Sabtu, 05 Oktober 2019

Sejarah dan Asal Muasal Shalawat Nabi

Sejarah dan Asal Muasal Shalawat Nabi


Membaca shalawat adalah salah satu amalan dan penghargaan kita kepada Rasulullah SAW. Sebagai umat Rasul SAW tentu kita tak asing lagi dengan amalan membaca shalawat, bahkan di masa sekarang membaca shalawat tidak hanya amalan yang bernilai pahala, tapi juga sudah mulai menjadi budaya dan perlombaan.

 
Bagaimana sejarah dan asal muasal shalawat. Mengapa shalawat bisa menjadi seterkenal dan membudaya seperti sekarang?

Membahas sejarah shalawat tentu tidak bisa terlepas dari Surat Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

 
Artinya, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Sebab turunnya ayat ini bisa dibilang menjadi sejarah shalawat kepada Rasul SAW. Sebab, At-Thabari menyebutkan bahwa setelah ayat ini turun, ada seorang sahabat yang bertanya terkait bunyi shalawat kepada Rasulullah SAW. Kemudian Rasul SAW menyebutkan shalawat Ibrahimiyah, sebagaimana yang biasa kita baca pada tasyahud akhir saat shalat.

Ayat tersebut oleh At-Thabari memerintahkan orang-orang yang beriman untuk mendoakan Rasul SAW dan keselamatannya, (Lihat Ibnu Jarir At-Thabari, Jāmiʽul Bayān fi Ta’wīlil Qur’ān, [Beirut, Muassasatur Risālah: 2000], juz XX, halaman 320).

 
Terkait kapan shalawat itu diwajibkan kepada Rasul SAW, merujuk pada turunnya ayat tersebut kepada Rasul SAW, perintah shalawat tersebut diturunkan pada bulan Syaban pada tahun kedua Hijriyah.

 
Oleh Abu Dzar Al-Harawī, inilah yang disebut bulan Syaban sebagai bulan shalawat, (Lihat Muḥammad ibn ʽAbdur Rahmān As-Sakhawi, Al-Qaulul Bādiʽ fis Ṣhalāh ʽalal Ḥabībis Syāfiʽ, [Madinah, Muassasatur Rayyān: 2002 M], halaman 92).

Secara lebih lanjut As-Suyuṭī menjelaskan bahwa shalawat sebenarnya sudah ada sejak masa Nabi Musa AS dan kaumnya, Bani Isra’il. Saat itu Bani Isra’il bertanya kepada Nabi Musa AS, terkait apakah Allah SWT bershalawat kepada makhluk-Nya. Mendengar pertanyaan dari kaumnya tersebut, Nabi Musa AS kemudian berdoa dan meminta jawaban kepada Allah SWT. Allah SWT pun menjawab pertanyaan Nabi Musa AS. Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa AS.

يَا ُموسَى إِنْ سَأَلُوْكَ هَلْ يُصَلِّي رَبُّكَ؟ فَقُلْ : نَعَمْ . أَنَا أُصَلِّي وَمَلَائِكَتِي عَلَى أَنْبِيَائِي وَرُسُلِي

 
Artinya, “Wahai Musa AS, sungguh kaum Bani Israil bertanya kepadamu, apakah Tuhanmu bershalawat kepada makhluk-Nya? Jawablah, ‘Iya. Aku dan juga para malaikatku bershalawat kepada para nabi dan rasul-Ku,’” (Lihat Jalaludin As-Suyuthi, Ad-Durārul Mantsūr, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz VIII, halaman 197).

 
Kemudian turunlah Surat Al-Ahzab di atas. As-Suyūṭī menambahkan bahwa setelah turun ayat tersebut, kaum Bani Israil tersebut kemudian bahagia dan memujinya.

Dari hal ini bisa diambil kesimpulan bahwa anjuran bershalawat turun untuk menghargai dan memuji utusan Rasul SAW atas tanggungannya berdakwah kepada para kaumnya.

Shalawat itu awalnya sebagai kabar baik kepada kaum Bani Israil, namun Allah SWT juga memberikan keutamaan kepada para nabi melalui shalawat kepadanya terlebih dahulu karena semuanya disampaikan melalaui perantaranya.

Ini juga bisa termasuk sebagai penghargaan kepada Nabi dan Rasul tersebut. Dalam hal ini Ubay ibn Ka’ab menyebutkan bahwa tidak ada hal baik yang diturunkan kepada seorang Rasul kecuali Rasul tersebut menjadi bagian dari hal baik tersebut. Turunlah Surat At-Taubah ayat 112.

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

 
Artinya, “Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Gembirakanlah orang-orang mukmin itu,” (Lihat Jalaludin As-Suyuthi, Ad-Durārul Mantsūr, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz VIII, halaman 197).

Oleh karena itu pada masa Rasulullah SAW, shalawat ini juga bisa menjadi sebuah penghargaan kepada Rasul SAW. Itulah mengapa ketika nama Rasul SAW disebut, Rasul SAW menganjurkan kita untuk membaca shalawat kepadanya, bahkan dengan memberikan janji keutamaan-keutamaan yang banyak.

