Selasa, 27 April 2021

DALIL JIARAH KUBUR

DALIL JIARAH KUBUR
=============================

ุญَุฏَّุซَู†َุง ุนُุซْู…َุงู†ُ ู‚َุงู„َ ุญَุฏَّุซَู†َุง ุฌَุฑِูŠุฑٌ ุนَู†ْ ู…َู†ْุตُูˆุฑٍ ุนَู†ْ ู…ُุฌَุงู‡ِุฏٍ ุนَู†ْ ุงุจْู†ِ ุนَุจَّุงุณٍ ู‚َุงู„َ ู…َุฑَّ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุจِุญَุงุฆِุทٍ ู…ِู†ْ ุญِูŠุทَุงู†ِ ุงู„ْู…َุฏِูŠู†َุฉِ ุฃَูˆْ ู…َูƒَّุฉَ ูَุณَู…ِุนَ ุตَูˆْุชَ ุฅِู†ْุณَุงู†َูŠْู†ِ ูŠُุนَุฐَّุจَุงู†ِ ูِูŠ ู‚ُุจُูˆุฑِู‡ِู…َุง ูَู‚َุงู„َ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูŠُุนَุฐَّุจَุงู†ِ ูˆَู…َุง ูŠُุนَุฐَّุจَุงู†ِ ูِูŠ ูƒَุจِูŠุฑٍ ุซُู…َّ ู‚َุงู„َ ุจَู„َู‰ ูƒَุงู†َ ุฃَุญَุฏُู‡ُู…َุง ู„َุง ูŠَุณْุชَุชِุฑُ ู…ِู†ْ ุจَูˆْู„ِู‡ِ ูˆَูƒَุงู†َ ุงู„ْุขุฎَุฑُ ูŠَู…ْุดِูŠ ุจِุงู„ู†َّู…ِูŠู…َุฉِ ุซُู…َّ ุฏَุนَุง ุจِุฌَุฑِูŠุฏَุฉٍ ูَูƒَุณَุฑَู‡َุง ูƒِุณْุฑَุชَูŠْู†ِ ูَูˆَุถَุนَ ุนَู„َู‰ ูƒُู„ِّ ู‚َุจْุฑٍ ู…ِู†ْู‡ُู…َุง ูƒِุณْุฑَุฉً ูَู‚ِูŠู„َ ู„َู‡ُ ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ู„ِู…َ ูَุนَู„ْุชَ ู‡َุฐَุง ู‚َุงู„َ ู„َุนَู„َّู‡ُ ุฃَู†ْ ูŠُุฎَูَّูَ ุนَู†ْู‡ُู…َุง ู…َุง ู„َู…ْ ุชَูŠْุจَุณَุง ุฃَูˆْ ุฅِู„َู‰ ุฃَู†ْ ูŠَูŠْุจَุณَุง

Telah menceritakan kepada kami 'Utsman berkata, telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Mujahid dari Ibnu 'Abbas berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melewati perkebunan penduduk Madinah atau Makkah, lalu beliau mendengar suara dua orang yang sedang di siksa dalam kumur mereka. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun berkata: "Keduanya sedang disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa disebabkan dosa besar." Lalu beliau menerangkan: "Yang satu disiksa karena tidak bersuci setelah kencing, sementara yang satunya lagi disiksa karena suka mengadu domba." Beliau kemudian minta diambilkan sebatang dahan kurma yang masih basah, beliau lalu membelah menjadi dua bagian, kemudian beliau menancapkan setiap bagian pada dua kuburan tersebut. Maka beliau pun ditanya, "Kenapa Tuan melakukan ini?" Beliau menjawab: "Mudah-mudahan siksanya diringankan selama dahan itu masih basah."
( HR. Bukhori : 209)

Senin, 26 April 2021

SETAN-SETAN DIBELENGGU

SETAN-SETAN DIBELENGGU
========================

Sebagaimana kita ketahui bahwa bulan Ramadaan merupakan bulan istimewa karena pada bulan tersebut seluruh umat Islam yang telah memenuhi syarat diwajibkan untuk menjalankan puasa. 

Karena itu maka bulan Ramadhan disebut juga syahrush shiyam (Bulan Puasa). Pada bulan itu menurut riwayat yang ada, setan-setan dibelenggu (shuffidatusy syayathin), pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup. Dalam riwayat lain dengan redaksi sulsilatisy syayathin.  

 ุฅِุฐَุง ุฏَุฎَู„َ ุฑَู…َุถَุงู†ُ ุตُูِّุฏَุชِ ุงู„ุดَّูŠَุงุทِูŠู†ُ ، ูˆَูُุชِุญَุชْ ุฃَุจُูˆَุงุจُ ุงู„ุฌَّู†َุฉِ ، ูˆَุบُู„ِّู‚َุชْ ุฃَุจْูˆَุงุจُ ุงู„ู†َّุงุฑِ 

Artinya, “Ketika masuk bulan Ramadlan maka syaitan-syaitan dibelenggu, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup,” 
(HR Bukhari dan Muslim). 

Lantas bagaimana maksud hadits di atas? Banyak para ulama mengajukan penjelasan soal makna hadits tersebut. 

Di antara penjelasan yang tersedia adalah yang dihadirkan Abu Hasan Ali bin Khalaf bin Abdul Malik bin Baththal Al-Bakri Al-Qurthubi atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Baththal. 

Menurut Ibnu Baththal, setidaknya ada dua penjelasan yang diajukan para ulama tentang makna sabda Rasulullah saw di atas. 

Pertama, ulama yang memahami secara literalis atau sesuai bunyi teks haditsnya. Pintu surga dibuka, dan setan dibelenggu dipahami dalam pengertian yang sebenarnya (al-haqiqi) sehingga intensitasnya dalam menggoda manusia berkurang pada bulan Ramadhan dibanding dengan bulan lainnya.

 ูˆَุชَุฃَูˆَّู„َ ุงู„ْุนُู„َู…َุงุกُ ูِู‰ ู‚َูˆْู„ِู‡ِ ( ูُุชِุญَุชْ ุฃَุจْูˆَุงุจُ ุงู„ْุฌَู†َّุฉِ ูˆَุณُู„ْุณِู„َุชِ ุงู„ุดَّูŠَุงุทِูŠู†ُ ) ، ู…َุนْู†َูŠَูŠْู†ِ . ุฃَุญَุฏُู‡ُู…َุง : ุฃَู†َّู‡ُู…ْ ูŠُุณَู„ْุณِู„ُูˆู†َ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุญَู‚ِูŠู‚َุฉِ ، ูَูŠَู‚ِู„ُّ ุฃَุฐَุงู‡ُู…ْ ูˆَูˆَุณْูˆَุณَุชُู‡ُู…ْ ูˆَู„َุง ูŠَูƒُูˆู†ُ ุฐَู„ِูƒَ ู…ِู†ْู‡ُู…ْ ูƒَู…َุง ู‡ُูˆَ ูِู‰ ุบَูŠْุฑِ ุฑَู…َุถَุงู†َ ، ูˆَูَุชْุญُ ุฃَุจْูˆَุงุจِ ุงู„ْุฌَู†َّุฉِ ุนَู„َู‰ ุธَุงู‡ِุฑِ ุงู„ْุญَุฏِูŠุซِ. 


Artinya, “Para ulama menakwil atau menafsirkan sabda Rasulullah saw, ‘Pintu-pintu surga dibuka dan setan-setan dibelenggu’ dengan dua pendekatan. Pertama, pendekatan dengan makna hakiki, yaitu mereka (setan-setan) dibelenggu dalam pengertian secara hakiki sehingga intensitas mereka menggoda manusia menjadi berkurang, berbeda dengan yang dilakukan pada bulan selain Ramadhan. Sedangkan ‘dibukanya pintu-pintu surga’ juga dipahami sesuai bunyi teks haditsnya (zhahirul hadits),” (lihat Ibnu Baththal, Syarhu Shahih al-Bukhari, Riyadl-Maktabah ar-Rusyd, cet ke-2, 1423 H/2003 M, juz IV, halaman 20). 

