Jumat, 12 Oktober 2018

SUAMI MENGUCAPKAN KATA “CERAI”

SUAMI MENGUCAPKAN KATA “CERAI”

 

Dalam masa pernikahan selama 5 tahun dengan suami, saya dikarunia dua orang anak berumur 4 tahun dan 2 tahun. Selama pernikahan tersebut seringkali terjadi  pertengkaran antara saya dan suami dari hal-hal yang sepele sampai hal-hal yang prinsip. Apabila bertengkar suami seringkali mengucapakan kata-kata cerai. Menurut teman saya jika sudah terucap kata cerai berarti sudah jatuh talak suami kepada saya, bagaimana menurut hukum? Terimakasih. Nita-Jakarta

Jawab :
Ibu, perkawinan merupakan ikatan suci tidak hanya antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga dengan Tuhan. Karenanya, perceraian menjadi hal yang diijinkan namun sangat dibenci oleh Tuhan. Sejauh yang saya ketahui, ada beberapa macam lafazh yang digunakan oleh seorang laki-laki dalam menceraikan isterinya:

1. Lafazh yang secara tegas mengandung pengertian thalak (cerai), seperti dengan mengatakan: “Aku thalak (cerai) kamu” atau “Kamu aku thalak”.

2. Bila lafazh yang digunakan adalah lafazh yang dikaitkan dengan satu syarat (perbuatan atau kondisi tertentu), seperti dengan mengatakan: “Aku thalak (cerai) kamu bila kamu melakukan perbuatan….atau mengucapkan perkataan….” Lafazh seperti ini sangat tergantung kepada niat orang yang mengucapkannya. Bila dia benar-benar bermaksud menceraikan isterinya bila sang isteri melakukan perbuatan atau mengucapkan perkataan yang disyaratkan itu, maka thalak akan jatuh bila perbuatan tersebut dilakukan atau bila perkataan tersebut diucapkan. Tetapi bila suami hanya bermaksud mengancam atau menakut-nakuti isterinya, maka thalak tidak jatuh meskipun perbuatan tersebut dilakukan atau perkataan tersebut diucapkan. Dalam hal ini, suami hanya dikenai kewajiban membayar kaffarah (denda) sumpah, yaitu dengan memberi makan 10 orang miskin atau berpuasa selama tiga hari.

3.Tetapi bila lafazh yang digunakan adalah lafazh yang mengandung unsur kinayah (kiasan) atau lafazh yang multitafsir, seperti dengan mengatakan: “Pulanglah kamu ke rumah orangtuamu!”, maka lafazh tersebut membutuhkan adanya niat. Jadi, kalau tidak ada niat dari suami untuk menceraikan isterinya, maka tidak jatuh thalak.

Dan bagi muslim yang berniat untuk bercerai, maka ia harus menempuh terlebih dahulu langkah-langkah sbb : (1) shalat istikharah; (2) pisah tempat tidur; dan (3) telah mendatangkan penengah (hakim) dari masing-masing pihak. Jika telah ditempuh yang demikian,dan berketetapan hati untuk bercerai, maka suami dapat melakukan ikrar talak, dengan cara mengajukan permohonan ijin ke pengadilan agama, dan hakim akan menentukan apakah mengijinkan penjatuhan talak/tidak.

Demikianhalnya, untuk yang menyelesaikan perceraian secara agama terlebih dahulu atau perkawinan yang tidak dicatatkan, langkah-langkah tersebut tetap harus ditempuh. Dan penjatuhan talak tidaklah dapat dilakukan secara semena-mena, misalkan melalui telpon atau sms. Tetap ada adab/etika, seperti diawali dengan istighfar, dihadiri para pihak (isteri/walinya) dan disaksikan saksi. Mengapa ? karena bagaimanapun perceraian membawa akibat pada hak dan kewajiban suami. Suami yang menceraikan isterinya berkewajiban untuk memberikan mutah, biaya hadhanah dan biaya iddah. Dan jikapun telah jatuh talak, ada masa iddah dimana suami masih memiliki kewajiban untuk melindungi isteri, sekaligus memberikan waktu pada keduanya untuk meninjau ulang putusan yang diambil. Karenanya, rujuk pada masa iddah untuk talak 1 dan 2, tidak memerlukan ijab kabul kembali. Dari uraian diatas, penjatuhan talak tidak semudah seperti kita mengucapkannya.