Hal ini diperkuat oleh pendapat Al-Ghazali dan beberapa ulama lain yang dikutip oleh As-Sakhawi yang menyebutkan bahwasanya shalawat kepada Nabi SAW tidak terbatas sebagai doa, tapi juga sebagai pujian dan sebagai ibadah. 

Wallahu a‘lam.

Selasa, 01 Oktober 2019

Maliki atau Maaliki?

Maliki atau Maaliki?

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Yang Menguasai di hari Pembalasan.

Sesudah Allah swt. menyebutkan beberapa sifat-Nya, yaitu : Tuhan semesta alam, Yang Maha Pemurah, Yang Maha Penyayang, maka diiringi-Nya dengan menyebutkan satu sifat-Nya lagi, yaitu Yang Menguasai hari pembalasan. (QS. Al-Fatihah ayat ke-4).

Kata مَالِكِ (Maaliki) dapat dibaca dengan dua macam bacaan; pertama dengan memanjangkan bacaan huruf Mim, yaitu  مَالِكِ (Maaliki). Dan kedua dengan memendekkan bacaan huruf Mim, yaitu مَلِكِ (Maliki)Dan kedua macam bacaan itu dibolehkan, yaitu  مَالِكِ (Maaliki) huruf Mim dibaca panjang dengan menggunakan huruf mad alif, menurut ahli qiraat, antara lain imam عاصم (‘Ashim), كسائي (Kisai),  خلف (Khalaf), dan juga menurut banyak dari para sahabat;[1]  dan مَلِكِ (Maliki) Mim dibaca pendek, tanpa huruf alif menurut ahli qiraat, antara lain imam أبو الدرداء (Abu Darda’), ابن عمر (Ibnu Umar), dan juga menurut banyak dari para sahabat dan tabi’in[2]  . Terdapat sebuah riwayat sebagai berikut :

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ يَحْيَى الْأُمَوِيُّ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّهَا ذَكَرَتْ أَوْ كَلِمَةً غَيْرَهَا قِرَاءَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ -{الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ - الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ - مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ} يُقَطِّعُ قِرَاءَتَهُ آيَةً آيَةً قَالَ أَبُو دَاوُد سَمِعْتُ أَحْمَدَ يَقُولُ الْقِرَاءَةُ الْقَدِيمَةُ {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ}.(رواه ابو داود :   3487 -  سنن ابو داود – المكتبة الشاملة – الجزء :11 – صفحة :  13)

Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Yahya Al Umawi, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari Abdullah bin Abu Mulaikah, dari Ummu Salamah bahwa ia menyebutkan  - kalimat yang lainnya- bacaan Rasulullah saw  : BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM, Al HAMDULILLAAHI RABBIL 'AALAMIIN, ARRAHMAANIRRAHIIM, MALIKI YAUMIDDIIN', beliau membacanya dengan memutus bacaan satu ayat-satu ayat." Abu Daud berkata : "Aku mendengar Ahmad berkata : "Bacaan yang lama adalah MAALIKI YAUMIDDIIN." (HR.Abu Daud : 3487, Sunan Abu Daud, Al-Maktabah Asy-Syamilah, juz : 11, hal. 13)

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ مَعْمَرٌ وَرُبَمَا ذَكَرَ ابْنَ الْمُسَيِّبِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ يَقْرَءُونَ {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} وَأَوَّلُ مَنْ قَرَأَهَا {مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ} مَرْوَانُ - قَالَ أَبُو دَاوُد هَذَا أَصَحُّ مِنْ حَدِيثِ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَنَسٍ وَالزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ. (رواه ابو داود : 3486 – سنن ابو داود – المكتبة الشاملة – الجزء :11 – صفحة : 12)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma'mar, dari Az Zuhri, Ma'mar berkata;

bisa juga ia menyebut Ibnu Al-Musayyab Ia berkata : "Nabi saw, Abu Bakr dan Umar, serta Utsman membaca : مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (MAALIKI YAUMIDDIIN), dan orang yang pertama kali membaca : مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ (MALIKI YAUMIDDIIN) adalah Marwan." Abu Daud berkata, "Hadits ini lebih shahih daripada hadits Az-Zuhri dari Anas, dan Az-Zuhri dari Salim dari ayahnya." (HR.Abu Daud : 3486, Sunan Abu Daud, Al-Maktabah Asy-Syamilah, juz : 11, hal. 12)

Dari dua macam bacaan, timbul dua macam makna, yaitu  مَالِكِ (Maaliki), artinya : Yang Memiliki (pemilik / yang empunya);  sedangkan مَلِكِ (Maliki), artinya : Raja. Kedua makna ini sama-sama ada pada diri Allah saw. Penyebutan Allah sebagai Raja hari pembalasan mengisyaratkan bahwa di sana akan ditegakkan keadilan. Sedangkan penyebutan-Nya sebagai pemilik hari tersebut; mengisyaratkan bahwa pembalasan akan dilakukan dengan benar oleh-Nya sebagai hakim yang seadil-adilnya. Penggabungan antara dua makna tersebut menunjukkan bahwa kekuasaan Allah saw, adalah hakiki. Sebab ada di antara para makhluk yang menjadi raja, namun ia bukanlah sang pemilik kerajaannya. Dia hanyalah orang yang berlabel raja, tapi pada hakikatnya kekuasaan tidak di tangannya. Begitu pula ada di antara para manusia yang menjadi pemilik sesuatu, namun bukan seorang raja, sebagaimana kondisi kebanyakan orang. Adapun Allah saw adalah Raja dan Pemilik. Dari kedua makna itu dapat dipahami adanya arti : "berkuasa" dan bertindak dengan sepenuhnya. Sebab itulah maka diterjemahkan dengan: "Yang menguasai".  