Kedua memahami secara majazi. 
Dalam konteks ini dibukanya pintu-pintu surga dipahami bahwa Allah SWT membuka pintu-Nya dengan amal perbuatan yang dapat mengantarkan hamba-Nya ke surga seperti shalat, puasa, dan tadarus Al-Qur`an. Sehingga, jalan menuju surga di bulan Ramdhan lebih mudah dan amal-perbuatan tersebut lebih cepat diterima. 

Begitu juga maksud ditutupnya pintu neraka adalah mencegah mereka dari kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan yang mengantarkan ke neraka. 

Lebih lanjut dijelaskan bahwa mengingat sedikitnya siksaan Allah kepada hamba-hamba akibat perbuatan buruk mereka, maka Allah melewatkan (memaafkan) perbuatan-pebuatan itu dari beberapa kaum dengan berkah bulan Ramadhan, memberikan ampunan kepada orang yang berbuat keburukan karena adanya orang yang berbuat kebajikan, serta mengampuni pelbagai kesalahan. Inilah makna tertutupnya pintu neraka. 

ูˆَุงู„ุซَّุงู†ِู‰ : ุนَู„َู‰ ุงู„ْู…َุฌَุงุฒِ ، ูˆَูŠَูƒูˆُู† ُุงู„ْู…َุนْู†َู‰ ูِู‰ ูَุชْุญِ ุฃَุจْูˆَุงุจِ ุงู„ْุฌَู†َّุฉِ ู…َุง ูَุชَุญَ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุนِุจَุงุฏِ ูِูŠู‡ِ ู…ِู†َ ุงู„ْุฃَุนْู…َุงู„ِ ุงู„ْู…ُุณْุชَูˆุฌِุจِ ุจِู‡َุง ุงู„ْุฌَู†َّุฉَ ู…ِู†َ ุงู„ุตَّู„َุงุฉِ ูˆَุงู„ุตِّูŠَุงู…ِ ูˆَุชِู„َุงูˆَุฉِ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†ِ ، ูˆَุฃَู†َّ ุงู„ุทَّุฑِูŠู‚َ ุฅِู„َู‰ ุงู„ْุฌَู†َّุฉِ ูِู‰ ุฑَู…َุถَุงู†َ ุฃَุณْู‡َู„ُ ูˆَุงู„ْุฃَุนْู…َุงู„ُ ูِูŠู‡ِ ุฃَุณْุฑَุนُ ุฅِู„َู‰ ุงْู„ู‚ُุจُูˆู„ِ ، ูˆَูƒَุฐَู„ِูƒَ ุฃَุจْูˆَุงุจُ ุงู„ู†َّุงุฑِ ุชُุบْู„َู‚ُ ุจِู…َุง ู‚َุทَุนَ ุนَู†ْู‡ُู…ْ ู…ِู†َ ุงู„ْู…َุนَุงุตِู‰ ، ูˆَุชَุฑْูƒِ ุงู„ْุฃَุนْู…َุงู„ِ ุงู„ْู…ُุณْุชَูˆْุฌِุจِ ุจِู‡َุง ุงู„ู†َّุงุฑَ ، ูˆَู„ِู‚ِู„َّุฉِ ู…َุง ูŠُุคَุงุฎِุฐُ ุงู„ู„ู‡ُ ุงู„ุนِุจَุงุฏَ ุจِุฃَุนْู…َุงู„ِู‡ِู…ْ ุงู„ุณَّูŠِّุฆَุฉِ ، ูŠَุณْุชَู†ْูِุฐُ ู…ِู†ْู‡َุง ุจِุจَุฑَูƒَุฉِ ุงู„ุดَّู‡ْุฑِ ุฃَู‚ْูˆَุงู…ًุง ูˆَูŠَู‡ِุจُ ุงู„ْู…ُุณِุฆَ ู„ِู„ْู…ُุญْุณِู†ِ ، ูˆَูŠَุชَุฌَุงูˆَุฒُ ุนَู†ِ ุงู„ุณَّูŠِّุฆَุงุชِ ูَู‡َุฐَุง ู…َุนْู†َู‰ ุงู„ْุบَู„َู‚ِ 

Artinya, “Kedua, pendekatan dengan makna majazi. 

Makna atau pengertian dibukanya pintu-pintu surga adalah sesuatu yang Allah buka untuk hamba-hamba-Nya di bulan Ramadhan berupa amal-amal yang mengantarkan ke surga seperti shalat, puasa, dan tadarus Al-Qur`an. Jalan menuju surga di bulan Ramadhan lebih mudah dan amal-ibadah di dalamnya lebih cepat diterima. 

Begitu juga pintu-pintu neraka ditutup dengan sesuatu yang mencegah mereka dari kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan yang mengantarkan ke neraka. 

Mengingat sedikitnya siksaan Allah kepada hamba-hamba akibat perbuatan buruk mereka, maka Allah melewatkan (memaafkan) perbuatan-pebuatan itu dari beberapa kaum dengan berkah bulan Ramadhan, memberikan ampunan kepada orang yang berbuat keburukan karena adanya orang yang berbuat kebajikan, serta mengampuni pelbagai kesalahan. Inilah makna tertutupnya pintu neraka,” (Lihat Ibnu Baththal, Syarhu Shahih al-Bukhari, juz IV, halaman 20). 

Lantas bagaimana dengan dibelengunya setan? Menurut Ad-Dawudi dan Al-Mahlab, maksudnya adalah Allah menjaga kaum muslimin atau mayoritas dari mereka dari kemaksiatan dan kecenderungan untuk menuruti bisikan setan. Bahkan Al-Mahlab memberikan argumentasi bagi kalangan yang memahami dibelenggunya setan dalam pengertian hakiki. 

Menurutnya, masuknya para pendurhaka (ahlul ma’ashi) pada bulan Ramadhan dalam ketataan sehingga mereka mengabaikan hawa nafsunya menunjukkan terbelenggunya setan.

 ูˆَูƒَุฐَู„ِูƒَ ู‚َูˆْู„ُู‡ُ : ( ุณُู„ْุณِู„َุชِ ุงู„ุดَّูŠَุงุทِูŠู†ُ ) ، ูŠَุนْู†ِู‰ : ุฃَู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ูŠَุนْุตِู…ُ ูِูŠู‡ِ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠู†َ ุฃَูˆْ ุฃَูƒْุซَุฑَู‡ُู…ْ ูِู‰ ุงู„ْุฃَุบْู„َุจِ ุนَู†ِ ุงู„ْู…َุนَุงุตِู‰ ูˆَุงู„ْู…َูŠْู„ِ ุฅِู„َู‰ ูˆَุณْูˆَุณَุฉِ ุงู„ุดَّูŠَุงุทِูŠู†ِ ูˆَุบُุฑُูˆุฑِู‡ِู…ْ ، ุฐَูƒَุฑَู‡ُ ุงู„ุฏَّุงูˆُุฏِูŠُّ ูˆَุงู„ْู…َู‡ْู„َุจُ . ูˆَุงุญْุชَุฌَّ ุงู„ْู…َู‡ْู„َุจُ ู„ِู‚َูˆْู„ِ ู…َู†ْ ุฌَุนَู„َ ุงู„ْู…َุนْู†َู‰ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุญَู‚ِูŠู‚َุฉِ ูَู‚َุงู„َ : ูˆَูŠَุฏُู„ُّ ุนَู„َู‰ ุฐَู„ِูƒَ ู…َุง ูŠُุฐْูƒَุฑُ ู…ِู†ْ ุชَุบْู„ِูŠู„ِ ุงู„ุดَّูŠَุงุทِูŠู†ِ ูˆَู…َุฑَุฏَุชِู‡ِู…ْ ุจِุฏُุฎُูˆู„ِ ุฃَู‡ْู„ِ ุงู„ْู…َุนَุงุตِู‰ ูƒُู„ِّู‡َุง ูِู‰ ุฑَู…َุถَุงู†َ ูِู‰ ุทَุงุนَุฉِ ุงู„ู„ู‡ِ ، ูˆَุงู„ุชَّุนَูُّูِ ุนَู…َّุง ูƒَุงู†ُูˆุง ุนَู„َูŠْู‡ِ ู…ِู†َ ุงู„ุดَّู‡َูˆَุงุชِ 

Artinya, “Begitu juga sabda Rasulullah SAW ‘setan-setan dibelenggu’ maksudnya adalah sesungguhnya dalam bulan Ramadhan Allah menjaga orang-orang muslim atau atau mayoritas mereka secara umum dari kemaksiatan, kecenderungan untuk mengikuti bisikan dan godaan setan.