Lantas, bagaimana jika suami dalam setiap pertengkaran sering mengucap kata ‘talak”, “cerai”, “pisah”, atau “pulang sana !” . Perkataan “talak” yang dilakukan oleh suami tidaklah sah baik dalam hukum agama maupun negara. Memang dalam kultur kita, terdapat asumsi bahwa jika suami menyatakan “talak”, “cerai” dan atau “kata-kata” yang dapat dipersamakan dengan cerai, maka telah terjadi perceraian. Sejauh yang saya baca, seluruh ulama bersepakat bahwa kata talak yang diucapkan dalam keadaan emosi tidaklah berlaku, karena keputusan didasari pada ketidaksadaran apa dan dampak dari ucapannya. Sedangkan secara hukum, “talak” baru sah apabila diucapkan di depan persidangan.

Terkait dengan permasalahan yang ibu hadapi, penjatuhan talak yang diucapkan suami ibu tidak melalui proses pengambilan keputusan yang dianjurkan Islam, dan diucapkan dalam keadaan emosi. Sehingga tidak terjadi perceraian baik dalam pengertian agama, maupun hukum. Namun untuk memberikan kenyamanan pada anda berdua, sebaiknya memperbaharui perkawinan dengan kembali mengucapkan syahadat, khususnya ketika ibu akan melakukan hubungan suami isteri. Selanjutnya ajak bicara dan

Mintalah pada suami untuk  tidak mengeluarkan kata-kata ‘cerai’ karena setiap ucapan adalah doa.

WALLOHU 'ALAM BISHOWAB


Rabu, 10 Oktober 2018

Ini Lima Motivasi Orang Membuat Hadits Palsu (Hadits Maudhu)


Ini Lima Motivasi Orang Membuat Hadits Palsu (Hadits Maudhu).

Hadits berarti setiap informasi yang disandarkan kepada Nabi SAW. Informasi tersebut adakalanya benar. Tidak sedikit informasi itu bohong. Informasi yang benar disebut hadits shahih. Sementara informasi bohong disebut hadits palsu. Sebab itu, Mahmud Thahan dalam Taysiru Musthalahil Haditsmendefinisikan hadits palsu (maudhu’) dengan kalimat berikut ini:

هو الكذب المختلق المصنوع المنسوب إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم

Artinya, “Hadits maudhu’ adalah perkataan bohong dan mengada-ada yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW.”

Mayoritas ulama sepakat meriwayatkan hadits maudhu’, apalagi berkata bohong atas nama Nabi Muhammad, adalah dilarang. Rasulullah SAW berkata:

من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار

Artinya, “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka kelak posisinya di neraka,” (HR Ibnu Majah).

Tidak hanya pemalsu hadits yang diancam oleh Rasulullah, orang yang menyebarkan hadits palsu pun juga diancam oleh Rasulullah. Rasulullah bersabda:

من حدث عني بحديث يرى أنه كاذب فهو أحد الكاذبين

Artinya, “Siapa yang menyampaikan informasi tentangku padahal ia mengetahui informasi itu bohong, maka ia termasuk pembohong,” (HR Muslim).

Berdasarkan hadits itu, para ulama memahami bahwa meriwayatkan hadits maudhu’ tidak boleh, begitu pula menyampaikan dan menyebarkan hadits maudhu’. Dibolehkan menyampaikannya dengan syarat untuk memberi tahu kepada khalayak kalau hadits tersebut bukanlah hadits shahih, tetapi hadits maudhu’.

Dalam Taysiru Musthalahil Hadits, Mahmud Thahan memerinci ada lima hal yang mendorong orang untuk memalsukan hadits:

Pertama, untuk mendekatkan diri kepada Allah. Maksudnya, pemalsu hadits membuat hadits dan mengatasnamakan Rasulullah agar orang lain termotivasi untuk beribadah. Memang niatnya bagus, tetapi caranya tidak benar.