Kekuasaan, kerajaan serta kepemilikan mutlak berada di tangan Allah yang tidak dapat diungguli, diimbangi dan diseratai oleh siapapun dan sesuatu apapun juga. Firman Allah :

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنزعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah : "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS.Ali ‘Imran : 26)

الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ لِلرَّحْمَنِ وَكَانَ يَوْمًا عَلَى الْكَافِرِينَ عَسِيرًا

Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan adalah (hari itu), satu hari penuh kesukaran bagi orang-orang kafir. (QS.Al-Furqan : 26)

Kemudian يوم الدين  (Yaumiddin)  terdiri dari dua kata; pertama kata "Yaum" yang artinya adalah “hari”, tetapi yang dimaksud di sini ialah waktu secara mutlak. Dan kedua kata "Ad-Din" yang banyak artinya, antara lain  :  Perhitungan, ganjaran, pembalasan, patuh, menundukkan, syariat dan agama. Dan yang dimaksud dengan      يوم الدين  (Yaumiddin: hari Pembalasan) ialah hari yang diwaktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk.

Lafal ‘yaumuddiin’ disebutkan secara khusus, karena di hari itu tiada seorang pun yang mempunyai kekuasaan, kecuali hanya Allah Taala semata, sesuai dengan firman Allah Taala yang menyatakan, “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini (hari kiamat)? Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.”[3] 

يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ لَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

Pada hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tiada suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (lalu Allah berfirman) : "Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?" kepunyaan Allah yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. (QS.Al-Mu’min/Ghafir : 16)

Nama-nama lain dari يوم الدين  Yaumiddin adalah يوم القيامة  (yaumilqiyaamah : hari kiamat),يوم الحساب  (yaumuilhisaab : hari perhitungan), يوم الجزاء    (yaumiljazaa' : hari pembalasan)

dan sebagainya.  Dan arti yang selaras di sini ialah "pembalasan". Jadi "Maaliki yaumiddin" maksudnya "Tuhan itulah yang berkuasa dan yang dapat bertindak dengan sepenuhnya terhadap semua makhluk-Nya pada hari pembalasan itu".   Sebetulnya pada hari kemudian itu banyak hal-hal yang terjadi, yaitu hari kiamat, hari berbangkit, hari berkumpul, hari perhitungan dan hari pembalasan, tetapi di sini hanya pembalasan sajalah yang disebut oleh Allah, karena itulah yang terpenting. Yang lain, seperti kiamat, berbangkit dan seterusnya, merupakan pendahuluan dari pembalasan itu, sehingga  "hari pembalasan"  itulah yang lebih tepat. Firman Allah :

وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ  - ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ - يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ

Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah. (QS.Al-Infithar : 17 – 19)

Islam membawa kepastian tentang adanya hari Pembalasan terhadap semua perbuatan yang telah dikerjakan manusia selama hidupnya biar pun besar atau kecil. Firman Allah :

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ  - وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah pun niscaya akan melihat (balasan)nya pula. (Q.S Az-Zalzalah: 7-8)

يَوْمَ يَأْتِ لاَ تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ

Di kala datang hari itu, tidak ada seorangun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. (QS. Hud: 105)

Nasehat ‘Ali bin Abi Thalib

وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ ارْتَحَلَتْ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتْ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلٌ. (صحيح البخاري – المكتبة الشاملة - بَاب فِي الْأَمَلِ وَطُولِهِ – الجزء : 20 – صفحة : 40)

Dan ‘Ali bin Abi Thalib berkata : Dunia berjalan meninggalkan kita dan akhirat berjalan menghampiri kita. Masing-masing memiliki anak. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan janganlah menjadi anak-anak dunia. Hari ini adalah waktu beramal bukan pembalasan, dan kelak adalah hari pembalasan dan tidak ada kesempatan untuk beramal”.(Shahih Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, juz : 20, hal. 40)

Naseahat ‘Ali bin Abi Thalib ini  mestinya memotivasi kita untuk memperbanyak amal shalih di dunia, agar kelak di akhirat kita bisa memetik buah manis dari amalan tersebut. Sebab jika kita telah memasuki hari itu, kesempatan untuk beramal telah tertutup rapat. Tidak ada lagi kesempatan melakukan shalat satu raka’at atau berdzikir satu kata-pun, guna menambah timbangan amal kebajikan.  