Demikian sebagaimana dikemukakan oleh Ad-Dawudi dan Al-Mahlab. Al-Mahlab pun memberikan argumentasi yang mendukung kalangan yang memahami makna hadits ini dengan makna hakiki. Ia menyatakan bahwa setan terbelenggu karena para pendurhaka di bulan Ramadhan masuk ke dalam ketatatan kepada Allah dan menjauhkan diri dari hawa nafsunya,” (Lihat Ibnu Baththal, Syarhu Shahih al-Bukhari, juz IV, halaman 20). 

Berangkat dari penjelasan di atas, maka soal dibukanya pintu surga, ditutupnya pintu neraka, dan dibelenggunya setan, para ulama berbeda dalam memahaminya. 

Ada yang memahami dengan pendekatan makna hakiki sesuai bunyi teks haditsnya, dan ada juga yang memahami dengan pendekatan makna yang terdapat di balik bunyi teksnya (majazi). 


Semoga bisa dipahami dengan baik. Mumpung di bulan Ramdhan tingkatkan amal ibadah karena lebih cepat diterima. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq Wassalamu’alaikum wr. wb.

Jumat, 23 April 2021

PAHALA PUASA

PAHALA PUASA
==============


Dalam kitab Is’afu Ahlil Iman bi Wadza’if Syahri Ramadhan, sebuah kitab kecil yang secara khusus disajikan untuk mengupas hal-hal seputar puasa. Kitab ini ditulis oleh Syekh Hasan Al-Masyath, ulama kelahiran Makkah yang dijuluki Syaikhul ‘Ulama (gurunya para ulama).
Diantara murid beliau dari Nusantara.

diantara murid beliau adalah Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki (ulama pakar hadis yang fatwa-fatwanya banyak menjadi rujukan), Maulana Syekh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid (salah satu ulama besar Indonesia dari Lombok Timur, juga pendiri Nahdlatul Wathan dan tarekat Hizib Nahdlatul.

Dalam menjabarkan hadis yang termuat dalam setiap babnya, Syekh Al-Masyath menjabarkannya dalam bentuk catatan (ta’liq) secara padat dan berisi. 

Contoh saja saat menjelaskan salah satu keutamaan orang berpuasa dengan mengutip hadis di bawah ini: 

ูƒُู„ُّ ุนَู…َู„ِ ุงุจْู†ِ ุขุฏَู…َ ูŠُุถَุงุนَูُ ุงู„ْุญَุณَู†َุฉُ ุนَุดْุฑُ ุฃَู…ْุซَุงู„ِู‡َุง ุฅِู„َู‰ ุณَุจْุนِู…ِุงุฆَุฉِ ุถِุนْูٍ ู‚َุงู„َ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَุฒَّ ูˆَุฌَู„َّ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ุตَّูˆْู…َ ูَุฅِู†َّู‡ُ ู„ِู‰ ูˆَุฃَู†َุง ุฃَุฌْุฒِู‰ ุจِู‡ِ 

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya.” 

Jika kita pahami hadis ini secara tekstual, tentu akan janggal.

Bukannya semua amal ibadah akan dibalas oleh Allah? Bukan hanya ibadah puasa. Shalat, zakat, haji dan ibadah lainnya pasti akan Allah balas. 

Mengapa redaksi hadis di atas seolah menegaskan bahwa hanya puasa yang Allah balas? Menurut Syekh Al-Masyath, hadis ini menunjukkan bahwa ibadah puasa lebih unggul dibanding ibadah lainnya dengan beberapa argumen berikut: 

Pertama , puasa adalah ibadah yang tidak terlihat secara gerakan, berbeda dengan ibadah pada umumnya. Jika kita misal shalat, zakat ataupun haji, maka ibadah yang kita lakukan pasti terlihat orang; saat kita melakukan shalat, gerakan shalat kita memperlihatkan kita sedang shalat. Saat sedang menunaikan zakat, orang lain melihat kita melakukan zakat. Pun saat kita haji, orang lain melihat bagaimana kita melakukan ibadah tersebut. Lain halnya dengan berpuasa. 

Ketika seseorang berpuasa, tidak ada gerakan yang menunjukan kita sedang berpuasa. Contoh sederhananya, saat kita melihat dua orang berdampingan duduk, mereka tidak minum atau makan. Satu sedang berpuasa dan yang satu tidak. Apa kita bisa menebak mana yang puasa dan mana yang tidak? Sulit, bukan? Karena ibadah puasa tidak terihat secara  eksplisit oleh orang lain, maka sulit untuk terjerumus dalam sifat pamer ibadah (riya). 

Jika pun sengaja pamer puasa, hanya mampu diungkapkan dalam kata-kata saja. “Saya sedang puasa. loh,” dengan tujuan pamer, misalkan. Tidak bisa diungkapkan dalam sebuah gerakan. Berbeda dengan ibadah-ibadah yang lainnya. 

Kedua, puasa adalah ibadah yang mampu mengekang syahwat dengan sebab meninggalkan makan dan minum. Sementara syahwat adalah pintu utama bagi syaitan. 

Hal ini menjadikan puasa memiliki nilai lebih dibanding ibadah umumnya.

Ketiga, hanya Allah yang mengetahui bobot pahala ibadah puasa. Berbeda dengan ibadah lainnya, pahalanya sudah diberitahukan penggandaan 10 sampai 700 kali lipat, sampai yang Allah kehendaki. 

Keempat , balasan orang yang berpuasa adalah berjumpa dan berbincang langsung dengan Allah swt di akhirat kelak, tanpa ada penghalang apapun. Sementara ibadah selain puasa, pahalanya adalah surga. 

Tentu, berjumpa dengan Allah swt adalah nikmat paling agung, lebih agung daripada nikmat mendapat surga dan seisinya.

Selasa, 20 April 2021

HADIST AT TIRMIDZI NO 2910


HADIST AT TIRMIDZI NO 2910
========================

ุญَุฏَّุซَู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏُ ุจูۡ†ُ ุจَุดَّุงุฑٍ، ู‚َุงู„َ: ุญَุฏَّุซَู†َุง ุฃَุจُูˆ ุจَูƒุۡฑٍ ุงู„ุۡญَู†َูِูŠُّ، ู‚َุงู„َ: ุญَุฏَّุซَู†َุง ุงู„ุถَّุญَّุงูƒُ ุจูۡ†ُ ุนُุซูۡ…َุงู†َ، ุนَู†ۡ ุฃَูŠُّูˆุจَ ุจูۡ†ِ ู…ُูˆุณَู‰، ู‚َุงู„َ: ุณَู…ِุนุۡชُ ู…ُุญَู…َّุฏَ ุจูۡ†َ ูƒَุนุۡจٍ ุงู„ูۡ‚ُุฑَุธِูŠَّ ูŠَู‚ُูˆู„ُ: ุณَู…ِุนุۡชُ ุนَุจุۡฏَ ุงู„ู„ู‡ِ ุจูۡ†َ ู…َุณุۡนُูˆุฏٍ ูŠَู‚ُูˆู„ُ: ู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ๏ทบ: 

Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Abu Bakr Al-Hanafi menceritakan kepada kami, beliau berkata: Adh-Dhahhak bin 'Utsman menceritakan kepada kami, dari Ayyub bin Musa, beliau berkata: Aku mendengar Muhammad bin Ka'b Al-Qurazhi berkata: Aku mendengar 'Abdullah bin Mas'ud berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


ู…َู†ْ ู‚َุฑَุฃَ ุญَุฑْูًุง ู…ِู†ْ ูƒِุชَุงุจِ ุงู„ู„َّู‡ِ ูَู„َู‡ُ ุจِู‡ِ ุญَุณَู†َุฉٌ ูˆَุงู„ْุญَุณَู†َุฉُ ุจِุนَุดْุฑِ ุฃَู…ْุซَุงู„ِู‡َุง ู„َุง ุฃَู‚ُูˆู„ُ ุงู„ู… ุญَุฑْูٌ ูˆَู„َูƒِู†ْ ุฃَู„ِูٌ ุญَุฑْูٌ ูˆَู„َุงู…ٌ ุญَุฑْูٌ ูˆَู…ِูŠู…ٌ ุญَุฑْูٌ

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitabullah (al-Qur’an) maka baginya satu kebaikan, dan setiap satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat kebaikan yang sama dengannya, aku tidak berkata ‘alif laam miim’ satu huruf, akan tetapi ‘alif ’ satu huruf, ‘lam’ satu huruf, dan ‘mim’ satu huruf.” (HR. at-Tirmidzi, no. 2910)

Kamis, 15 April 2021

SEJARAH DAN SANAD KEILMUAN ULAMA NUSANTARA

Dalam peringatan haul Kiai Ali Maksum di Krapyak pada Rabu (23/12/2020), Kiai Abdul Ghofur Maimoen (Gus Ghofur) menyatakan minatnya untuk mengkaji dan menggali jejaring ulama-ulama Nusantara. Bagi Gus Ghofur, mengetahui sejarah dan genealogi keilmuan para ulama Nusantara adalah sesuatu yang sangat penting.

Gus Baha yang menjadi pembicara dalam acara itu juga banyak bercerita tentang koneksi ulama-ulama zaman dulu yang pada intinya semuanya masih bersambung pada kiai yang sedang di-hauli, yaitu Kiai Ali Maksum, dan juga kiai-kiai lainnya dari berbagai pesantren. Tulisan ini bermaksud mengelaborasi apa yang disampaikan oleh Gus Ghofur dan Gus Baha mengenai sejarah dan sanad keilmuan para para ulama Nusantara.

Kita mulai dari Walisongo. Referensi yang menurut subjektivitas saya sangat otoritatif (mu’tamad) adalah buku “Atlas Walisongo” karya Agus Sunyoto. Jawaban mengapa Islam baru diterima secara luas di Nusantara pada era Walisongo, yaitu pada sekitar abad ke-15/16 ada di buku itu. Yang jelas, kearifan dakwah Walisongo dengan pendekatan sufistik sangat berperan dalam islamisasi Jawa.

Satu tema yang menarik dalam pembahasan Islam era Walisongo adalah “pertikaian” Walisongo dengan Syekh Siti Jenar. Ia sangat kontroversial, ada yang bilang sesat, ada yang bilang sebenarnya tidak sesat. Kita harus membaca karya Abdul Munir Mulkhan, Agus Sunyoto, dan karya lainnya untuk tahu detailnya, tetapi secara umum Siti Jenar dianggap sesat karena mengajarkan tasawuf wujudiyah (manunggaling kawulo Gusti).

Ada pula informasi yang menyatakan bahwa pertikaian Walisongo dengan Siti Jenar bukan dipicu oleh paham wahdatul wujud, melainkan karena Siti Jenar menyebarkan faham syiah. Artinya, pertikaian itu dilakukan dalam rangka mengarusutamakan paham Ahlus sunnah wal jamaah (Aswaja). Perjuangan Walisongo kemudian diteruskan Sultan Agung yang pada tahun 1641 memperoleh legitimasi dari Syarif Makkah sebagai “Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarani”.

Dari Jawa kita menyeberang ke Pulau Sumatera, khususnya Kesultanan Aceh. Di situ terdapat “produk pesantren paling awal” kalau menurut Zamakhsyari Dhofier, yaitu Hamzah Fansuri.

Dia masyhur sebagai penganut tasawuf wahdatul wujud dan pernah menjadi Syekhul Islam (jabatan tinggi di Kesultanan Aceh yang mengurus masalah agama) pada masa Sultan Alauddin Riayat Syah. Hamzah memiliki seorang murid bernama Syamsuddin Sumatrani yang kelak juga menjadi Syekhul Islam di Kesultanan Aceh.

Bisa dikatakan Aceh pada periode itu dikuasai oleh pengaruh Hamzah Fansuri yang notabene beraliran wahdatul wujud. Tapi kemudian datang seorang ulama asli Ranir, India, yaitu Nuruddin Ar-Raniri. Dia menjadi syekhul Islam di Aceh tahun 1637 tidak terlalu lama setelah Hamzah dan Syamsuddin.

Dialah yang melakukan “syariatisasi” di sana. Dia dinilai terlalu keras terhadap pengikut wujudiyah dengan melarang buku-buku Hamzah Fansuri dan bahkan memerangi pengikutnya karena dianggapnya sesat.

Kita berterima kasih kepada Azyumardi Azra yang telah menulis disertasi tentang jaringan ulama Nusantara dan Timur Tengah abad 17-18. Banyak informasi penting di buku itu yang secara garis besar menunjukkan bahwa pada abad itu, ulama Nusantara mulai dari Nuruddin Ar-Raniri, Abdur Rauf As Singkili, Syekh Yusuf Maqassari, kemudian Arsyad Al Banjari, Dawud Al Fattani (Patani Tailand) terkoneksi dengan ulama-ulama di Makkah, Madinah, Mesir, Yaman, dan lain-lain.

Ulama-ulama Nusantara tersebut terhubung dengan Syekh Ibrahim Al Kurani, Zakariya Al Anshari, Murtadha Az Zabidi (yang karyanya tentang syarh Ihya “Ithaf” sering disebut Gus Baha), Al Barzanji yang menulis maulid Barzanji dan “Lujain Ad Dani” tentang manaqib Syekh Abdul Qodir Jailani, dan lain-lain. Kita jadi tidak asing kenapa di pesantren banyak dikaji kitab-kitab ulama-ulama di atas.

Dari abad 17-18 kita naik ke abad 19. Inilah masa “keemasan ulama Jawa di Haromain”. Tentu kita sangat familiar dengan Syekh Nawawi Banten, Syekh Ahmad Khatib Sambas, Syekh Mahfud Termas, Syekh Kholil Bangkalan, Syekh Soleh Darat, Syekh Khotib Minangkabau, dan lain-lain. Di sini kita berhutang pada Abdurrahman Mas’ud yang menulis disertasi berjudul “Dari Haromain ke Nusantara”.

Syekh Nawawi Banten, ulama yang bergelar “sayyidu ulami hijaz” adalah kiai ensiklopedis. Beliau mempunyai banyak karangan di bidang fikih, tafsir, akhlak, dan lain-lain. Reputasi keulamaannya sangat tinggi. Beliau pernah diundang untuk berceramah di Universitas Al-Azhar Kairo. Menurut Snouck Hurgronje di bukunya tentang Makkah pada akhir abad 19, tidak ada orang Jawa yang tidak mencium tangan Syekh Nawawi, sebagai bentuk penghormatan.

Syekh Nawawi punya murid Syekh Mahfud Termas yang terutama karena penguasaannya di bidang hadis beliau dijuluki “Al Bukhori Abad 19”. Syekh Mahfud lalu punya murid bernama Kiai Hasyim Asyari (Pendiri NU).