Salah satu pemalsu hadits yang melakukan cara ini adalah Maysarah bin Abdu Rabbihi. Ibnu Mahdi, sebagaimana diriwayatkan Ibnu Hibban, pernah bertanya kepada Maysarah:

من أين جئت بهذه الأحاديث، من قرأ كذا فله كذا؟ قال وضعتها أرغب الناس

Artinya, “’Dari mana kamu mendapatkan hadits ini, orang yang membaca ini mendapatkan ganjaran ini?’ Maysarah menjawab, ‘Saya memalsukannya supaya orang-orang termotivasi.’”

Kedua, untuk merusak Islam dari dalam. Sebagian musuh Islam membuat hadits palsu agar umat Islam terpecah belah dan salah memahami agamanya. Di antara orang yang pernah melakukan ini adalah Muhammad bin Sa’id As-Syami.

Ketiga, untuk mendekati penguasa. Sebagian pemalsu hadits membuat hadits palsu yang berkaitan dengan penguasa. Tujuannya untuk memuji dan mendekati penguasa. Misalnya, kisah Ghiyats bin Ibrahim An-Nakha’i yang memalsukan hadits supaya bisa dekat dengan Amirul Mukminin Al-Mahdi.

Keempat, untuk mencari rejeki. Biasanya hal ini dilakoni oleh orang-orang yang berprofesi sebagai pecerita atau pendongeng. Melalui cerita-cerita itu ia mendapatkan uang dari pendengarnya. Untuk menarik pendengar, sebagian mereka memalsukan hadits. Di antara yang melakukan ini adalah Abu Sa’id Al-Mada’ini.

Kelima, untuk mencari popularitas. Supaya orang yang meriwayatkan hadits ini semakin populer dan dikenal banyak orang, mereka membuat hadits yang tidak pernah diriwayatkan oleh orang lain. Melalui hadits palsu itu mereka semakin dikenal karena tidak ada yang meriwayatkan selain dia. Di antara yang memalsukan hadits demi popularitas adalah Ibnu Abi Dahiyyah. 

Wallahu a’lam.

Rabu, 03 Oktober 2018

Dizaman Penuh Hoax, Kalau yang Waras Ngalah, yang Goblok akan Merasa Benar

Dizaman Penuh Hoax, Kalau yang Waras Ngalah, yang Goblok akan Merasa Benar
 

Memilih untuk bersuara di panggung politik Indonesia adalah pilihan berdasarkan panggilan hati bagi yang waras. Melihat ribet dan komplikasinya persoalan Indonesia, serta maraknya hoax yang beredar di media sosial, terkadang banyak dari kita lebih memilih diam dengan jargon: Yang waras mengalah. Hilangkan sikap itu untuk memperbaiki apa yang sudah terlanjur runyam karena banyaknya orang goblok lebih bersuara sementara yang waras memilih diam.

Yang waras bukan waktunya mengalah

Lihatlah di media sosial, beragam pendapat berseliweran ke sana ke mari tak tentu arah dan seolah kebenaran sulit kita temukan. Setiap orang mengutarakan pendapat dan kebenarannya masing-masing. Bahkan hoax pun kelihatan seolah fakta ketika Tengku Zulkarnain pun ikut mempostingnya di Twitternya. Bayangkan jika tidak ada yang membantahnya, apa jadinya?

Entah sengaja atau tidak, mereka, yang kita anggap bijak selama ini, bisa kelihatan seperti orang paling goblok, ketika lebih banyak yang kontra daripada yang pro. Padahal kalau Anda mau mencoba memahami postingannya, justru sangat rasional dan kontekstual. Tetapi karena lebih banyak yang kontra, seolah postingan itu suatu yang salah.

Bukan hanya di media sosial, lihatlah politikus ketika berbicara di acara-acara. Cukup mengencangkan urat saraf dan urat malu, yang lain mengangguk-angguk mengiyakan, sekalipun pendapat itu tidak masuk akal. Lain lagi dengan pernyataan yang kelihatan masuk akal dan sangat meyakinkan padahal tanpa bukti yang nyata, semua hanya berdasarkan asumsi belaka.