Dalil ‘Aqli Tentang Hari Pembalasan

Kepercayaan tentang adanya hari akhirat, yang di hari itu akan diadakan perhitungan terhadap perbuatan manusia di masa hidupnya dan diadakan pembalasan yang setimpal, adalah suatu kepercayaan yang sesuai dengan akal. Sebab itu adanya hidup yang lain, sesudah hidup di dunia ini bukanlah saja ditetapkan oleh agama, malah juga ditunjukkan oleh akal. Seseorang yang mau berpikir tentu akan merasa bahwa hidup di dunia ini belumlah sempurna, perlu disambung dengan hidup yang lain. Alangkah banyaknya hidup di dunia ini orang yang teraniaya telah pulang ke rahmatullah sebelum mendapat keadilan. Alangkah banyaknya orang yang berjasa, biar kecil atau besar, belum mendapat penghargaan terhadap jasanya. Alangkah hanyaknya orang yang telah berusaha, memeras keringat dan peluh, membanting tulang tetapi belum sempat lagi merasa buah usahanya itu. Sebaliknya, alangkah banyaknya penjahat-penjahat, penganiaya, pembuat onar yang tak dapat dipegang oleh pengadilan di dunia ini. Lebih-lebih kalau yang melakukan kejahatan atau aniaya itu orang yang berkuasa, pembesar dan lain sebaqgainya. Maka biar pun kejahatan dan aniaya itu telah menimpa seluruh bangsa tidaklah digugat orang, malah dia tetap dipuja dan dihormati. Maka di manakah akan didapat gerangan keadilan itu, kalau tidak ada nanti mahkamah yang lebih tinggi, yaitu mahkamah Allah di hari kemudian.

أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ

Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya? (QS.At-Tiin : 8)

وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ

Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya anakku Termasuk keluargaku, dan Sesungguhnya janji Engkau Itulah yang benar. dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya." (QS. Huud : 45)

 [1]. Syihabuddin Muhmud Ibnu Abdillah Al-Husaini Al-Alusi,Tafsir Al-Alusi, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab/juz 1, hal. 57 .

[2]. Ibdi. Hal. 57

 [3]. Lihat Tafsir Jalalain, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab 4, juz : 1, hal. 3

Sabtu, 28 September 2019

Silsilah Nasab Pengurus NU kepada Hadratussyekh Hasyim Asy'ari

Silsilah Nasab Pengurus NU kepada Hadratussyekh Hasyim Asy'ari

Ketua PCNU Kabupaten Bandung KH Asep Jamaluddin mengatakan, umumnya, setiap orang yang terlibat aktif di kegiatan organisasi Nahdlatul Ulama, baik sebagai anggota maupun menjadi pengurus kerap memiliki keterikatan nasab kepada pendiri organisasi, KH Hasyim Asy'ari. Keterikatan nasab ini dapat berupa nasab biologis atau keturunan dan nasab keilmuan melalui hubungan guru-murid. 

“Disadari atau tidak, orang yang aktif di NU, kalau diteliti ke atas pasti memiliki leluhur yang sama, bertemu dengan nasab kiai-kiai NU,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Al-Husaeniyah ini di kediamannya, Kampung Ciheulang, Ciparay, Kabupaten Bandung, Kamis (21/6).

Hal serupa juga berlaku dalam nasab pesantren NU yang jika ditarik ke atas, nasab keilmuan pesantren di NU akan 'sambung' dengan keilmuan Hadratussyekh. Seperti contoh, nasab kiai Asep sendiri terhubung langsung kepada Hadratussyekh lantaran kakeknya, KH Abdullah Cicukang yang pernah nyantri langsung kepada Hadratussyekh pada 1918 hingga 1926. 

Ia juga menyebutkan bahwa Kiai A. Qulyubi Tasikmalaya yang merupakan salah seorang pendiri NU di Tasikmalaya memiliki keterhubungan nasab baik secara biologis dan keilmuan kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Maka sudah tentu, lanjut dia, seseorang yang secara keilmuan terhubung dengan Rais Akbar NU tersebut, ia juga terhubung dengan Rasulullah Muhammad SAW. 

Hadratussyekh Hasyim Asy'ari sendiri "terhubung" langsung dengan Nabi Muhammad SAW melalui silsilah berikut: 

Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ariSyaikh Mahfudz at-Termasi.Syaikh Nawawi al-BantaniSayyid Ahmad Zaini Dahlan.Imam Ahmad ad-Dasuqi.Imam Ibrahim al-Baijuri.Imam Abdullah as-Sanusi.Imam ‘Abduddin al-‘Iji.Imam Muhammad bin Umar Fakhrurrazi.Imam Abdul Karim asy-Syahrastani.Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad al-Ghozali.Imam Abdul Malik al-Haramain al-Juwaini.Imam Abubakar al-Baqillani.Imam Abdullah al-Bahili.Imam Abu al-Hasan Ali al-Asy’ari.Abu Ali al-Juba’i.Abu Hasyim al-Juba’i.Abu al-Hudzail al-‘Allaf.Ibrahim an-Nadzdzam.Amr bin Ubaid.Washil bin Atha’.Sayyidina Muhammad bin Ali bin Abi Thalib.Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw.Sayyidina Rasulullah Muhammad SAW

Dengan demikian, menurut Kiai Said Aqil Siroj, sanad keilmuan yang dikembangkan dan dipertahankan NU terhubung atau mutawatir kepada Rasulullah SAW. (Abdullah Alawi/Rozali) 

Rabu, 25 September 2019

GAGALNYA DZIKIR SESEORANG KEPADA ALLAH

GAGALNYA DZIKIR SESEORANG KEPADA ALLAH
""""""""""""""""""""""""""""

YAA SALAAM ●●●

.
Didalam dzikirmu engkau harus mengenal Allah, janganlah sebatas mengenal dari ilmu" kalam yg engkau pelajari, harus dg rahasia misykat qalbumu yg terdalam.
Jika engkau tidak mengenal Allah dg qalbumu, maka dasar niatmu tuk berdzikir itu, tidak akan terbuka tujuanmu, harus engkau bangun dari sudut yg benar dan sempurna  yakni perbaiki niatmu dg cara membina niat karena Allah semata".