Mbah Hasyim sebenarnya juga berguru pada Syekh Khatib Minangkabau yang berpikir “modernis” ala Abduh di Mesir, tapi beliau lebih intens belajar kepada Syekh Mahfud. Kiai Ahmad Dahlanlah (Pendiri Muhammadiyah) yang berguru pada Syekh Khatib Minangkabau dengan intens sehingga corak pemikirannya bisa dikatakan mirip dengan Syekh Khatib.

Jangan lupa, di masa itu ada Syekh Ahmad Khatib Sambas yang dikenal sebagai pendiri tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Syekh Nawawi walaupun kata Snouck tidak mengajarkan atau melarang muridnya untuk bertarekat, tapi beliau mengaku sebagai pengikut Syekh Khatib Sambas. Beda dengan Syekh Khatib Minangkabau yang tidak sepakat dengan tarekat.

Kiai Hasyim Asyari juga berguru pada Syekh Nawawi. Artinya beliau tunggal guru dengan gurunya, yakni Mbah Kholil Bangkalan, yang juga berguru pada Syekh Nawawi. Kiai Mahfud yang punya guru bernama Abu Bakr Syatha (penulis kitab fikih “Ianatu Thalibin” yang banyak dipelajari di pesantren) mempunyai adik yang juga alim, namanya Kiai Dimyati. Nama yang disebut terakhir merupakan pengasuh pesantren Termas Jawa Timur.

Pada akhir abad 19 dan awal abad 20, banyak kiai lulusan Hijaz yang mendirikan pesantren di Jawa dan menjadi pusat keilmuan Islam. Selain Pesantren Kiai Kholil Bangkalan, Kiai Zubaer Sarang, dan lainnya, dua pesantren yang menjadi pusat keilmuan waktu itu adalah Pesantren Tebu Ireng dan Pesantren Termas. Dari pesantren-pesantren inilah, kelak muncul kiai-kiai yang kemudian menjadi “pembesar kiai abad 20” seperti Kiai Ali Maksum, Kiai Muslih Mranggen, Kiai Hamid Pasuruan, dan banyak kiai lainnya.

Kiai-kiai pendiri pesantren tersebut kebanyakan saling menjalin hubungan kekerabatan (dzurriyatun ba’dhuha min ba’dh) dengan cara menikahkan putra-putri mereka. Dengan demikian ikatan emosional di antara para kiai pesantren-pesantren itu terjalin sangat kuat. 

Wallahu a’lam bis shawab.

(Sanhaji)


CARA MENUNDUKKAN HAWA NAFSU

CARA MENUNDUKKAN HAWA NAFSU 
============================


 ุงู„ุญَู…ْุฏُ ู„ู„ู‡ِ ุงู„َّุฐِูŠْ ุฃَู†ْุฒَู„َ ุงู„ุณَّูƒِูŠْู†َุฉَ ุนَู„َู‰ ู‚ُู„ُูˆْุจِ ุงْู„ู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ ุงู„ู…ُุคْู…ِู†ِูŠْู†َ، ูˆَุฌَุนَู„َ ุงู„ุถِّูŠุงَู‚َ ุนَู„َู‰ ู‚ُู„ُูˆْุจِ ุงู„ْู…ُู†َุงูِู‚ِูŠْู†َ ูˆَุงู„ْูƒَุงูِุฑِูŠْู†َ. ุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†ْ ู„َุง ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„َّุง ุงู„ู„ู‡ُ ุงู„ْู…َู„ِูƒُ ุงْู„ุญَู‚ُّ ุงْู„ู…ُุจِูŠْู†ُ. ูˆَุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†َّ ู…ُุญَู…َّุฏًุง ุนَุจْุฏُู‡ُ ูˆَุฑَุณُูˆْู„ُู‡ُ ุงู„ุตَّุงุฏِู‚ُ ุงู„ْูˆَุนْุฏِ ุงู„ุฃَู…ِูŠْู†ِ. ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุตَู„ِّ ูˆَุณَู„ู…ِّ ุนَู„َู‰ ุณَูŠِّุฏِู†َุง ูˆَู…َูˆْู„َุงู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ ุงู„ู…َุจْุนُูˆْุซِ ุฑَุญْู…َุฉً ู„ِู„ْุนَุงู„َู…ِูŠْู†َ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِู‡ِ ูˆَุตَุญْุจِู‡ِ ูˆَุงู„ุชَّุงุจِุนِูŠْู†َ ู„َุงุญَูˆْู„َ ูˆَู„َุงู‚ُูˆَّุฉَ ุฅِู„َّุง ุจِุงู„ู„ู‡ِ ุงْู„ุนَู„ِูŠِّ ุงْู„ุนَุธِูŠْู…ِ. ุฃَู…َّุง ุจَุนْุฏُ ุฃَูŠُّู‡ุงَ ุงْู„ุญَุงุถِุฑُูˆْู†َ ุงْู„ู…ُุณْู„ِู…ُูˆْู†َ ุฑَุญِู…َูƒُู…ُ ุงู„ู„ู‡ُ ุฃُูˆْุตِูŠْูƒُู…ْ ูˆَุฅِูŠَّุงูŠَ ุจِุชَู‚ْูˆَู‰ ุงู„ู„ู‡ِ. ู‚َุงู„َ ุงู„ู„ู‡ُ ุชَุนَุงู„ู‰َ ูِูŠ ูƒِุชَุงุจِู‡ِ ุงู„ْูƒَุฑِูŠْู…ِ: ูˆَู…َู† ูŠَุชَّู‚ِ ุงู„ู„َّู‡َ ูŠَุฌْุนَู„ ู„َّู‡ُ ู…َุฎْุฑَุฌًุง ูˆَูŠَุฑْุฒُู‚ْู‡ُ ู…ِู†ْ ุญَูŠْุซُ ู„َุง ูŠَุญْุชَุณِุจُ 


Jamaah shalat Jumat Rahimakumullรขh,  

Nafsu merupakan bagian dari makhluk Allah. Dengan berbekal nafsu pula manusia dapat menjalankan kehidupannya secara wajar sebagai makhluk hidup yang hidup di alam dunia. 

Berbagai kebutuhan penting manusia, seperti makan, minum, tidur, menikah, dan lain sebagainya, melibatkan nafsu di dalamnya.

Karena itu, secara alamiah nafsu bukanlah hal yang mutlak buruk. Namun demikian, nafsu memiliki kecederungan-kecenderungan untuk menyimpang. Kerena itu, dalam Islam terkandung anjuran kuat untuk mengendalikan nafsu. 

Memang manusia tak diperintahkan untuk memusnahkannya, namun nafsu harus memegang kuasa penuh atasnya agar selamat dari jebakan dan godaan-godaannya yang menjerumuskan. 

Pilihannya hanya dua, apakah kita menguasai nafsu atau justru dikuasai oleh nafsu. 

Dua pilihan ini pula yang menentukan apakah kita akan memperoleh kebahagiaan hakiki atau tidak. 

Imam Abu Hamid al-Ghazali pernah mengatakan dalam kitab Ihyรข’
‘ร›lรปmiddรฎn: 

ุงู„ุณَّุนَุงุฏَุฉُ ูƒُู„ُّู‡َุง ูِูŠ ุฃَู†ْ ูŠَู…ْู„ِูƒَ ุงู„ุฑَّุฌُู„ُ ู†َูْุณَู‡ُ ูˆَุงู„ุดَّู€ู€ู‚َู€ู€ุงูˆَุฉُ ูِูŠ ุฃَู†ْ ุชَู…ْู€ู„ِู€ูƒَู€ู€ู€ู‡ُ ู†َูْู€ุณُู€ู€ู€ู€ู‡ُ 

“Kebahagiaan adalah ketika seseorang mampu menguasai nafsunya. Kesengsaraan adalah saat seseorang dikuiasai nafsunya.”

Jamaah shalat Jumat Rahimakumullรขh, Tentu saja, usaha mengendalikan nafsu ini bukan perkejaan yang mudah. 