Kalau yang waras (masuk akal dan berdasarkan bukti-bukti valid dan otentik) diam, mereka akan dianggap benar. Ini sangat berbahaya bagi perkembangan bangsa ini di era digital. Sengotot-ngototnya orang goblok berpendapat, yang waras harus lebih ngotot dengan argumen-argumen masuk akal dan mencerdaskan serta mewaraskan. Memang sangat dibutuhkan kesabaran.

Yang waras akan mampu mengolah emosi dan menjaga rasionalitas argumennya, sementara yang goblok akan merambah ke mana-mana dengan argumen asal dimuntahkan dari otaknya. Yang waras tetap menjaga etika berargumen dan sistematika pemikiran, sementara yang goblok akan mengeluarkan umpatan tidak mengenakkan dan yang paling buruk sekaligus.

Targetnya adalah mereka membaca argumen kita. Soal mereka menerima atau tidak, itu urusan mereka. Tetapi percayalah, ketika suatu saat mereka menghadapi kenyataan berhubungan dengan yang kita nyatakan, mereka akan mangut-mangut seperti orang tolol dan goblok, dan semoga menyesal.

Contoh: Isu Rohingya

Bagi mereka yang punya agenda tersendiri, tragedi Rohingya akan dikatakan sebagai pembantaian umat Islam di Myanmar, sehingga ketika pemerintah tidak cepat bertindak, maka tuduhan anti-Islam kepada Jokowi pun akan semakin gencar. Padahal kenyataannya, baik Islam maupun Budha, etnis Rohingya diusir dari rumah mereka. Pada kenyataannya, tragedi Rohingya murni soal pembersihan etnis, bukan persoalan agama.

Nah kalau ini kita biarkan, maka mereka yang sangat doyan dengan isu agama akan menggorengnya menjadi masalah agama. Muncullah rencana ‘aksi Borobudur’, karena Myanmar mayoritas Budha, dengan demikian Borobudur sebagai tempat suci orang Budha harus di demo. Kalau dibiarkan, di negeri ini akan terjadi pembasmian dan pengusiran umat Budha dengan tujuan menciptakan kekacauan dan pertikaian. Jika kekacauan dan pertikaian antar agama terjadi, maka perhatian pemerintah akan terbagi antara mengatasi kekacauan dan melanjutkan pembangunan.

Padahal, apa hubungan Rohingya dengan Borobudur? Borobudur, selain tempat ibadah, adalah tempat wisata. Hanya orang goblok yang mau merusak pendapatan negaranya sendiri, sebab jika ada demo di sana, siapa yang mau datang berwisata. Iya kalau Borobudurnya baik-baik saja, kalau dirusak seperti ISIS menghancurkan tempat-tempat bersejarah di Timur Tengah, kan rugi besar Indonesia.

Siapa yang akan diuntungkan? Partai politik oposisi, yang berada di luar pemerintahan. Alasannya jelas, agar pemerintah dan partai pendukungnya dianggap tidak mampu mengelola toleransi di Indonesia. Pemerintahan Jokowi lemah. Selain itu, ormas-ormas radikal pun akan menggoreng isu ini. Kalau pemerintah melindungi non-Islam, mereka akan sebut pemerintah anti-Islam. Kalau pemerintah melindungi Islam, dunia akan menyalahkan Jokowi karena tidak mampu menjaga toleransi di Indonesia serta menindas minoritas. Jokowi akan maju nabrak, mundur pun masuk jurang, ke kiri neraka kanan pun kuburan.

Kita tidak mau, hal seperti ini terjadi. Apakah dengan seperti itu kita membela pemerintah? Bukan, kita berjuang untuk Indonesia bersama dengan pemerintah. Yang waras bukan lawan pemerintah pun bukan alat pemerintah. Ketika saatnya tiba, kita juga akan menguliti pemerintah yang memang tidak mampu mengelola negara ini dengan baik. Pemerintah tidak sempurna pun belum mampu menyejahterakan rakyat sepenuhnya, tetapi kalau ditambah harus mengurusi hal-hal yang seharusnya tidak perlu, bagaimana mau fokus pada kemajuan bangsa?