Jadi saudaraku sekalian....
Ibadah itu harus dibangun atas dasar tauhid dan takwa, bukan mendambakan ganjarannya.
Tetapi harus berada dalam maqam ikhlas.
Jika engkau tidak mengenal Allah melalui misykat qalbumu, maka dzikirmu itu akan bertindak atas kemauan nafsumu.

Kekhilafan seseorang beribadah itu kebanyakan bergantung pada amal, tidak disertai rahmat kasih-sayang Allah, karena itulah menganggap dzikirnya merupakan usahanya sendiri bukan dari karunia-Nya●

Janganlah engkau beranggap dzikirmu itu engkau yg berdzikir, tetapi dzikirmu itulah yg mengingat Allah,  serahkanlah dzikirmu itu pada-Nya, sebab engkau adalah fakir, membutuhkan sifat tawakkal dan keridhaan Allah swt. Dekatnya seseorang hamba kepada Allah itu ialah berserah diri bukan atas kemauan sendiri ●

Sebenarnya dzikirmu itu adalah Allah yg berdzikir, bukan kemauanmu melainkan Allah yg berkehendak berdzikir dan memuji Diri-Nya.
Engkau hanyalah alat penzahiran yg di adakan sifatnya kosong semata".
Suaramu yg engkau lantunkan melalui lisanmu itu hanyalah alat, tetapi suaramu itu hakikatnya adalah suara Allah. Lisanmu hanya sekedar bergerak dalam berdzikir. Sedangkan qalbumu itulah pedzikir hakiki yg takluk kepada sifat kalamnya Allah.

Ketahuilah saudaraku....
Gema dzikrullah didalam alam batinmu sebenarnya kalamullah.
Engkau sadari itu, itulah ma'rifat dzikrullah.
Dia- lah dibalik misykat rahasia itu.
Janganlah  engkau berdzikir dg tujuan dzikir saja, nanti engkau akan terjebak dalam pesona maqam keajaiban. Ini akan menghambat perjalananmu menuju pengenalan pada Allah.
Jauhkan pesona itu, sebab keajaiban" dzikir itu akan mendatangkan pujian.
Berdzikirlah yg sebenar dzikir yaitu karena Allah, bersama Allah dan untuk Allah ●

Tutuplah pintu bibirmu rapat" agar dzikirmu itu tidak didengar oleh siapapun, bahkan malaikat pun yg mencatat amalmu, itupun tidak mengetahuinya dimana munculnya dzikir itu.
Biarkan Allah saja yg tahu dzikir itu berada didalam " sirr mu " yakni dikamar yg Jibril sendiripun dilarang memasukinya.

Jumat, 20 September 2019

Khutbah Jum'at jangan bangga dengan ibadah


*JANGAN BANGGA DENGAN BANYAK SHALAT, PUASA DAN ZIKIR KARENA ITU SEMUA BELUM MEMBUAT ALLAH  SENANG*...
MAU TAHU APA YANG MEMBUAT ALLAH  SENANG...

Nabi Musa :"Wahai Allah, aku sudah melaksanakan ibadah. Lalu manakah ibadahku yang membuat Engkau senang..'
Allah..
*SHOLAT* Sholat mu itu untukmu sendiri, karena dengan mengerjakan sholat.. engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar...
*DZIKIR* Dzikirmu itu hanya untukmu sendiri, membuat hatimu menjadi tenang...
*PUASA*  Puasamu itu untukmu sendiri, melatih dirimu untuk memerangi hawa nafsumu sendiri...
Nabi Musa : Lalu apa ibadahku yang membuat hatiMu senang Ya Allah ...
Allah : *SEDEKAH, INFAQ, ZAKAT serta PERBUATAN BAIKmu.*
Itulah yang membuat AKU senang, karena tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang susah, AKU hadir disampingnya.
Dan AKU akan mengganti dengan ganjaran 700 kali (Al-Baqarah 261-262)...
Nah, bila kamu sibuk dengan ibadah ritual dan bangga akan itu... maka itu tandanya kamu hanya mencintai dirimu sendiri, bukan Allah.
Tapi, bila kau berbuat baik dan berkorban untuk orang lain... maka itu tandanya kau mencintai Allah dan tentu Allah senang karenanya.
Buatlah Allah senang maka Allah akan limpahkan rahmat-Nya dengan membuat hidupmu lapang  dan bahagia...
(Kitab Mukasyafatul Qulub  Karya Imam Al Ghazali...