Karakter nafsu yang tak tampak dan kerapkali membawa efek kenikmatan menjadikannya sebagai musuh paling sulit untuk diperangi.

Rasulullah sendiri mengistilahkan ikhtiar pengendalian nafsu ini dengan “jihad”, yakni jihรขdun nafsi. Sepulang dari perang badar, Nabi ๏ทบ bersabda, “Kalian semua pulang dari sebuah pertempuran kecil dan bakal menghadapi pertempuran yang lebih besar. 

Lalu ditanyakan kepada Rasulullah ๏ทบ, ‘Apakah pertempuran akbar itu, wahai Rasulullah?’ Rasul menjawab, ‘jihad (memerangi) hawa nafsu’.” 

Nafsu menjadi musuh paling berat dan berbahaya karena yang dihadapi adalah diri sendiri. 

Ia menyelinap ke dalam diri hamba yang lalai, lalu memunculkan perilaku-perilaku tercela, seperti ujub, pamer, iri, meremehkan orang lain, dusta, khianat, memakan penghasilan haram, dan seterusnya. 

Lantas, bagaimana cara efektif yang bisa kita ikhtiarkan untuk jihรขdun nafsi, jihad mengendalikan nafsu ini?

Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah, Dalam Futuhat Al-Makkiyah karya Muhyiddin ibn Arabi, diceritakan bahwa ketika pertama kali menciptakan nafsu, Allah bertanya, "Siapa Aku?". Nafsu membangkang dan malah balik bertanya, "Siapa pula aku ini". 

Allah ๏ทป murka, kemudian memasukkan nafsu dalam lautan lapar sampai seribu tahun. 

Kemudian dientas dan ditanya lagi, "Siapa Aku?". Setelah dihajar dengan lapar barulah nafsu mengakui siapa dirinya dan Tuhannya. "Engkau adalah Tuhanku Yang Maha Agung, dan aku hamba-Mu yang lemah". 

Sejalan dengan itu, Abu Sulaiman Ad-Daroni juga berkata, "Kunci dunia adalah kenyang dan kunci akhirat adalah lapar." Syekh Abdul Wahhab asy-Sya’rani dalam kitab al-Minahus Saniyyah menjelaskan bahwa maksud dari perkataan ini adalah: Allah memberikan ilmu dan kebijaksanaan (hikmah) pada orang-orang yang berpuasa dan menjadikan kebodohan dan tindak kemaksiatan pada mereka yang kenyang. 

Makan kenyang dan nafsu adalah dua komponen yang saling mendukung. Terkait hal ini, menurut Syekh Abdul Wahhab asy-Sya’rani, hal pertama yang penting dilakukan untuk mengendalikan hawa nafsu adalah  melalui puasa. 

Nafsu ibarat kayu kering, sementara makanan adalah bahan bakarnya. Api yang menjalar pada kayu itu akan kian berkobar manakala bahan bakar disuplai tanpa batas. 

Untuk memadamkannya, perlu strategi untuk mengurangi, bahkan menghabiskan, bahan bakar tersebut. Secara luas, berpuasa juga bisa dimaknai menahan diri dari berbagai keinginan-keinginan yang tak terlalu penting. 

Meskipun halal, mencegah diri—misalnya—dari keinginan baju baru yang lebih mewah dari yang sudah ada termasuk cara kita untuk menguasai nafsu. Contoh lainnya: menyisihkan harta untuk membantu orang lain yang butuh ketimbang untuk membeli perhiasan, dan sejenisnya. 

Sikap-sikap seperti ini dalam jangka panjang akan menjauhkan hati manusia dari sikap tamak, mau menang sendiri, egois, dan lain sebagainya. 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah, 

Cara kedua untuk menundukkan hawa nafsu sebagaimana tertuang dalam al-Minahus Saniyyah adalah mengurangi tidur. 

Ini bukan berarti kita begadang dengan ragam kegiatan yang mubazir. Tidur, sebagaimana juga makanan, bisa menjadi sumber yang menutup kejernihan kita dalam menerima cahaya Tuhan. Mengurangi tidur berarti bergiat bagun menunaikan shalat malam, memperbanyak dzikir, serta bermunajat kepada Allah, dan kegiatan-kegiatan "berat" lainnya. Rasululah ๏ทบ bersabda: 

ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ุจِู‚ِูŠَุงู…ِ ุงู„ู„َّูŠْู„ِ ، ูَุฅِู†َّู‡ُ ุฏَุฃْุจُ ุงู„ุตَّุงู„ِุญِูŠู†َ ู‚َุจْู„َูƒُู…ْ ، ูˆَู‡ُูˆَ ู‚ُุฑْุจَุฉٌ ุฅِู„َู‰ ุฑَุจِّูƒُู…ْ ، ูˆَู…َูƒْูَุฑَุฉٌ ู„ِู„ุณَّูŠِّุฆَุงุชِ ، ูˆَู…َู†ْู‡َุงุฉٌ ู„ِู„ุฅِุซْู…ِ 

“Laksanakanlah qiyamul lail (shalat malam) karena ia merupakan kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, mendekatkan kepada Rabb kalian, menghapus dosa-dosa kalian, dan menjauhkan kalian dari berbuat dosa.” (HR at-Tirmidzi).

Bisa dikatakan, nafsu ibarat hewan beringas dan nakal. Untuk menjinakkannya, menjadikan hewan itu lapar dan payah merupakan pilihan strategi yang efektif. 

Selama proses penundukkan itu, nafsu mesti disibukkan dengan hal-hal positif agar semakin jinak dan tidak buas. 

Untuk menjernihkan rohani, Syekh Abu Hasan Al-Azzaz rahimahullah pernah mengingatkan tiga hal, 

Tidak makan kecuali di waktu sangat lapar

tidak tidur kecuali sangat kantuk

dan tidak berbicara kecuali bila sangat perlu. 

Kekayaan, makanan, dan tidur adalah tiga hal yang sangat akrab dengan keseharian kita. Saking akrabnya kadang kita tak merasakan ada masalah dalam tiga hal ini. 

Padahal—karena statusnya yang mubah—kerap kali kita mengumbar begitu saja keinginan-keinginan kita hingga terlena bahwa apa yang kita lakukan sama seperti menumpuk-numpuk kabut pekat dalam hati kita. 

Lama-lama kalbu kita pun semakin gelap, sehingga mudah sekali dikuasai nafsu buruk yang sudah dicegah. Semoga kita dikaruniai kekuatan untuk senantiasa bertobat, terbuai dengan kenikmatan yang fana, sadar akan kewajiban sebagai hamba, dan kelak meraih kebahagiaan hakiki berjumpa dengan Allah ๏ทบ. ร‚mรฎn. 
Wallรขhu a‘lam bish shawรขb. 

ุจَุงุฑَูƒَ ุงู„ู„ู‡ ู„ِูŠ ูˆَู„َูƒُู…ْ ูِู‰ ุงْู„ู‚ُุฑْุขู†ِ ุงْู„ุนَุธِูŠْู…ِ، ูˆَู†َูَุนَู†ِูŠ ูˆَุฅِูŠَّุงูƒُู…ْ ุจِู…َุงูِูŠْู‡ِ ู…ِู†ْ ุขูŠَุฉِ ูˆَุฐِูƒْุฑِ ุงู„ْุญَูƒِูŠْู…ِ ูˆَุชَู‚َุจَّู„َ ุงู„ู„ู‡ُ ู…ِู†َّุง ูˆَู…ِู†ْูƒُู…ْ ุชِู„ุงَูˆَุชَู‡ُ ูˆَุฅِู†َّู‡ُ ู‡ُูˆَ ุงู„ุณَّู…ِูŠْุนُ ุงู„ุนَู„ِูŠْู…ُ، ูˆَุฃَู‚ُูˆْู„ُ ู‚َูˆْู„ِูŠ ู‡َุฐَุง ูَุฃุณْุชَุบْูِุฑُ ุงู„ู„ู‡َ ุงู„ุนَุธِูŠْู…َ ุฅِู†َّู‡ُ ู‡ُูˆَ ุงู„ุบَูُูˆْุฑُ ุงู„ุฑَّุญِูŠْู… 

