aku tidak melihatmu berpuasa di bulan-bulan lain sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban?”

Kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Banyak manusia yang lalai di bulan Sya’ban. Pada bulan itu semua amal diserahkan kepada Allah SWT. Dan aku suka ketika amalku diserahkan kepada Allah, aku dalam keadaan puasa.”

Penyerahan amal yang dimaksud dalam hal ini adalah penyerahan seluruh rekapitulasi amal kita secara penuh. Walaupun, menurut Sayyid Muhammad Alawi, ada beberapa waktu tertentu yang menjadi waktu penyerahan amal kepada Allah selain bulan Sya’ban, yaitu setiap siang, malam, setiap pekan. Ada juga beberapa amal yang diserahkan langsung kepada Allah tanpa menunggu waktu-waktu tersebut, yaitu catatan amal shalat lima waktu.

3. Penurunan Ayat tentang Anjuran Shalawat untuk Rasulullah SAW
Pada bulan Sya’ban juga diturunkan ayat anjuran untuk bershalawat untuk Nabi Muhammad SAW, yaitu Surat Al-Ahzab ayat 56.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya, “Sungguh Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, shalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Ibnu Abi Shai Al-Yamani mengatakan, bulan Sya’ban adalah bulan shalawat. Karena pada bulan itulah ayat tentang anjuran shalawat diturunkan. Pendapat ini dikuatkan oleh pendapat Imam Syihabuddin Al-Qasthalani dalam Al-Mawahib-nya, serta Ibnu Hajar Al-Asqalani yang mengatakan bahwa ayat itu turun pada bulan Sya’ban tahun ke-2 hijriyah. 

Wallahu a’lam.

Sikap Tegas Kapolri soal Organisasi Pengusung Khilafah




Sikap Tegas Kapolri soal Organisasi Pengusung Khilafah

NU Online | Kamis, 04 Mei 2017 12:00

NU Online

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkapkan tentang organisasi-organisasi transnasional yang berbahaya. Menurutnya, organisasi-organisasi tersebut tidak pernah ikut berjuang mendirikan negara Indonesia.

“Datang, masuk ke sini belakangan mau ngacak-ngacak dan bahkan nanti bisa berbahaya merobohkan negara. Ini harus kita lawan,” tegas Tito di hadapan peserta dan undangan Kongres ke-3 Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa di Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Rabu (3/5).

Pada kesempatan tersebut, ia mencontohkan organisasi yang berbahaya, yaitu seperti organisasi yang mengusung ideologi khilafah. Menurutnya, kalau organisasi pengusung khilafah ini dibiarkan, maka gejolak akan terjadi di berbagai daerah. 

“Kalau terjadi gejolak, terjadi pemisahan, NKRI tumbang, maka apapun risikonya tidak boleh terjadi,” katanya bersemanagat.

Dalam menghadang organisasi seperti pengusung khilafah, Tito telah memerintahkan kepada jajaran Polri untuk membendung dan bergandengan tangan dengan salah satu organisasi yang menjadi pendiri negara, seperti NU.

“NU adalah kawan kita yang terbaik. NU adalah kawan yang paling setia. Kita akan bersama sama menghadapi mereka,” ungkapnya.

Hadir pada acara Kongres ini, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, Wakil Ketua Umum PBNU H. Maksum Mahfudz, KH Nur Muhammad Iskandar, Ketua PSNU Pagar Nusa Ajengan Mimih Haeruman, dan segenap pengurus PBNU.