Contoh lain, isu PKI

Saya 1000% setuju bahwa paham komunis tidak bisa lagi ada di Indonesia. Tidak ada tawar menawar soal itu. Kalau PKI bangkit lagi, seperti kata Jokowi, sekarang juga kita gebuk. Tetapi kalau faktanya PKI tidak ada tanda-tanda bangkit, kenapa diisukan kebangkitan PKI. Jangankan mau membangkitkan PKI, mendengar kata PKI pun sebagian besar anak bangsa ini sudah tidak tertarik. Lebih tertarik membahas: kenapa Raisa diambil asing?

Tetapi kita tidak bisa anggap remeh isu PKI ini. Bukan kebangkitan PKI-nya yang harus kita perhatikan, karena sudah ada UU yang menjegalnya, tetapi untuk apa isu PKI ini didengungkan kembali. Karena ini sangat berbahaya. Kita tahu semua bahwa Jokowi dituduh keturunan PKI pada Pilpres 2014 lalu, siapa yang berseberangan dengan mereka dituduh PKI, pokoknya alat untuk menyingkirkan lawan, siapa pun itu, cukup dituduh PKI, maka selesai.

Selesai, karena PKI-fobia sudah dipatri dalam-dalam di benak kita selama kira-kira 32 tahun masa pemerintahan Orde Baru. Maka ketika dituduh PKI, manusia Indonesia, sekalipun tidak percaya 100%, tetap mengantisipasi dengan cara mereka sendiri, mungkin menghindari, menjauh dan bahkan memusuhi. Terbukti isu ‘Jokowi adalah PKI’ sangat ampuh mendongkrak suara Prabowo pada pemilihan presiden tahun 2014.

Sudah terbukti pula bahwa ada pihak-pihak yang menggunakan jasa Saracen untuk menyebarkan ujaran kebencian, fitnah kejam dan isu-isu mematikan lainnya. Kalau tidak dilawan, mereka akan semakin merajalela bagai kuda mau kawin.

Yang waras tidak boleh kalah pada yang goblok

Anda mungkin akan dicaci maki, dihina dengan kalimat umpatan paling kotor dan kejam, dan dituduh ini-itu. Mungkin juga akan diperlakukan seperti orang bodoh karena dikeroyok rame-rame. Tetapi kalau Anda tetap waras dan sabar, Anda akan menang. Mereka akan diam dengan sendirinya. Sebaliknya, mereka akan merasa menang dan benar, jika Anda diam dan mengalah. Bukan yang goblok yang kelihatan goblok, melainkan yang waras yang kelihatan goblok.

Semua ini kita lakukan bukan semata-mata demi membela Bangsa. Lakukanlah ini demi bangsa dan negara. Lakukanlah ini demi anak-cucu Anda agar mereka tidak dipimpin dan dibina orang-orang goblok yang merasa waras. Kalau pun itu terlalu tinggi, lakukanlah ini demi mempertahankan kewarasan Anda sendiri.

Salam dari rakyat jelata

Selasa, 02 Oktober 2018

Ini Doa Qunut Nazilah


Ini Doa Qunut Nazilah

Berikut ini merupakan lafal doa qunut nazilah. Qunut nazilah pernah diamalkan oleh Rasulullah SAW selama sebulan ketika kehilangan para sahabatnya di Bi’r Mu‘anah. Qunut nazilah ini dibaca sebelum sujud pada rakaat terakhir di setiap shalat wajib yang lima waktu.

Qunut nazilah diamalkan ketika umat Islam menghadapi persoalan keamanan, pertanian, bencana alam, bencana kemanusiaan, dan lain sebagainya. Selain doa qunut subuh, pada qunut nazilah ini ada baiknya kita menambahkannya dengan doa qunut yang dibaca oleh Sayyidina Umar dan Ibnu Umar RA. Berikut ini doanya.