Khutbah II 

ุงَู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ู„ู‡ِ ุนَู„ู‰َ ุฅِุญْุณَุงู†ِู‡ِ ูˆَุงู„ุดُّูƒْุฑُ ู„َู‡ُ ุนَู„ู‰َ ุชَูˆْูِูŠْู‚ِู‡ِ ูˆَุงِู…ْุชِู†َุงู†ِู‡ِ. ูˆَุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†ْ ู„ุงَ ุงِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุญْุฏَู‡ُ ู„ุงَ ุดَุฑِูŠْูƒَ ู„َู‡ُ ูˆَุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃู†َّ ุณَูŠِّุฏَู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏًุง ุนَุจْุฏُู‡ُ ูˆَุฑَุณُูˆْู„ُู‡ُ ุงู„ุฏَّุงุนِู‰ ุฅู„ู‰َ ุฑِุถْูˆَุงู†ِู‡ِ. ุงู„ู„ู‡ُู…َّ ุตَู„ِّ ุนَู„َู‰ ุณَูŠِّุฏِู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆِุนَู„َู‰ ุงَู„ِู‡ِ ูˆَุฃَุตْุญَุงุจِู‡ِ ูˆَุณَู„ِّู…ْ ุชَุณْู„ِูŠْู…ًุง ูƒِุซูŠْุฑًุง ุฃَู…َّุง ุจَุนْุฏُ ูَูŠุงَ ุงَูŠُّู‡َุง ุงู„ู†َّุงุณُ ุงِุชَّู‚ُูˆุง ุงู„ู„ู‡َ ูِูŠْู…َุง ุฃَู…َุฑَ ูˆَุงู†ْุชَู‡ُูˆْุง ุนَู…َّุง ู†َู‡َู‰ ูˆَุงุนْู„َู…ُูˆْุง ุฃَู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ุฃَู…َุฑَูƒُู…ْ ุจِุฃَู…ْุฑٍ ุจَุฏَุฃَ ูِูŠْู‡ِ ุจِู†َูْุณِู‡ِ ูˆَุซَู€ู†َู‰ ุจِู…َู„ุข ุฆِูƒَุชِู‡ِ ุจِู‚ُุฏْุณِู‡ِ ูˆَู‚َุงู„َ ุชَุนุงَู„َู‰ ุฅِู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ูˆَู…َู„ุขุฆِูƒَุชَู‡ُ ูŠُุตَู„ُّูˆْู†َ ุนَู„ู‰َ ุงู„ู†َّุจِู‰ ูŠุข ุงَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠْู†َ ุขู…َู†ُูˆْุง ุตَู„ُّูˆْุง ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„ِّู…ُูˆْุง ุชَุณْู„ِูŠْู…ًุง. ุงู„ู„ู‡ُู…َّ ุตَู„ِّ ุนَู„َู‰ ุณَูŠِّุฏِู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„ِّู…ْ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِ ุณَูŠِّุฏِู†ุงَ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุนَู„َู‰ ุงَู†ْุจِูŠุขุฆِูƒَ ูˆَุฑُุณُู„ِูƒَ ูˆَู…َู„ุขุฆِูƒَุฉِ ุงْู„ู…ُู‚َุฑَّุจِูŠْู†َ ูˆَุงุฑْุถَ ุงู„ู„ّู‡ُู…َّ ุนَู†ِ ุงْู„ุฎُู„َูَุงุกِ ุงู„ุฑَّุงุดِุฏِูŠْู†َ ุฃَุจِู‰ ุจَูƒْุฑٍ ูˆَุนُู…َุฑ ูˆَุนُุซْู…َุงู† ูˆَุนَู„ِู‰ ูˆَุนَู†ْ ุจَู‚ِูŠَّุฉِ ุงู„ุตَّุญَุงุจَุฉِ ูˆَุงู„ุชَّุงุจِุนِูŠْู†َ ูˆَุชَุงุจِุนِูŠ ุงู„ุชَّุงุจِุนِูŠْู†َ ู„َู‡ُู…ْ ุจِุงِุญْุณَุงู†ٍ ุงِู„َู‰ูŠَูˆْู…ِ ุงู„ุฏِّูŠْู†ِ ูˆَุงุฑْุถَ ุนَู†َّุง ู…َุนَู‡ُู…ْ ุจِุฑَุญْู…َุชِูƒَ ูŠَุง ุฃَุฑْุญَู…َ ุงู„ุฑَّุงุญِู…ِูŠْู†َ ุงَู„ู„ู‡ُู…َّ ุงุบْูِุฑْ ู„ِู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠْู†َ ูˆَุงْู„ู…ُุคْู…ِู†َุงุชِ ูˆَุงْู„ู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ ูˆَุงْู„ู…ُุณْู„ِู…َุงุชِ ุงَู„ุงَุญْูŠุขุกُ ู…ِู†ْู‡ُู…ْ ูˆَุงْู„ุงَู…ْูˆَุงุชِ ุงู„ู„ู‡ُู…َّ ุฃَุนِุฒَّ ุงْู„ุฅِุณْู„ุงَู…َ ูˆَุงْู„ู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ ูˆَุฃَุฐِู„َّ ุงู„ุดِّุฑْูƒَ ูˆَุงْู„ู…ُุดْุฑِูƒِูŠْู†َ ูˆَุงู†ْุตُุฑْ ุนِุจَุงุฏَูƒَ ุงْู„ู…ُูˆَุญِّุฏِูŠَّุฉَ ูˆَุงู†ْุตُุฑْ ู…َู†ْ ู†َุตَุฑَ ุงู„ุฏِّูŠْู†َ ูˆَุงุฎْุฐُู„ْ ู…َู†ْ ุฎَุฐَู„َ ุงْู„ู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ ูˆَ ุฏَู…ِّุฑْ ุฃَุนْุฏَุงุกَ ุงู„ุฏِّูŠْู†ِ ูˆَุงุนْู„ِ ูƒَู„ِู…َุงุชِูƒَ ุฅِู„َู‰ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ุฏِّูŠْู†ِ. ุงู„ู„ู‡ُู…َّ ุงุฏْูَุนْ ุนَู†َّุง ุงْู„ุจَู„ุงَุกَ ูˆَุงْู„ูˆَุจَุงุกَ ูˆَุงู„ุฒَّู„ุงَุฒِู„َ ูˆَุงْู„ู…ِุญَู†َ ูˆَุณُูˆْุกَ ุงْู„ูِุชْู†َุฉِ ูˆَุงْู„ู…ِุญَู†َ ู…َุง ุธَู‡َุฑَ ู…ِู†ْู‡َุง ูˆَู…َุง ุจَุทَู†َ ุนَู†ْ ุจَู„َุฏِู†َุง ุงِู†ْุฏُูˆู†ِูŠْุณِูŠَّุง ุฎุขุตَّุฉً ูˆَุณَุงุฆِุฑِ ุงْู„ุจُู„ْุฏَุงู†ِ ุงْู„ู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ ุนุขู…َّุฉً ูŠَุง ุฑَุจَّ ุงْู„ุนَุงู„َู…ِูŠْู†َ. ุฑَุจَّู†َุง ุขุชِู†ุงَ ูِู‰ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ุญَุณَู†َุฉً ูˆَูِู‰ ุงْู„ุขุฎِุฑَุฉِ ุญَุณَู†َุฉً ูˆَู‚ِู†َุง ุนَุฐَุงุจَ ุงู„ู†َّุงุฑِ. ุฑَุจَّู†َุง ุธَู„َู…ْู†َุง ุงَู†ْูُุณَู†َุง ูˆَุงุฅู†ْ ู„َู…ْ ุชَุบْูِุฑْ ู„َู†َุง ูˆَุชَุฑْุญَู…ْู†َุง ู„َู†َูƒُูˆْู†َู†َّ ู…ِู†َ ุงْู„ุฎَุงุณِุฑِูŠْู†َ. ุนِุจَุงุฏَุงู„ู„ู‡ِ ! ุฅِู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ูŠَุฃْู…ُุฑُู†َุง ุจِุงْู„ุนَุฏْู„ِ ูˆَุงْู„ุฅِุญْุณَุงู†ِ ูˆَุฅِูŠْุชุขุกِ ุฐِูŠ ุงْู„ู‚ُุฑْุจู‰َ ูˆَูŠَู†ْู‡َู‰ ุนَู†ِ ุงْู„ูَุญْุดุขุกِ ูˆَุงْู„ู…ُู†ْูƒَุฑِ ูˆَุงْู„ุจَุบْูŠ ูŠَุนِุธُูƒُู…ْ ู„َุนَู„َّูƒُู…ْ ุชَุฐَูƒَّุฑُูˆْู†َ ูˆَุงุฐْูƒُุฑُูˆุง ุงู„ู„ู‡َ ุงْู„ุนَุธِูŠْู…َ ูŠَุฐْูƒُุฑْูƒُู…ْ ูˆَุงุดْูƒُุฑُูˆْู‡ُ ุนَู„ู‰َ ู†ِุนَู…ِู‡ِ ูŠَุฒِุฏْูƒُู…ْ ูˆَู„َุฐِูƒْุฑُ ุงู„ู„ู‡ِ ุฃَูƒْุจَุฑْ 