Khutbah Kunci menjadi manusia terbaik

Kunci Menjadi Manusia Terbaik

Khutbah I

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وعلى اله وأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أما بعد: فيايها الإخوان، أوصيكم و نفسي بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون، قال الله تعالى في القران الكريم: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمان الرحيم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
صدق الله العظيم

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari, Baihaqi, dan Hakim:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخَلاقِ

Artinya: “Sungguh aku diutus menjadi Rasul untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Hadits ini menegaskan bahwa Islam hadir ke dunia ini untuk memperbaiki akhlak manusia. Dengan kata lain, Islam sangat berkepentingan dengan bagaimana umat manusia ini berperilaku yang baik yang disebut akhlak mulia. Maka tidak mengherankan apabila terdapat banyak hadits Rasulullah SAW yang membahas tentang akhlak, misalnya hadits yang diriwayatkan Thabrani dari Ibnu Umar sebagai berikut:

خَيْرُ النَّاسِ أحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya.”

Hadits tersebut menegaskan bahwa baik buruk manusia sejatinya bergantung pada akhlak mereka, baik akhlak kepada Sang Pencipta maupun kepada sesama makhluk terutama sesama manusia. Hadits ini menjadi sangat penting dan relevan pada saat sekarang dimana manusia berlomba-lomba memburu hal-hal yang bersifat duniawi tanpa menghiraukan norma-norma hukum agama - halal dan haram - maupun etika bermasyarakat. Berita-berita di media massa masih banyak dipenuhi hal-hal negatif seperti  korupsi, penipuan, kejahatan, penganiayaan, pembunuhan dan sebagainya. Semua perbuatan itu merupakan perilaku yang tidak terpuji atau akhlak yang buruk.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Dalam suatu hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda:

أَبْغَضُ الْعِبَادِ إِلَى اللهِ مَنْ كَانَ ثَوْبُهُ خَيْراً مِنْ عَمَلِهِ

Artinya: “Hamba yang paling dibenci Allah adalah orang yang pakainnya lebih baik dari pada amal perbuatannya.”

Hadits tersebut tentu tidak dimaksudkan untuk melarang kita berpakaian yang baik, tetapi Rasulullah SAW mengingatkan kepada kita untuk tidak semata-mata mengutamakan hal-hal yang bersifat lahiriah atau duniawi dengan mengabaikan hal-hal ukhrawi. Jangan sampai amal perbuatan kita yang bersifat ukhrawi ternyata lebih buruk daripada baju bagus yang kita kenakan. Jika orang menilai baju kita dengan nilai 7 atau 8, misalnya,  maka akhlak kita harus memiliki nilai lebih tinggi dari itu, semisal 9 atau bahkan 10. Maka setiap kali kita hendak memakai  baju, bertanyalah pada diri sendiri, apakah kita pantas memakai baju sebagus ini?

Jika tidak pantas, maka jangan urungkan memakai baju yang bagus itu, tetapi cobalah menasehati diri sendiri, misalnya dengan mengatakan, “Jika aku sanggup memakai baju sebagus ini, maka akhlakku harus lebih bagus.” Dengan begitu, maka kita akan terhindar dari kemarahan Allah SWT karena Allah memang membenci orang-orang yang pakaiannya lebih baik daripada akhlaknya sebagai dinyatakan dalam hadits tadi.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Rasulullah SAW memang sangat menekankan kepada kaum Muslimin untuk senantiasa berakhlak yang baik, seperti jujur, adil, rendah hati, dapat dipercaya, sabar, syukur, qana’ah, istiqamah, menyayangi yang lebih kecil atau muda, menghormati yang lebih tua, tidak suka menyakiti orang lain, suka menolong, bersedekah, dan lain sebagainya.  Semua akhlak yang terpuji itu telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW secara nyata sehingga beliau  mampu melakukan perubahan besar terhadap umat manusia.

Oleh karena itu, tidak mengherankan Micheal H. Hart dalam bukunya berjudul “The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History” menempatkan Nabi Muhammad SAW pada urutan pertama di antara 100 tokoh dunia sebagai orang paling berpengaruh sepanjang sejarah. Argumentasi dari sang penulis buku yang terbit pada tahun 1978 tersebut adalah karena Nabi Muhammad SAW merupakan orang paling sukses dalam memberikan pengaruh positif kepada umat manusia baik di bidang yang berkaitan dengan kebaikan  ukhrawi maupun kebaikan duniawi. .  

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Dalam hadits yang lain lagi yang diriwayatkan Ibnu Majah, Rasululllah SAW bersabda:

سُوءُ الْخُلُقِ يُفْسِدُ الْعَمَلَ كَمَا يُفْسِدُ الْخَلُّ الْعَسَلَ

Artinya: “Akhlak yang buruk merusak amal kebaikan sepeti cuka merusak madu”

Hadits ini memberikan gambaran yang jelas bahwa perbuatan baik itu bisa rusak oleh akhlak yang tidak baik sebagaimana rusaknya madu oleh cuka. Kita  tahu bahwa madu adalah sesuatu yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Tetapi ketika madu itu bercampur dengan cuka, dalam hal ini adalah cuka putih atau cuka  yang disuling dari alkohol untuk keperluan industri, maka rusaklah madu itu. Ia tidak lagi memberikan manfaat positif bagi kesehatan manusia. Yang terjadi kemudian justru ia membahayakan keselamatannya. Ini seperti sebuah pepatah yang berbunyi, “Karena setitik nila, rusaklah susu sebelanga.” Artinya, amal yang baik dan banyak bisa rusak karena akhlak yang buruk dan dianggap sepele. Hal ini bisa menimbulkan kebangkrutan amal sebagaimana disinyalir dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairoh R.A. berbunyi:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ “أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا : الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لا دِرْهَمَ لَهُ وَلا مَتَاعَ ، فَقَالَ : إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ”