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْتَعِينُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنَسْتَهْدِيكَ وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ وَنُثْنِي عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ نَشْكُرَكَ وَلَا نَكْفُرُكَ وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ اللَّهُمَّ إيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَك نُصَلِّي وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ نَرْجُو رَحْمَتَك وَنَخْشَى عَذَابَكَ إنَّ عَذَابَك الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحَقٌ

Allâhumma innâ nasta‘înuka wa nastaghfiruk, wa nastahdîka wa nu’minu bik wa natawakkalu alaik, wa nutsnî alaikal khaira kullahu nasykuruka wa lâ nakfuruk, wa nakhla‘u wa natruku man yafjuruk. Allâhumma iyyâka na‘budu, wa laka nushallî wa nasjud, wa ilaika nas‘â wa nahfid, narjû rahmataka wa nakhsyâ adzâbak, inna adzâbakal jidda bil kuffâri mulhaq.

Artinya, “Tuhan kami, kami memohon bantuan-Mu, meminta ampunan-Mu, mengharap petunjuk-Mu, beriman kepada-Mu, bertawakkal kepada-Mu, memuji-Mu, bersyukur dan tidak mengingkari atas semua kebaikan-Mu, dan kami menarik diri serta meninggalkan mereka yang mendurhakai-Mu. Tuhan kami, hanya Kau yang kami sembah, hanya kepada-Mu kami hadapkan shalat ini dan bersujud, hanya kepada-Mu kami berjalan dan berlari. Kami mengaharapkan rahmat-Mu. Kami takut pada siksa-Mu karena siksa-Mu yang keras itu akan menimpa orang-orang kafir.”

اللَّهُمَّ عَذِّبْ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِينَ أَعْدَاءَ الدِّينِ الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِك وَيُكَذِّبُونَ رُسُلَك وَيُقَاتِلُونَ أَوْلِيَاءَك اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إنَّك قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَاجْعَلْ فِي قُلُوبِهِمْ الْإِيمَانَ وَالْحِكْمَةَ وَثَبِّتْهُمْ عَلَى مِلَّةِ نَبِيِّك وَرَسُولِك وَأَوْزِعْهُمْ أَنْ يُوفُوا بِعَهْدِك الَّذِي عَاهَدْتهمْ عَلَيْهِ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ وَعَدُوِّك إلَهَ الْحَقِّ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Allâhumma adzzibil kafarata wal musyrikîn, a‘dâ’ad dînilladzîna yashuddûna ‘an sabîlik, wa yukadzzibûna rusulaka wa yuqâtilûna auliyâ’ak. Allâhummaghfir lil mu’minîna wal mu’minât, wal muslimîna wal muslimât, al-ahyâ’i minhum wal amwât, innaka qarîbun mujîbud da‘awât. Allâhumma ashlih dzâta bainihim, wa allif baina qulûbihim, waj‘al fî qulûbihimul îmâna wal hikmah, wa tsabbithum alâ dînika wa rasûlik, wa auzi‘hum an yûfû bi‘ahdikalladzî ‘âhadtahum alaih, wanshurhum ala ‘aduwwihim wa ‘aduwwika ilâhal haq, waj‘alnâ minhum, wa shallallâhu alâ sayyidinâ muhammadin wa alâ âlihi wa shahbihî wa sallam.

Artinya, “Tuhan kami, jatuhkan azab-Mu kepada orang-orang kafir dan musyrik, (mereka) musuh-musuh agama yang berupaya menghalangi orang lain dari jalan-Mu, mereka yang mendustakan rasul-Mu, dan mereka yang memusuhi kekasih-kekasih-Mu. Ya Allah, ampunilah hamba-hamba-Mu yang beriman laki-laki dan perempuan, kaum muslimin dan muslimat, baik yang hidup maupun yang sudah wafat. Sungguh, Engkau maha dekat dan pendengar segala munajat. Tuhanku, damaikan pertikaian di antara kaum muslimin, bulatkan hati mereka, masukkan kekuatan iman dan hikmah di qalbu mereka, tetapkan mereka di jalan nabi dan rasul-Mu, ilhami mereka untuk memenuhi perjanjian yang telah Kauikat dengan mereka, bantulah mereka mengatasi musuh mereka dan seteru-Mu. Wahai Tuhan hak, masukkanlah kami ke dalam golongan mereka itu. Semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya.”

Doa ini disarikan dari Hasyiyatul Baijuri karya Syekh Ibrahim Al-Baijuri, tanpa keterangan tahun, Beirut, Darul Fikr, juz I, halaman 169). 

Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Makin Dekat Kiamat, Makin Sering Gempa


Makin Dekat Kiamat, Makin Sering Gempa

Makin Dekat Kiamat, Makin Sering Gempa

Jumat  (29/09/2018) Menjelang Magrib, gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter  mengguncang disertai tsunami serta satu kampung amblas ditelan bumi (likuifaksi), kawasan Petobo  kota Palu dan Donggala, Sulawesi tengah

Makin seringnya gempa mengingatkan kita pada hadits Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang tanda-tanda kiamat. Salah satunya adalah semakin banyak gempa bumi.

Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَكْثُرَ الزَّلاَزِلُ

“Tidak akan tiba hari Kiamat hingga banyak terjadi gempa bumi” (HR. Al Bukhari)

Fenomena semakin seringnya terjadi gempa menunjukkan bahwa kiamat semakin dekat. Meskipun dekatnya kiamat tidak dapat dipastikan berapa lama lagi. Fenomena ini juga merupakan bukti kebenaran hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Yang jauh lebih penting dari itu, adalah bagaimana persiapan kita menghadapi kematian. Sebuah kiamat sughra yang pasti menghampiri setiap orang. Ada yang mati lantaran sakit, ada yang mati lantaran kecelakaan, ada juga yang mati lantaran gempa bumi. Yang pasti, kalaupun kita tidak bertemu dengan kiamat kubra, kita pasti bertemu dengan kiamat sughra.

Suatu ketika, ada sahabat yang bertanya kepada Rasulullah tentang kapan datangnya hari kiamat. Beliau justru bertanya balik. “Apa bekalmu untuk menghadapinya?” Beruntung, sahabat ini ternyata memiliki bekal yang luar biasa berupa cinta kepada Allah dan RasulNya sehingga beliaupun mensabdakan bahwa sahabat tersebut akan berkumpul dengan orang yang ia cintai.

Sungguh beruntung orang-orang yang concernmenyiapkan bekal untuk menghadapi kiamat. Dan sekali lagi, kematian adalah kiamat personal bagi tiap orang. Oleh Rasulullah, orang yang paling baik bekalnya menghadapi kematian, menghadapi kiamat, dialah mukmin yang paling cerdas.

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لَهُ اِسْتِعْدَادًا قَبْلَ أَنْ يَنْزِلَ بِهِمْ أُوْلَئِكَ مِنْ اْلأَكْيَاسِ

“Mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya untuk menghadapi kematian itu sebelum turun kepada mereka. Mereka itulah yang termasuk Mukmin yang paling cerdas” (HR. Ibnu Majah, Hakim, Baihaqi, dan Thabrani)

Gempa-gempa ini juga mengingatkan kita bahwa kematian demikian dekat dan bisa datang kepada kita kapan saja. Ia juga sepatutnya mengikis habis kesombongan kita. Karena bangunan setinggi dan sekokoh apapun, bisa luluh lantak oleh guncangan gempa. Jika Allah menghendakinya.

[SANHAJI]


MENJELANG HAMPIR KIAMAT TANDA NYA

RENUNGAN BUAT KITA SEMUA

MENJELANG HAMPIR KIAMAT TANDA NYA

Di sebutkan oleh Baginda Rasulullah SAW..
Diantara nya ;
- Sering nanti terjadi gempa 
- Waktu terasa cepat berputar :
           Setahun serasa sebulan
           Sebulan rasa seminggu
           Seminggu rasa sehari dan sehari rasa satu jam
-  Banyak kaum wanita ikut berdagang di pasar
- Ilmu sudah mulai di cabut 
- banyak ulama yang 
   wafat
- Orang kaya semakin kaya..orang miskin tetap miskin
- Alat musik lebih di senangi di masyarakat
  - Berlomba membangun gedung bertingkat  ( yang dahulu hutan, sekarang menjadi komplek perumahan..di Arab sana berlomba membangun gedung pencakar langit..dulu nya jualan kambing dan berkebun korma )