(Sanhaji)

SHALAT TARAWIH 20 RAKAAT SELAMA TUJUH (7) MENIT ITU TERLALU…..


Berikut penjelasan Gus Baha:

Saya kalau Tarawih itu milih jadi makmum. Masalahnya, nanti kalau ada salahnya dan ditanya Allah:

Ha’, sujud kok cepete ngono!? (Ha’, sujud kok cepat begitu!?)”

Lah imame cepet ngoten Gusti (Allah). Jarene makmum ken anut imam!? (kan imamnya cepat, Gusti. Katanya makmum harus ikut imam!?).”

Makanya, kelak yang ‘diburu’ (dimintai pertanggungjawaban) adalah imam.

Menurut Fikih kan, wa yajibu alal-makmuumi mutaaba’atul imaam (makmum wajib mengikuti imam).

Kelak kalau ditanyai Allah, “Ha’, shalatmu kok cepet ora thuma’ninah?”


“Imame, Gusti. Kulo kan wajib anut imam (imamnya, Gusti. Saya kan wajib mengikuti imam).”


Ganti si imam ditanyai, “Imam, kenapa kok sholatmu cepet!?”

“Permintaan pasar,” jawab imam.

Bebas hisab!

Imam melakukan itu karena tahu, konsumennya minta seperti itu. Sebab kalau mencoba Tarawih lama, musholla-nya sepi.

Wong cah enom kalau Tarawih takok, “Seng cepet endi?” Ora, “Seng apik endi?” (anak muda kalau Tarawih tanya, “Yang cepat mana?” Bukan, “Yang baik mana?”).

Saya pernah di Lasem (daerah di Kabupaten Rembang), ada imam sepuh (tua renta) sedang berjalan ke tempat pengimaman (mihrab masjid). Lalu ada orang di belakang ngomong, “Waduh kok mbah iku, suwi iki!” Ojo-ojo Gus! Pindah-pindah!” (Waduh, kok Mbah itu, lama ini. Jangan Gus! Pindah-pindah!)

Saya sampai sekarang tidak pernah mengimami shalat Tarawih. Masalahnya saya tidak siap tanggung jawab. Jadi makmum saja.

Menurut saya, kalau Tarawih terlalu lama juga keberatan. Tapi, mudah-mudahan diterima Allah.

Saya ingin melatih kalian berpikir logika Nabi. Harus latihan. Di dunia ini cuma mampir minum. Kita semua sebentar lagi meninggal. Soalnya umur rata-rata itu 60-70 tahun. Setelah itu meninggal.

Ketika kita meninggal, yang kita kenang di dunia hanya sujud, karena itu perintahnya Allah, wasjud waqtarib.

Kita ini di dunia, disuruh sujud. Bukan disuruh untuk kaya, punya jabatan, tapi disuruh sujud. Meskipun kamu tidak apa-apa jika punya jabatan dan uang, tapi perintah Allah itu untuk bersujud. Dan kita sujud!

Itulah cara logika Nabi!

Nabi itu kalau shalat itu nyaman sekali. Saking nyamannya, kalau baca sampai 200 ayat.

“Berani kalian makmum sama Nabi?”

Ada sahabat yang coba menghitung  lamanya shalat Nabi. Nabi itu shalat sedang takbir, ia berkata, “Aku pernah mencoba hitung, aku tinggal pulang, menyembelih kambing, aku kuliti, masak lalu makan. Lalu saat kembali lagi, Nabi masih di rakaat pertama.”

Coba! Dulu kan belum ada jam. Cara menghitungnya seperti itu. Berani kamu?”

Makanya kalau Nabi tahu Tarawih model Wonokromo, Jejeran. Padahal Wonokromo sudah bagus, sudah standar.

Apalagi kalau melihat Tarawih Blitar. Tarawih di Blitar berapa? Tujuh (7) menit malah.

Itu gimana?

Itu umatnya Nabi Sulaiman bukan umatnya Nabi Muhammad. Pengikutnya Ashif bin Barkhiya (yang membawa istana Bilqis).

Model kilat! Nek kulo mboten cocok, karepe piye kiaine! (Model kilat! Kalau saya tidak cocok, maksudnya bagaimana kiainya!)

Tujuh menit bagi dua puluh rakaat, berapa?

“Satu menit, tiga rakaat.”

Kalau satu menit dapat tiga rakaat, lalu Fatihah-nya itu berapa huruf?!

“Terlalu…!!”

Makmum sama Nabi lho seru! Dua ratus ayat!

Nabi ya enjoy, asyik. Makmum juga asyik. Sama pahamnya, sama sholehnya. Setelah shalat, bahagia semua. Hal ini karena ketenangan jiwa ada dalam shalat.

Tapi ini nyata. Andaikan kalian, sudahlah nggak perlu sesh0leh Nabi. Terlalu tinggi!

Misalnya kalian nyaman saat shalat seperti Sayyid Ali Zainal Abidin. Beliau dalam sehari bisa shalat sampai 1000 rakaat.

Ketika ditanya, “Kenapa engkau bisa shalat sampai 1000 rakaat?”

Beliau (Sayyid Ali Zainal Abidin) menjawab, “Sebenarnya aku ini cuma ingin shalat dua rakaat aja.” Setelah selesai shalat, ia berkata, “Ya Allah, terima kasih telah memberiku kesempatan shalat ketika orang lain dalam kesesatan, ketika orang lain menikmati kebatilan. Engkau menakdirkanku menikmati kesalehan, yaitu sujud kepada-Mu. Saya bersyukur Ya Allah.”

Kemudian takbir lagi, shalat dua rakaat. Syukur lagi, lalu shalat lagi.

“Terima kasih Ya Allah. Orang lain ribet dengan urusan duniawi, kebatilan, namun Engkau menakdirkanku shalat.”

Syukur, shalat lagi. Gitu, seterusnya.

Saya pernah nyoba, Cuma kuat sampai 100 rakaat. Lumayanlah, pernah nyoba. Daripada kalian tidak pernah!

Maksudnya, saya pernah shalat sampai 100 rakaat tanpa rencana. Tidak terencana, awalnya shalat dua rakaat, kemudian masih kangen Allah, saya tambahi.

Kangen lagi, saya tambahi. Itu bukan karena ingin keren, tidak! Mengalir aja. Sehingga kalau nyoba lagi belum tentu bisa. Harus memang cinta sekali sama Allah. 

Wallohua'lam

(sanhaji)