Artinya: “Tahukah kalian siapakah yang dinamakan Muflis atau orang bangkrut? Orang-orang menjawab: Orang bangkrut menurut pendapat kami ialah mereka yang tiada mempunyai uang dan tiada pula mempunyai harta benda. Nabi menjawab: Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku, ialah mereka  yang  pada hari kiamat membawa amal kebaikan dari shalat, puasa, dan zakat. Tetapi mereka dahulu pernah mencaci maki orang lain, menuduh (mencemarkan nama baik) orang lain , memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain  dan memukul orang lain. Maka kepada orang yang mereka salahi itu diberikan pahala amal baik mereka; dan kepada orang yang lain lagi diberikan pula amal baik mereka. Apabila amal baik mereka telah habis sebelum hutangnya lunas, maka diambillah kesalahan orang yang disalahi itu dan diberikan kepada mereka; Sesudah itu, mereka yang suka mencaci, menuduh, memakan harta orang lain seperti korupsi, menunpahkan darah orang lain, dan memukul orang lain itu,  akan  dilemparkan ke dalam neraka.”

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Hadits ini hendaklah dapat kita hayati bersama dan memberikan kesadaran kepada kita betapa pentingnya menghindari akhlak yang buruk sebab dapat merugikan kita sendiri, yakni ludesnya amal-amal kebaikan kita yang telah kita kumpulkan dengan susah payah selama bertahun-tahun, bahkan selama hidup kita. Utuk itu apabila kita sayang pada diri sendiri, maka kita harus bisa menjaga agar amal-amal baik itu kita bisa kita rawat dengan sebaik-baiknya sehingga tidak musnah sia-sia. Caranya adalah dengan mengendalikan diri kita sehingga orang lain selamat dari akhlak kita yang buruk seperti: menyakiti hati, menghujat dan memaki, memfitnah dan menuduh tanpa bukti, mengambil hak seperti mencuri dan korupsi, membunuh, menyakiti secara fisik, dan sebagainya.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Mudah-mudahan apa yang saya uraikan dapat memberikan dorongan kepada kita semua, khususnya  diri saya sendiri, untuk berakhlak mulia secara istiqamah. Mudah-mudahan pula kita senantiasa dimudahkan oleh  Allah SWT dalam menghindari dan meninggalkan akhlak-akhlak yang buruk.  Amin… Amin ya Rabbal Alamin.

جَعَلَنا اللهُ وَإيَّاكم مِنَ الفَائِزِين الآمِنِين، وَأدْخَلَنَا وإِيَّاكم فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُؤْمِنِيْنَ : أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْمِ.  إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Khutbah Jum'at Akhlaq

Yang Hilang dari Diri Kita: Akhlak!

“Innama buitstu liutamima makarimal akhlak”, sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak. Begitulah bunyi salah satu hadits Nabi Muhammad SAW. Sabda Rasulullah tersebut menunjukkan bahwa akhlak yang baik atau akhklakul karimah menjadi pondasi penting orang-orang beragama.

Akhlak ini berbasis nilai. Nilai merupakan sesuatu yang bersifat universal. Sehingga pada dasarnya, akhlak yang baik ada pada diri setiap orang beragama, setiap manusia. Apalagi ajaran Rasulullah penuh dengan teladan-teladan akhlak yang baik di tengah masyarakat.

Membahas persoalan akhlak, globalisasi yang disertai dengan perubahan sosial yang begitu cepat salah satunya berdampak pada pergeseran nilai sekaligus mendegradasi akhlak manusia. Tidak terhitungnya jumlahnya krisis kemanusiaan dan kemerosotan akhlak dalam kehidupan sehari-hari menjadi perhatian Pakar Tafsir Prof Dr Muhammad Quraish Shihab untuk menulis buku Yang Hilang dari Kita: Akhlak.

Dalam buku setebal 303 halaman itu, Quraish Shihab tidak hanya memaparkan epistemologi akhlak, tetapi juga memberikan teladan sehari-hari tentang akhlak berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits. Dalam Islam, akhlak menjadi disiplin ilmu tersendiri yang kadang diintegrasikan tasawuf dan filsafat karena terkait erat dengan konsep etika, dan lain-lain.

Akhlak dan budi pekerti yang luhur sangat dibutuhkan untuk mengisi kehidupan masyarakat. Buku ini menjelaskan bahwa akhlak luhur merupakan keniscayaan dari kedudukan manusia sebagai makhluk sosial. Semakin luhur akhlak seseorang, maka semakin mantap kebahagiaannya. Demikian juga dengan masyarakat, semakin kompak anggota-anggotanya secara bersama-sama melaksanakan nilai-nilai akhlak yang disepakati bersama, maka semakin bahagia masyarakat tersebut.