Banyak lagi tanda kiamat kecil yang sudah kita lihat dan rasakan saat ini

Kita tinggal menunggu akan terjadi kemarau panjang selama 3 tahun..kemudian akan ada jatuh nya meteor besar dari langit../ Astroid yang konon akan menyebabkan kabut asap tebal ..dan tsunami paling besar dalam sejarah dunia sejak Nabi Adam..
Kabut tebal sampai ke atas langit selama 40 hari.. yang membikin kulit orang kafir menjadi meleleh dan orang Muslim seperti orang demam dan batuk. 
Kabut gelap tak bisa melihat dari jarak 1 cintimeter.. Itulah asap Dukhon.. yang  mengakibatkan..membuat tekhnologi hancur. punah..
Kita akan kembali ke jaman seperti seribu tahun yang lalu..Tidak ada listrik dan suara mesin lagi..tidak ada pesawat..tidak ada mobil kendaraan.. tidak ada handphone..Kemana mana jalan kaki atau naik kuda
Dan peperangan di seluruh muka bumi ini..
Kemudian baru Di utus..muncul Imam Mahdi yang ditunggu dan dijanjikan oleh Baginda Rasulullah SAW
.Dunia menjadi makmur dalam Khilafah Islam di bawah pimpinan Imam Mahdi..
.Setelah itu.Baru Kemudian Muncul Dajjal.. dan di bunuh oleh Nabi Isa Alaihis Saalam..lalu ada Yajuj Majuj akan keluar dari dalam gunung di daerah arab..dan Dhabatul ardhi dan kemudian Matahari akan terbit di sebelah barat setelah semua ummat Islam diwafatkan Allah SWT..tinggal di bumi hanya orang kafir saja..yang akan menyaksikan Hari Kiamat..bumi dan semesta di hancur Nya.

Ada riwayat yang mengatakan:

Bahwa umur umat Nabi Muhammad tidak sampai 1500 tahun.. Sekarang sudah 1439..?

Mudahan kita selamat hidup di dunia yang sebentar ini.. Menuju Hari Akhirat yang kekal abadi..

Aamiin Yaa Robbal'aalamiin Yaa Mujiibassaailiin birokhmatika Yaa Arkhamarrookhimiin....



Senin, 01 Oktober 2018

Rasulullah Tidak Ajarkan Dakwah Berisi Caci Maki

Rasulullah Tidak Ajarkan Dakwah Berisi Caci Maki

Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) menegaskan bahwa Rasulullah tidak pernah mengajarkan cara-cara dakwah yang berisi caci maki dan angkuh dalam menyampaikan pesan-pesan dakwahnya.

"Caci maki, mencela, angkuh itu bukan cara dakwah Rasulullah," kata Ustadz Muhammadiyah Imaduddin kepada NU Online di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (1/10).

Sebaliknya, Rasulullah dalam berdakwah itu dengan hikmah atau keteladanan, nasihat atau pelajaran yang baik, dan menyampaikan kebenaran tanpa menyinggung sasaran dakwah. Hal tersebut sebagaimana disebutkan Al-Qur'an dalam surat An-Nahl ayat 125. Dalam interaksi, Rasulullah juga memakai kata-kata yang lembut.

"Makanya Rasulullah menjadi teladan sebagaimana disebutkan Al-Qur'an, Laqad kana lakum fi Rasulillahi uswatun hasanah," ucapnya.

Cara dakwah Rasulullah tersebut diteruskan oleh Wali Songo dalam mengislamkan masyarakat Nusantara. Wali Songo tidak menghilangkan bentuk tradisi lokal yang masih dipengaruhi kebudayaan Hindu-Budha. Mereka mempertahankan dan hanya memasukkan nilai-nilai Islam. Wali Songo berbaur dengan masyarakat dan memandangnya dengan pandangan kasih sayang.

"Walisongo mensinergikan antara Islam dan tradisi lokal. Itulah apa yang disebutkan dengan Islam Nusantara," jelasnya. 

Ia mengatakan, dakwah yang bermuatan caci maki dan menonjolkan keangkuhan tidak akan berhasil dalam menyasar sasaran dakwahnya, bahkan hal itu menimbulkan benih-benih radikalisme yang pada akhirnya merusak tatanan sosial.

"Dalam sejarah tidak ada dakwah yang sukses, yang berisi caci maki dan angkuh," ucapnya.