Dalam buku terbitan Lentera Hati ini, Quraish Shihab juga menjelaskan Akhlak secara filosofis. Ia mengemukakan sejumlah konsep etika dan nilai dari para filsuf Yunani dan filsuf Barat. Tentu saja penguatan ilmu akhlak banyak ia kutip dari Al-Qur’an, Hadits, dan kitab-kitab klasik para ulama. Secara historis, para filsuf Yunani kuno sangat menjunjung tinggi etika dan kemanusiaan. Langkah-langkah kaki mereka tidak pernah berhenti mencari ruang-ruang kehidupan manusia, dimana akhlak, etika, dan kemanusiaan dihidupkan.

Dalam buku ini juga dijelaskan terkait konsep Nurani. Nurani sangat terkait dengan perkembangan akhlak luhur pada diri manusia. Layaknya pelita yang selalu menerangi, nurani merupakan pencerah hati dan perasaaan manusia sehingga memungkinkan dirinya terhindar dari hal-hal negatif. Namun demikian, hati nuarani bukan hasil dari pemikiran teoritis akliah. Tetapi ia lahir dari kerja perasaaan yang bisa jadi tidak mudah untuk didefinisikan substansinya. Namun, setiap orang dapat merasakan hati nurani dan tidak mudah untuk mengabaikannya. 

Akhlak juga berkaitan dengan kebaikan dan keburukan/kejahatan. Keburukan atau kejahatan adalah lawan dari kebaikan. Ia mencakup dua hal pokok, pertama, sakit/perih, baik jasmani maupun rohani, seperti musibah kebakaran atau tenggelam. Kedua, adalah yang mengantar pada sakit atau perih seperti kebodohan dan kedurhakaan. Keburukan dan kejahatan itu bisa jadi bersumber dari pihak lain dan bisa juga akibat ulah yang mengalaminya sendiri.

Quraish Shihab mengungkapkan salah satu doa yang diamalkan dan diajarkan Rasulullah ketika akan keluar rumah, ialah: “Ya Allah, kami memohon perlindungan-Mu sehingga kami tidak sesat, tidak juga disesatkan, tidak tergelincir atau digelincirkan, tidak menganiaya tidak juga dianiaya, serta tidak berbuat jahil (picik), tidak juga kami diperlakukan dengan picik.” (Halaman 57). Doa tersebut mengisyaratkan potensi terjadinya keburukan dan kejahatan akibat ulah pihak lain maupun ulah kita sendiri.

Dalam konteks keterbukaan informasi  dan perkembangan teknologi digital, Quraish Shihab juga menekankan akhlak bertabayun atau melakukan kroscek kebernaran terhadap informasi dan berita yang beredar melalui media cetak, website, maupun media sosial. Dalam hal ini, Allah SWT dalam QS Al-Hujurat [49] ayat 6 memerintahkan manusia untuk senantiasa melakukan tabayyun atau check and richeck.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka bersungguh-sungguhlah mencari kejelasan agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan yang menyebabkan kamu atas perbuatan kamu menjadi orang-orang yang menyesal.” (QS Al-Hujurat: 6)

Tanpa upaya bertabayun terlebih dahulu, tidak terhitung orang-orang yang aktif di media sosial termakan oleh berita-berita palsu dan bohong. Agaknya pasar netizen yang mudah dibohongi makin marak, dampaknya seolah kebohongan dalam bentuk informasi menjadi sebuah industri. Lagi-lagi, di sinilah akhlak luhur harus dikedepankan. Jika sebelum era digital langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, saat ini akhlak juga harus dijunjung tinggi ketika berinteraksi di media sosial.

Quraish Shihab dalam buku ini mengisahkan bahwa pada masa Rasulullah SAW, ada sekelompok orang yang menyebarkan rumor tentang istri Nabi SAW, Aisyah ra yang cukup meresahkan Nabi dan sahabat-sahabat karib beliau. Setelah sebulan rumor itu berkembang, baru Allah SWT ayat-ayat yang membantah rumor tersebut sambil memberi pengajaran kepada umat bagaimana langkah yang harus ditempuh jika tabayyun tidak menghasilkan apa yang diharapkan atau bila rumor itu menyangkut orang yang selama ini dikenal baik.

Allah berpesan dalam QS An-Nur [24]: 12 yang maksudnya antara lain menyatakan bahwa mestinya sewaktu kamu mendengar rumor itu, kamu selaku orang-orang mukmin dan mukminah bersangka baik terhadap yang dicemarkan namanya karena yang dicemarkan namanya itu adalah bagian kamu sesama orang beriman. Pada ayat 24 dalam surat di atas, Allah dengan jelas memperingatkan bahwa orang-orang yang senang tersebarnya berita-berita yang mencemarkan dalam masyarakat Islam, mereka itu akan ditimpa siksa yang pedih.

Krisis akhlak yang semakin akut terutama di kalangan generasi muda, menjadikan buku ini penting untuk dibaca, dipahami, dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari. Bangsa Indonesia, terutama umat Islam perlu memperhatikan tradisi keilmuan dan pendidikan di pesantren yang integratif antara akhlak, ilmu, dan amal. Bahkan, pengembangan adab dan budi pekerti luhur sangat ditekankan di pesantren sehingga lembaga pendidikan asli Indonesia tersebut mampu menjadi benteng moral bagi generasi bangsa sejak berabad-abad lalu hingga saat ini.